Amerika Tinjauan dari Dalam, 21 Agustus 2021
https://parstoday.ir/id/news/world-i103346-amerika_tinjauan_dari_dalam_21_agustus_2021
Dinamika di Amerika Serikat selama sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting seperti pengakuan Presiden Biden bahwa AS Lakukan Kesalahan di Afghanistan Dua Dekade.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Aug 21, 2021 17:20 Asia/Jakarta
  • Presiden AS Joe Biden
    Presiden AS Joe Biden

Dinamika di Amerika Serikat selama sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting seperti pengakuan Presiden Biden bahwa AS Lakukan Kesalahan di Afghanistan Dua Dekade.

Selain itu, masih ada isu lainnya seperti AS Anggap Pemimpin Afghanistan tidak Punya Tekad Lawan Taliban, Afghanistan Kacau, Biden Diminta Pecat Penasihat Keamanan Nasional AS, AS Blokir Akses Taliban ke Aset Bank Sentral Afghanistan, Jubir Kemlu AS: Sanksi, Opsi Tekan Taliban di Tangan Kami ! Diplomat AS sudah peringatkan potensi pengambilalihan oleh Taliban

Biden: AS Lakukan Kesalahan di Afghanistan Dua Dekade

Presiden AS, Joe Biden mengakui negaranya melakukan banyak kesalahan selama dua dekade di Afghanistan.

Presiden AS, Joe Biden dalam pidato di Gedung Putih menanggapi jatuhnya Afghanistan ke tangan Taliban hari Senin (16/8/2021) dengan mengatakan, "Kita harus jujur untuk mengakui AS melakukan banyak kesalahan selama ini di Afghanistan,".

Presiden AS Joe Biden

"Saya tidak ingin menyesatkan rakyat Amerika dengan mengklaim bahwa tinggal sedikit lebih lama di Afghanistan akan mengubah segalanya. Saya juga tidak akan menghindar dari tanggung jawab mengenai posisi kita berada hari ini dan bagaimana kita harus bergerak maju," ujar Biden.

"Saya adalah Presiden Amerika Serikat dan saya menerima semua tanggung jawab ini, saya sangat sedih dengan fakta yang kita hadapi sekarang, tetapi saya tidak menyesali keputusan saya untuk mengakhiri perang Amerika di Afghanistan," tegasnya.

Milisi Taliban memasuki Kabul pada hari Minggu (15/8/2021) dan Presiden Afghanistan Mohammad Ashraf Ghani meninggalkan negaranya ke luar negeri.

AS Anggap Pemimpin Afghanistan tidak Punya Tekad Lawan Taliban

Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) mengkritik kinerja para pemimpin pemerintah Afghanistan dan menyatakan bahwa pemimpin politik dan militer tidak punya tekad untuk menghentikan kemajuan Taliban dan ini mengkhawatirkan.

Juru bicara Pentagon, John Kirby mengatakan kepada CNN, Sabtu (14/8/2021) bahwa pemimpin dan pasukan keamanan Afghanistan tidak punya kesiapan tempur yang diperlukan untuk melawan milisi.

Namun, ia tidak menyinggung penarikan yang tidak bertanggung jawab yang dilakukan AS dari Afghanistan dan isi kesepakatan rahasia mereka dengan Taliban di Doha, Qatar.

“Sangat mengkhawatirkan melihat para pemimpin politik dan militer Afghanistan tidak punya tekad untuk menghentikan kemajuan milisi Taliban,” kata Kirby.

Sejak pasukan AS dan NATO keluar secara tidak bertanggung jawab dari Afghanistan, Taliban telah bergerak cepat melakukan serangan dan merebut satu per satu provinsi Afghanistan dari tangan pemerintah.

Pemerintah AS telah mengerahkan 3.000 tentara ke Afghanistan untuk mengevakuasi staf kedutaannya dan warga sipil dari negara tersebut.

Saat ini, beberapa negara Barat telah mengerahkan pasukannya untuk menutup kedutaan atau mengevakuasi diplomat mereka sebagai langkah antisipasi jatuhnya Kabul ke tangan Taliban.

Jerman, Inggris, Denmark, Spanyol dan Belanda telah mengurangi jumlah diplomat mereka dan merumahkan para staf lokal.

Menurut mayoritas warga Afghanistan, tokoh dan pejabat publik, invasi dan pendudukan pasukan AS selama 20 tahun telah menciptakan berbagai masalah di Afghanistan.

Afghanistan Kacau, Biden Diminta Pecat Penasihat Keamanan Nasional AS

Salah satu penasihat pemerintahan Obama, meminta Presiden AS Joe Biden untuk memecat Penasihat Keamanan Nasional Jake Sullivan atas kekacauan di Afghanistan.

Brett Bruen, mantan Direktur Keterlibatan Global AS di Gedung Putih, mengatakan seluruh tim keamanan nasional Biden perlu "diguncang."

Dia dalam sebuah tulisan di situs USA Today, Senin (16/8/2021), meminta Presiden Biden untuk memecat Sullivan karena "bencana" penarikan AS dari Afghanistan dan apa yang dia lihat sebagai masalah dalam proses pengambilan keputusan keamanan nasional.

"Presiden Biden perlu memecat penasihat keamanan nasionalnya dan beberapa pemimpin senior lainnya yang mengawasi eksekusi yang gagal atas penarikan AS dari Afghanistan," ujarnya.

Menurut Bruen, bencana yang terjadi di Afghanistan adalah ilustrasi dari masalah besar lainnya di Gedung Putih.

"Dalam kasus seperti ini, Anda benar-benar harus menemukan cara untuk mengelola dan menjelaskan risiko nyata sehingga presiden dapat memilih jalur yang lebih disukai," jelasnya.

Jake Sullivan telah menjabat sebagai penasihat keamanan nasional Biden sejak awal masa jabatan presiden.

AS Blokir Akses Taliban ke Aset Bank Sentral Afghanistan

Kelompok Taliban tidak akan memiliki akses ke aset Bank Sentral Afghanistan di Amerika Serikat.

Dikutip dari Klub Jurnalis Muda (YJC) Iran, seorang pejabat di Kabul mengatakan pada Selasa (17/8/2021), aset Bank Sentral Afghanistan di AS tidak akan pernah diserahkan ke Taliban.

Taliban

Berdasarkan laporan Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Sentral dan Da Afghanistan Bank memiliki sekitar 9,4 miliar dolar cadangan devisa pada April tahun ini.

Para pengamat internasional menyatakan keprihatinan tentang bagaimana Taliban akan menghabiskan aset bank sentral. Saat ini sebagian besar aset tersebut tidak disimpan di Afghanistan.

Taliban saat ini telah menguasai Kabul dan pembicaraan sedang berlangsung untuk membentuk pemerintahan transisi di Afghanistan.

Jubir Kemlu AS: Sanksi, Opsi Tekan Taliban di Tangan Kami !

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri AS, Ned Price mengatakan Taliban sekarang dianggap sebagai kelompok teroris, dan sanksi terhadap kelompok ini termasuk salah satu opsi yang dimiliki Washington.

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Ned Price hari Jumat (21/8/2021) bereaksi terhadap laporan pemukulan terhadap warga Amerika di Kabul, dan menekankan bahwa pihaknya mengikuti masalah ini secara serius.

Dia menambahkan bahwa setiap pemerintah Afghanistan yang tidak memenuhi tuntutan rakyatnya, termasuk perempuan dan minoritas, tidak akan mendapat dukungan dari Washington.

Di sisi lain, Juru Bicara Kementerian Pertahanan AS, John Kirby mengatakan, "Beberapa laporan mengenai pemukulan warga Amerika oleh Taliban di Kabul mengkhawatirkan dan kami sampaikan kepada Taliban bahwa ini tidak dapat diterima,".

Mengenai penarikan 18.000 orang pasukan AS dari Afghanistan, John Kirby mencatat bahwa misi militer AS untuk mempertahankan Bandara Kabul dan operasi keluarnya pasukan dari Afghanistan terus berlanjut secara aman.

Setelah pasukan Taliban memasuki Kabul tanpa bentrokan pada 15 Agustus, sejumlah warga Afghanistan menyerbu bandara Kabul untuk mencoba mengusir diplomat asing.

Penerbangan militer dari Bandara Kabul hanya untuk diplomat dan staf kedutaan asing di negara ini.

Anggota Taliban hadir di berbagai bagian Kabul dan berpatroli di ibu kota Afghanistan.

Diplomat AS sudah peringatkan potensi pengambilalihan oleh Taliban

Sekitar puluhan diplomat Amerika Serikat di Afghanistan pada Juli telah mengirim telegram internal untuk memperingatkan Menteri Luar Negeri Antony Blinken tentang potensi jatuhnya Kabul ke Taliban ketika pasukan AS menarik diri dari negara itu.

Hal itu diberitakan oleh surat kabar The Wall Street Journal pada Kamis (19/8).

Surat kabar itu menyebutkan bahwa telegram rahasia yang dikirim diplomat AS melalui suatu saluran untuk perbedaan pendapat ditandatangani pada 13 Juli.

Para pembesar Taliban

Pesan dalam telegram itu menyampaikan rekomendasi tentang cara-cara untuk mengurangi krisis dan mempercepat evakuasi di Afghanistan.

Pemerintahan Presiden Joe Biden telah dikritik karena meninggalkan upaya untuk membawa para diplomat Amerika Serikat dan warga negara lainnya serta sekutu Afghanistan untuk keluar dari negara itu sampai setelah pengambilalihan Taliban berlangsung dengan lancar.

Namun, para pejabat AS menolak untuk mengonfirmasi keterangan spesifik atau membagikan isi dari telegram tersebut.

"Saya pikir telegram tersebut mencerminkan apa yang telah kami katakan selama ini, di mana tidak ada yang benar dalam memprediksi bahwa pemerintah dan tentara Afghanistan akan runtuh dalam hitungan hari," kata wakil penasihat keamanan nasional Gedung Putih Jonathan Finer kepada CNN.

Seorang narasumber yang mengetahui situasi tersebut mengatakan bahwa Departemen Luar Negeri AS ikut prihatin dengan mereka yang membuat pesan telegram tersebut, termasuk dengan mengecam kekejaman Taliban menjelang kelompok militan itu merebut ibu kota Afghanistan, Kabul, pada Minggu (15/8).

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Ned Price mengatakan pandangan para diplomat AS itu yang disampaikan kepada Menlu Blinken melalui saluran tersebut telah dimasukkan ke dalam kebijakan dan perencanaan.

"Kami menghargai perbedaan pendapat internal yang konstruktif. Ini suatu hal yang patriotik. Hal ini dilindungi. Dan itu membuat kami lebih efektif," kata Price.