Amerika Tinjauan dari Dalam, 23 Juli 2022
-
Rudal Iran.
Sejumlah peristiwa menarik dari berbagai bidang terjadi di Amerika Serikat (AS) dalam sepekan terakhir, di antaranya adalah kekhawatiran AS atas kekuatan pertahanan Republik Islam Iran.
Majalah mingguan Newsweek di analisanya menulis, Republik Islam Iran tanpa membutuhkan senjata nuklir, kini memiliki kekuatan pertahanan yang cukup di kawasan.
Menurut laporan IRNA, laman Newsweek Sabtu (16/7/2022) di sebuah artikel yang ditulis Daniel R. DePetris, pakar pertahanan media Amerika ini menulis, "Ungkapan "semua opsi ada di atas meja" memiliki arti khusus bahwa aksi militer adalah salah satu kemungkinannya. Ini adalah ungkapan yang sering digunakan oleh presiden AS untuk mengirim pesan yang kuat kepada saingan atau musuh."
Di analisa ini disebutkan bahwa presiden Amerika hanya kepada Iran berulang kali menggunakan ungkapan ini.
Penulis terkait alasan tidak digunakannya aksi militer ini menulis, "Kami memahami bahwa Iran akan membalas setiap aksi militer, karena sebelumnya negara ini telah melakukannya, ketika membalas teror Letjen Qassem Soleimani, mantan komandan pasukan Quds IRGC, Iran menembakkan puluhan rudal balistik ke dua pangkalan Amerika di Irak.
Jika Iran membalas teror terhadap sosok seperti ini, maka bayangkan jika program pengayaan uraniumnya dihancurkan, bagaimana Iran akan membalasnya.
Nikki Haley: Kebijakan Biden Tamparan bagi Israel
Mantan wakil Amerika di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Nikki Haley seraya mengisyaratkan sikap pemerintah negara ini untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir dengan Iran mengatakan, kebijakan Biden terhadap Iran dan negosiasi untuk kembali ke JCPOA sebuah tamparan kepada Israel.
Seperti dilaporkan IRNA, National Review cetakan New York di laporannya mengutip Nikki Haley, mantan dubes AS di PBB di masa pemerintahan Donald Trump menulis, kebijakan Biden terkait Iran merupakan tamparan ke wajah Israel dan sekutu Arab Washington.
Saat diwawancarai majalah ini, Haley seraya mengisyaratkan kunjungan empat hari presiden AS ke Timur Tengah, menilai berbahaya kebijakan Biden terhadap Iran dan mengklaim, Iran menjual drone ke Rusia dan menyerang pasukan Amerika, kemudian Biden ingin menandatangani perjanjian dengan Republik Islam.
Haley sebagai pendukung keras kebijakan keluarnya AS dari JCPOA mengingatkan, Biden menunjukkan dirinya lemah ketika menolak melawan Iran.
Kembali ke JCPOA merupakan salah satu slogan pemilu Biden dan diharapkan di hari-hari pertama atau paling tidak bulan-bulan pertama kepresidenan Biden, slogan ini direalisasikan, tapi meski telah digelar beberapa putaran perundingan di pemerintahan sebelumnya dan juga di pemerintahan AS saat ini, belum juga diraih kesepakatan untuk kembali ke JCPOA dan implemenasi komitmen oleh semua pihak karena ketamakan Amerika dan sikapnya yang masih melanjutkan kebijakan Trump dalam menjatuhkan sanksi zalim dan ilegal terhadap Iran.
Mantan Direktur CIA: Bin Salman Sosok Narsis dan Pendendam
Mantan direktur Dinas Intelijen AS (CIA) menyebut Putra Mahkota Saudi, Mohammad bin Salman (MBS) sosok narsis dan pendendam yang memanfaatkan kekerasan untuk menumpas oposisi.
Pajabat Amerika senantiasa mengkritik MBS dan menyebutnya zalim. Banyak penulis Amerika juga terkejut dengan konsesi gratis yang diberikan Presiden AS Joe Biden kepada Bin Salman. Mereka percaya bahwa Biden bisa mencapai banyak hal jika dia menindaklanjuti komitmennya untuk menuntut Arab Saudi atas kejahatannya terhadap kemanusiaan.
Menurut laporan al-Ahed, John O. Brennan saat diwawancarai Televisi MSNBC terkait kunjungan Biden ke Asia Barat dan keputusannya untuk bertemu dengan Bin Salman setelah kasus pembunuhan terhadap Jamal Khashoggi oleh agen-agen yang dekat dengannya pada tahun 2018 mengatakan, "Jika saya masih di pemerintahan, saya tidak akan menyetujui perjalanan Biden ke Arab Saudi jika itu termasuk pertemuan dengan Bin Salman karena catatan buruknya di bidang hak asasi manusia dan tidak hanya dalam kaitannya dengan Khashoggi, tapi saat ini dua anak Saad al-Jabri (mantan ketua dinas intelijen Arab Saudi) masih disandera olehnya.
"Oleh karena itu, Biden tidak berminat untuk bertemu dengan Bin Salman, tapi para presiden ditunjuk untuk mengambil keputusan tersulit, dan jelas bahwa Biden mengambil keputusan menyedihkan ini untuk pergi ke Arab Saudi," paparnya.
Adam Schiff anggota DPR AS dari California di cuitannya menulis, "Pertemuan pertama antara Biden dan putra mahkota Arab Saudi lebih buruk dari seribu kata."
Pertemuan pertama Joe Biden dengan Mohammad bin Salman menuai kritikan luas di jejaring sosial.
Deputi Menlu AS: Dunia Membutuhkan Minyak Iran
Deputi Menteri Luar Negeri Amerika Serikat mengatakan masih terbuka peluang untuk menghidupkan kesepakatan nuklir JCPOA di tengah perselisihan yang ada. Menurutnya, dunia membutuhkan minyak Iran.
Wendy Sherman, Selasa (19/7/2022) seperti dikutip situs Washington Diplomat menegaskan bahwa kesepakatan nuklir Iran, JCPOA belum mati.
Menurutnya, perundingan untuk menghidupkan kesepakatan nuklir Iran sudah dimulai sejak Februari lalu, dan terdapat tanda-tanda dicapainya kesepakatan, dan ia percaya masih ada peluang untuk mencapai kesepakatan.
Sherman mengklaim bahwa kesepakatan akan menguntungkan Iran, dan ia menjelaskan, "Iran akan menerima pengurangan sanksi. Ekonomi mereka akan pulih, dan bisa kembali menjual minyaknya, dunia membutuhkan minyak Iran, oleh karena itu mereka bisa menetapkan harga yang baik."
Ia menambahkan, "Jika Iran melakukannya, itu akan menguntungkan negara ini. Uni Eropa, Prancis, Jerman, dan Inggris sudah merundingkan kesepakatan ini bersama Cina dan Rusia, semua menginginkan kesepakatan."
AS Berusaha Lancarkan Sabotase di Fasilitas Minyak Venezuela
Pejabat pemerintah Venezuela menyebut Amerika Serikat mengorganisir sejumlah upaya sabotase di fasilitas minyak negara ini.
Menteri Perminyakan Venezuela, Tareck El Aissami, minggu lalu mengabarkan serangan baru terhadap jalur pipa perusahaan minyak nasional Venezuela, PDVSA yang menyebabkan terbakarnya salah satu bagian jalur pipa tersebut. Sebelumnya serangan serupa juga beberapa kali terjadi pada fasilitas minyak dan gas Venezuela.
Wakil Ketua Partai Sosialis Bersatu Venezuela, Diosdado Cabello yang juga salah seorang ketua fraksi di Parlemen negara ini, Selasa (19/7/2022) menuding AS melancarkan serangan ke salah satu kilang minyak di Venezuela.
Dalam sebuah konferensi pers, pejabat Venezuela ini mengatakan, "Semua ini adalah bagian dari kebijakan imperialis AS. Serangan ke fasilitas minyak dan pengerahan pasukan bayaran ke sini. Sejumlah dari mereka berhasil ditangkap, dan beberapa yang lainnya dihukum karena berusaha melancarkan kudeta dan melakukan percobaan pembunuhan. Mereka dikirim oleh AS"
Menurut Cabello, upaya sabotase terbaru di jalur pipa gas milik salah satu perusahaan Venezuela di negara bagian Monagas, di timur negara ini, menunjukan upaya tak kenal henti AS untuk menciptakan ketidakamanan di Venezuela.
"Peristiwa-peristiwa ini harus menjadi pelajaran bagi kita bahwa imperialisme tidak akan pernah diam. Mereka ingin menghancurkan kita, dan memaksa kita memohon ampun. Hal ini tidak akan pernah terjadi, karena bangsa ini tidak terbiasa melakukannya, bangsa ini tidak akan pernah menyerah," pungkasnya.
Gedung Putih Takut Kunjungan Putin ke Tehran
John Kirby, Koordinator Komunikasi Strategis Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih merespon kunjungan Presiden Rusia Vladimir Putin ke Iran karena takut hubungan Tehran-Moskow menjadi semakin kuat.
Menurut laporan IRNA, pejabat Gedung Putih ini Selasa (19/7/2022) waktu setempat kepada wartawan mengklaim, kunjungan ini menunjukkan bahwa Putin terkucil karena agresi militer ke Ukraina.
Pejabat AS ini mengklaim bahwa kunjungan Putin ke Iran mengindikasikan Moskow menghadapi kesulitan di pangakalan pertahanannya dan pasokan pasukan Rusia di Ukraina.
Terkait klaim pengiriman drone oleh Iran ke Rusia, John Kirby mengakui, Amerika tidak memiliki bukti yang menunjukkan Iran menjual drone kepada Rusia.
Ia juga mengklaim bahwa pemerintah AS memiliki bukti yang menunjukkan Rusia tengah bersiap untuk melanggar kedaulatan Ukriana dan menganeksasi wilayah negara ini.
Presiden Rusia, Vladimir Putin hari Selasa berkunjung ke Iran untuk menghadiri pertemuan tripartit negara penjamin perundingan Astana dan setibanya di Tehran bertemu dengan Presiden Iran, Sayid Ebrahim Raisi dan Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei.
AP: Pentagon Mengalami Kekurangan Tentara
Pentagon mengatakan kekurangan personel militer yang parah untuk militer AS, yang disebabkan oleh perusahaan kontraktor swasta, telah menyebabkan keputusan untuk mengurangi jumlah angkatan bersenjata.
DPR Amerika pekan lalu meratifikasi bujet pertahanan negara ini untuk tahun 2023 sebesar 840 miliar dolar.
Anggaran besar ini disetujui sementara masalah ketidakmampuan finansial keluarga berpenghasilan rendah di Amerika Serikat untuk menyiapkan makanan dan membayar sewa rumah, sekarang dengan penetrasi krisis Corona ke populasi rentan, telah membuat situasi lebih mengerikan dan kritis dari sebelumnya.
Meski anggaran besar militer Amerika dan klaim Washington memiliki tentara terbesar di dunia, tapi disebutkan bahwa Pentagon mengalami kelangkaan personel.
Associated Press (AP) Kamis (21/7/2022) dini hari melaporkan bahwa Departemen Pertahanan AS (Pentagon) mengurangi tentara negara ini karena kelangkaan sumber daya manusia.
Masih menurut sumbe rini, angkatan bersenjata AS selama beberapa tahun mendatang akan berkurang sekitar 10 ribu personel. Sementara menurut Jend. Joseph Martin, wakil kepala staf militer AS memprediksikan bahwa untuk tahun-tahun mendatang kondisi akan semakin suram.
Tahun finansial AS hanya tinggal dua setengah tahun dan militer negara ini hanya meraih 50 persen tujuannya, yakni 60 ribu tentara. Dengan angka ini, pemimpin militer Amerika meyakini bahwa kelangkaan ini akan mencapai 25 persen di awal Oktober.
Rasa haus Amerika untuk memperluas kemampuan militernya terjadi ketika berdasarkan data resmi yang dirilis, 140 juta warga Amerika termasuk warga berpenghasilan rendah, dan 92 juta orang di negara ini tidak mampu mengelurkan biaya kesehatan.
Joe Biden: Saya Menderita Kanker
Presiden Amerika Serikat, Joe Biden menyatakan bahwa dirinya menderita kanker, tapi Gedung Putih langsung merespon statemen ini.
Menurut laporan IRNA, Joe Biden Rabu (20/7/2022) di statemennya menyatakan dirinya mengidap kanker. Statemen ini memaksa kantor Gedung Putih langsung memberi konfirmasi dan menyatakan, maksud dari presiden Amerika adalah penyakit kanker kulit yang ia derita di masa lalu dan tahun lalu sebelum menjabat sebagai presiden, penyakit ini telah diobati.
Menurut laporan itu, pernyataan itu awalnya tampak sebagai pengumuman mengejutkan tentang kesehatan presiden selama pidatonya tentang pemanasan global.
Presiden Amerika di statemennya menyinggung penyebaran gas rumah kaca dari kilang minyak di dekat rumahnya saat ia masih kecil di Delaware.
Statemen Biden menuai respon cepat Gedung Putih karena presiden Amerika menggunakan present tense (bentuk waktu saat ini) untuk mengumumkan kankernya.
Mengkhawatirkan! AS dan Eropa Dilanda Inflasi Parah
Tingkat inflasi di Amerika Serikat (AS) dan Eropa telah meningkat ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Menurut statistik terbaru, tingkat inflasi di AS telah mencapai lebih dari 9,1%, yang merupakan tingkat tertinggi dalam empat dekade terakhir.
Harga roti telah meningkat sedemikian rupa sehingga harga roti berkualitas di Amerika telah mencapai 10 dolar atau lebih per potong.
Mark Cohen, Kepala Studi Ritel di Universitas Columbia, mengatakan, harga ini merupakan pukulan bagi konsumen. Tidak ada yang pernah melihat harga 10 dolar untuk sepotong roti di masa lalu dan dampaknya seperti bensin 5 dolar.
Gelombang kenaikan harga barang di AS semakin intensif dengan penyebaran pandemi Covid-19 dan perkembangan politik di negara ini.
Perang antara Rusia dan Ukraina dan kenaikan harga energi global, terutama minyak, peningkatan biaya militer dan senjata, dan kebijakan Presiden AS Joe Biden telah menyebabkan kenaikan harga dan inflasi yang belum pernah terjadi sebelumnya di negara ini serta telah memicu kekhawatiran tentang kemungkinan resesi di Amerika.
Sekarang warga AS telah secara drastis mengurangi pengeluaran mereka yang tidak urgen dan penurunan permintaan menyebar ke barang-barang kebutuhan pokok. Menurut laporan Nielsen EQ, dari awal tahun ini hingga 2 Juli, pembelian roti di toko-toko AS telah menurun sebesar 2,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Menteri Keuangan AS Janet Yellen menyinggung kenaikan harga di bidang-bidang seperti energi. Dia mengatakan, hampir setengah dari kenaikan inflasi disebabkan oleh harga energi yang tinggi, dan kita harus memperhatikan dampak perang di Ukraina, dan dampak perang ini telah terlihat di negara-negara yang sebelumnya menghadapi kerentanan parah.
60 Anggota DPR AS Minta Diumumkan Keadaan Darurat Nasional
60 anggota DPR AS dari Partai Demokrat telah meminta presiden untuk mengumumkan darurat iklim nasional.
Perubahan iklim dalam bentuk periode kekeringan, kekurangan air berturut-turut, peningkatan suhu udara tahunan, peningkatan polusi udara di kota-kota besar, terjadinya banjir dan badai yang parah dan luas telah muncul dan memiliki efek yang belum pernah terjadi sebelumnya di Amerika Serikat.
Perubahan iklim ini, terutama perubahan cuaca, telah mengubah lingkungan manusia menjadi lingkungan yang keras dan kacau.
Situs The Hill menulis dalam sebuah laporan pada hari Sabtu (23/07/2022) bahwa anggota parlemen seperti Alexander Ocasio Cortez dari New York dan Earl Blumenauer dari negara bagian Oregon memainkan peran utama dalam mempersiapkan dan mengirim surat kepada Presiden Joe Biden dan dalam hal ini memintanya untuk menggunakan "kekuatan eksekutif penuh" bagi menangani masalah ini sesuai dengan "ruang lingkup dan kebutuhan krisis semacam itu".
Dalam surat anggota Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat kepada presiden negara ini, disebutkan, "Pengumuman keadaan darurat nasional memungkinkan Amerika Serikat untuk memobilisasi industri dalam negeri, meningkatkan produksi dalam negeri teknologi bersih, dan menerapkan infrastruktur energi yang fleksibel.
Surat ini disiapkan sementara Biden, dalam pidatonya di Massachusetts pada hari Rabu(20/7), menyebut perubahan iklim sebagai masalah "mendesak", tetapi menolak untuk mengumumkannya secara resmi.
Dalam pidatonya, Biden berjanji untuk bertindak atas perubahan iklim setelah Senator Demokrat Joe Manchin mengumumkan penentangannya terhadap proposal pengeluaran iklim besar-besaran. Rencana ini dibiarkan begitu saja di Kongres AS. Mengingat bahwa Senat 50-50 mendukung rencana tersebut, semua Demokrat harus sepenuhnya mendukung rencana tersebut, sehingga bila tidak ada satu pun dari perwakilan Republik yang mendukungnya, rencana itu tetap berlanjut.
Dalam surat ini, mereka menekankan, kita membutuhkan alat untuk memperkuat industri energi terbarukan Amerika, menciptakan jutaan pekerjaan berkualitas, dan merevitalisasi ekonomi di era pascapandemi.
Senator Joe Manchin, seorang Demokrat dari West Virginia, sebelumnya mengatakan kepada para pemimpin Demokrat bahwa dia tidak akan mendukung upaya partainya untuk memajukan paket ekonomi besar-besaran yang akan mencakup miliaran dolar untuk mengatasi pemanasan global.
Jika keadaan darurat diumumkan, itu bisa menjadi penyelamat bagi pemerintahan Biden untuk mengurangi emisi karbon.