Demo Ribuan Warga Prancis Menuntut Pengunduran Diri Macron
Ribuan warga Prancis berkumpul di bundaran Place Royale Paris sejalan dengan permintaan partai sayap kanan Patriot dan menuntut pengunduran diri Presiden Prancis Emmanuel Macron.
Ini adalah ketiga kalinya partai sayap kanan ini meminta demonstrasi, dan demonstrasi pertama diadakan untuk pertama kalinya pada 3 September. Dalam demonstrasi saat ini, pengunduran diri Macron dan penarikan dari Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) adalah tujuan dari para pengunjuk rasa.
Tampaknya ada ketidakpuasan yang tumbuh dengan presiden Prancis, yang terpilih untuk kedua kalinya beberapa waktu lalu. Hal itu karena memburuknya situasi ekonomi rakyat Prancis akibat sanksi Barat yang luas dan belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Rusia, ditambah dengan upaya balasan Moskow di bidang energi, menjadi salah satu alasan penting bagi protes ribuan orang baru-baru ini di Paris.
Sehubungan dengan itu, hasil survei terbaru oleh Institut Elabe menunjukkan bahwa pada saat negara-negara Eropa mencoba menjatuhkan sanksi terhadap Rusia dengan dalih menyerang Ukraina, sebagian besar warga Prancis menentang pengenaan sanksi tersebut dan hanya 40% dari mereka yang mendukung tindakan sanksi itu. Sementara itu 32% menginginkan cakupan sanksi dibatasi agar tidak mempengaruhi kehidupan warga negara Prancis, dan 27% menentang sanksi Rusia secara umum.
Negara-negara Eropa, termasuk Prancis, bersama Amerika Serikat, mencoba menekan Rusia dalam perang Ukraina dengan menjatuhkan sanksi ekonomi, tetapi kebijakan Eropa ini sejauh ini menunjukkan hasil yang berlawanan.
Menanggapi sanksi Rusia, Moskow praktis telah memotong ekspor gas ke Eropa, termasuk Prancis, dengan alasan kurangnya pasokan peralatan dan suku cadang yang diperlukan untuk memperbaiki jaringan pipa, terutama turbin gas, sehingga sekarang Prancis khawatir akan pasokan bahan bakar mereka di musim dingin.
Sekarang dengan kenaikan harga energi, ekonomi negara-negara Eropa sangat terpengaruh, termasuk Prancis. Pihak berwenang Rusia menekankan bahwa karena pengurangan cadangan gas di Eropa, harga setiap ribu meter kubik gas di musim dingin mendatang akan meningkat menjadi 5.000 Euro, yang akan menggoyahkan perekonomian dan masyarakat negara-negara Eropa, termasuk Prancis.
Bahkan saat ini, banyak bisnis terpaksa ditutup karena tingginya biaya listrik, dan banyak warga Eropa tidak mampu membayar tagihan listrik dan gas mereka. Saat ini, indikator ekonomi di Prancis telah mengarah pada situasi bencana.
Ribuan warga Prancis berkumpul di bundaran Place Royale Paris Paris sejalan dengan permintaan partai sayap kanan Patriot dan menuntut pengunduran diri Presiden Prancis Emmanuel Macron.
Inflasi di Prancis meningkat sebesar 0,9 persen pada bulan Juni dibandingkan dengan bulan sebelumnya, sehingga tingkat inflasi tahunan menjadi 6,5 persen, yang merupakan angka tertinggi sejak 1991.
Setelah pemutusan ekspor gas Rusia ke Prancis, Presiden Prancis Emmanuel Macron menyerukan pertemuan dewan pertahanan negara itu untuk mengaitkan masalah tagihan listrik dan gas yang meroket di negara ini dengan masalah keamanan dan pertahanan nasional.
Dengan demikian, ada alasan untuk menindak berbagai upaya protes sosial. Demonstrasi yang diprediksi akan terjadi ketika memasuki musim dingin. Meski dalam praktiknya, protes ini sudah dimulai sejak musim panas 2022.
Macron juga mengambil langkah-langkah seperti perjalanan ke Aljazair untuk mendorong pemerintah negara itu meningkatkan ekspor gas ke Eropa, termasuk Prancis. Namun Aljazair tidak senang dengan permintaan ini dan mengajukan syarat untuk memenuhinya.
Poin pentingnya adalah bahwa pemerintah Prancis, seperti pemerintah Eropa lainnya, memilih nada mengancam terhadap Rusia pada awal perang Ukraina, dan mereka menekankan perlunya mengintensifkan sanksi terhadap Moskow.
Prancis mendeklarasikan "perang ekonomi dan keuangan skala penuh" melawan Rusia pada Maret 2022.
Menteri Keuangan Prancis Bruno Le Maire mengatakan, "Kami telah meluncurkan perang ekonomi dan keuangan skala penuh melawan Rusia, dan sanksi ini akan menjatuhkan ekonomi Rusia."
Namun sekarang para pejabat senior Prancis, termasuk Macron, dihadapkan pada kenyataan pahit tentang ketergantungan Eropa sebesar 40% pada gas Rusia. Kini, mengingat Moskow mensyaratkan kelanjutan ekspor gas dengan pencabutan sanksi terhadap Rusia, termasuk pencabutan sanksi terhadap jalur pipa gas Nord Stream 2, situasi Prancis menghadapi kesulitan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Mengingat belum ada solusi yang efektif dan efisien untuk mengimbangi kekurangan gas Rusia di Eropa, termasuk di Prancis, maka presiden muda Prancis itu berada dalam situasi yang sangat sulit karena prospek inflasi ekonomi akibat pemutusan pasokan gas Rusia. Situasi akan jauh lebih sulit di masa depan karena permintaan eksplisit dari para pengunjuk rasa untuk pengunduran dirinya.(sl)