Reaksi Atas Serangan Udara AS di Libya
Serangan udara Amerika Serikat di Libya dengan alasan memerangi teroris takfiri mengundang reaksi dari para pejabat di Tobruk. Dalam hal ini, Komite Pertahanan dan Keamanan di Dewan Perwakilan Rakyat Libya yang berbasis di Tobruk, memanggil duta besar AS di Tripoli untuk menjelaskan motif dari serangan udara terhadap Daesh di kota Sirte.
Dewan Perwakilan Rakyat di Tobruk menyatakan serangan udara itu ilegal dan inkonstitusional, dan dilakukan tanpa koordinasi dengan pihak berwenang. Mereka menuntut kehadiran duta besar AS di komite keamanan dan pertahanan untuk menjelaskan tindakan Washington.
Dalam sebuah keterangan, komite tersebut mengecam tindakan AS dan menganggapnya bertentangan dengan klaim negara itu terkait perang kontra-terorisme. AS menerapkan standar ganda dalam memerangi teroris dan bertindak atas alasan politik.
Pentagon mengatakan bahwa militer AS pada hari Senin melakukan serangan udara terhadap markas kelompok teroris Daesh di Sirte. Pentagon mengklaim serangan dilakukan atas permintaan pemerintah persatuan nasional Libya.
Dalam pernyataannya, Departemen Pertahanan AS menambahkan bahwa Presiden Barack Obama menyetujui aksi tersebut dan juga digelar atas masukan dari Menteri Pertahanan Ashton Carter dan Kepala Staf Gabungan Jenderal Joseph Dunford.
Sementara itu, Pendiri WikiLeaks Julian Assange mengatakan seluruh tindakan AS dan negara-negara Barat telah memperkuat Daesh di Libya. Menurutnya, tindakan AS menyebabkan Daesh memperoleh kekuatan di Libya.
"Intervensi Barat di Libya dan penghancuran infrastruktur pemerintah dengan dalih menumbangkan rezim Qaddafi telah menyebabkan kekosongan kekuasaan di Libya dan membuat Daesh berhasil menduduki sebagian besar daerah di negara itu," ujarnya.
Pemerintah Rusia mengecam serangan udara AS yang menargetkan posisi Daesh di Sirte, Libya.
Duta Besar Rusia untuk Libya, Ivan Molotkov mengatakan serangan udara AS di Libya adalah ilegal dan tindakan itu memerlukan persetujuan Dewan Keamanan PBB. Ia menilai tindakan AS di Libya tidak memiliki dasar hukum.
"Melaksanakan serangan udara terhadap ekstrimis di Libya membutuhkan resolusi dari Dewan Keamanan PBB," tegasnya.
Meski demikian, Presiden Barack Obama mengatakan serangan udara di Libya demi kepentingan keamanan nasional AS dan para sekutunya di Eropa.
Pada tahun 2011, AS juga mendukung intervensi militer NATO di Libya sehingga kelompok penentang Qaddafi mampu menggulingkan penguasa di negara itu, akan tetapi campur tangan Barat khususnya AS menyeret Libya dalam perang saudara dan menyaksikan pertumbuhan kelompok-kelompok teroris. (RM)