Mengapa Netanyahu Mengklaim Israel Raya dan Apa Reaksinya?
https://parstoday.ir/id/news/world-i175752-mengapa_netanyahu_mengklaim_israel_raya_dan_apa_reaksinya
Perdana Menteri rezim Zionis baru-baru ini dalam pernyataannya yang bersifat rasis mengemukakan impian pembentukan “Israel Raya” yang mendapat reaksi luas dari negara-negara dan pejabat di kawasan Asia Barat.
(last modified 2025-08-15T21:26:06+00:00 )
Aug 16, 2025 04:23 Asia/Jakarta
  • Mengapa Netanyahu Mengklaim Israel Raya dan Apa Reaksinya?

Perdana Menteri rezim Zionis baru-baru ini dalam pernyataannya yang bersifat rasis mengemukakan impian pembentukan “Israel Raya” yang mendapat reaksi luas dari negara-negara dan pejabat di kawasan Asia Barat.

Tehran, Pars Today- Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri rezim Zionis, baru-baru ini dalam sebuah wawancara mengatakan: “Saya sedang menjalankan misi historis dan spiritual, dan secara emosional terikat pada impian Israel Raya.” Pernyataan Netanyahu ini berarti pendudukan atas sebagian besar wilayah geografis negara-negara Islam. Namun pertanyaannya, mengapa Netanyahu mengemukakan pernyataan seperti ini dan bagaimana negara-negara kawasan menanggapi ucapannya?

Jawaban terpenting mengenai pernyataan Netanyahu ini adalah bahwa impian semacam itu sudah pernah ada sebelumnya dan sekarang hanya diungkapkan secara terbuka. Israel Raya adalah impian yang sebelumnya telah diusung kaum Zionis dalam konsep “dari Nil hingga Efrat” dan kini mereka berupaya mewujudkannya.

Faktor lain berkaitan dengan situasi saat ini di kawasan Asia Barat. Rezim Zionis dalam dua tahun terakhir telah melakukan segala bentuk kejahatan terhadap Poros Perlawanan dan memiliki anggapan keliru bahwa perlawanan di kawasan telah melemah. Karena itu, rezim ini kini tidak melihat adanya kekuatan penangkal yang serius di hadapannya dan semakin terang-terangan mengemukakan rencana-rencana ekspansionisnya.

Faktor ketiga yang mendorong rezim Zionis memunculkan impian Israel Raya adalah sikap diam, pasif, bahkan dukungan dari sebagian negara Arab terhadap kejahatan-kejahatan dua tahun terakhir rezim ini terhadap Poros Perlawanan. Sikap tersebut dari sudut pandang rezim Zionis berarti kelemahan dan ketakutan dunia Arab di hadapan rezim ini. Dalam kaitan ini, Syekh Ahmad Al-Khalili, Mufti Kesultanan Oman, dengan mengkritik rencana “Israel Raya” yang diajukan Perdana Menteri rezim Zionis, memperingatkan sebagian negara Arab yang bersikap ramah terhadap rezim ini. Ia mengatakan: “Seyogianya saudara-saudara yang telah menunjukkan loyalitas kepada rezim ini dan berusaha melucuti senjata perlawanan Islam, sejenak merenungkan tindakan mereka.”

Faktor penting lainnya dalam munculnya impian Israel Raya oleh Netanyahu adalah dukungan Amerika Serikat. Pemerintahan Amerika Serikat dalam dua tahun terakhir telah memberikan dukungan penuh terhadap kejahatan kabinet Netanyahu. Baik pemerintahan Demokrat Joe Biden maupun pemerintahan Republik Donald Trump tidak mengizinkan adanya langkah global untuk menghentikan mesin pembunuhan dan pendudukan Netanyahu. Pemerintahan Trump bahkan mengajukan dan secara serius mengupayakan rencana pengusiran paksa warga Gaza. Netanyahu juga yakin akan dukungan Washington terhadap impian Israel Raya ini.

Pernyataan Netanyahu mendapat reaksi luas di dunia Arab. Banyak aktivis Arab di media sosial menilai ucapan Netanyahu itu bukan sekadar pernyataan pribadi, melainkan pernyataan terbuka tentang tujuan-tujuan ekspansionis dan ancaman terhadap keamanan serta stabilitas kawasan. Sebagian reaksi diarahkan pada sikap sejumlah kelompok dan pemerintah Arab yang menginginkan pelucutan senjata perlawanan Palestina, dan sikap tersebut dianggap sebagai pelayanan langsung bagi proyek ekspansionis rezim Zionis.

Kementerian Luar Negeri Yordania dalam sebuah pernyataan menegaskan: “Kami menolak pernyataan provokatif Netanyahu, dan menganggapnya sebagai ilusi tak berdasar yang mencerminkan krisis internal kabinet Netanyahu.” Al-Azhar Mesir juga dalam pernyataannya menyebut pernyataan ini menunjukkan mentalitas pendudukan yang mengakar, serta mengungkap keserakahan dan niat ekstrem rezim ini untuk menguasai sumber daya negara-negara kawasan.(PH)