Standar Ganda Barat Terbukti dengan Dukungan Tanpa Syarat Jerman terhadap Zionis
Pars Today - Juru bicara Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) mengkritik pernyataan Kanselir Jerman Friedrich Merz.
Juru Bicara Hamas Hazem Qassem mengkritik pernyataan Kanselir Jerman yang membenarkan agresi rezim Zionis di Gaza dan mendesak Friedrich Merz untuk bergabung dengan komunitas internasional dalam mengutuk rezim penjajah Palestina.
Menurut laporan Pars Today, Kanselir Jerman dalam konferensi pers bersama dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengakui bahwa Jerman akan selalu mendukung Israel, mengabaikan kejahatan dan serangan berkelanjutan rezim Zionis di Gaza, dan menganggap Hamas bertanggung jawab atas permasalahan warga sipil di wilayah itu.
Merz juga menekankan bahwa Jerman akan selalu mendukung Israel, dengan menyatakan bahwa Israel adalah tempat perlindungan bagi jutaan orang Yahudi.
Pernyataan Merz muncul di saat, meskipun telah dideklarasikan gencatan senjata dalam perang Gaza, serangan rezim Zionis terhadap Palestina terus berlanjut, dan rezim Zionis, yang mengabaikan hukum internasional dan kehendak opini publik, telah membunuh atau melukai puluhan warga Palestina yang tinggal di Gaza setiap hari.
Selain itu, meskipun situasi kemanusiaan memburuk dan gencatan senjata telah dideklarasikan, Israel terus mencegah masuknya bantuan pangan dan medis yang memadai. Oleh karenanya, situasi kritis di Gaza masih berlanjut.
Dalam situasi ini, pernyataan dan sikap Kanselir Jerman yang mendukung Israel sekali lagi menunjukkan kesenjangan yang dalam antara slogan dan kebijakan eksekutif Barat. Penekanan Merz bahwa Jerman akan selalu mendukung Israel dan mengabaikan kejahatan serta serangan berkelanjutan rezim Zionis di Gaza merupakan bukti nyata akan hal ini. Pernyataan-pernyataan ini ditafsirkan oleh Hamas dan Presiden Turki sebagai persetujuan implisit atas genosida di Gaza.
Faktanya, pernyataan Merz mencerminkan pendekatan kontradiktif negara-negara Barat, terutama Jerman, dalam politik internasional.
Di satu sisi, negara-negara ini mendukung Israel tanpa syarat, dan di sisi lain, mereka mengklaim menjunjung tinggi hati nurani manusia dan membela hak-hak bangsa-bangsa tertindas. Mereka melanjutkan dukungan politik, keuangan, dan fasilitasi mereka untuk Israel sementara banyak lembaga dan organisasi internasional mengonfirmasi genosida Israel di Gaza dalam laporan resmi mereka.
Dalam situasi seperti itu, pernyataan Kanselir Jerman tidak dapat dianggap sekadar sikap diplomatik, melainkan pernyataan itu harus dilihat sebagai bagian dari kebijakan Barat yang lebih luas, terutama Amerika Serikat, dalam mendukung Israel, yang jelas-jelas bertentangan dengan realitas di lapangan di Gaza dan tuntutan global untuk menghentikan perang.
Konflik ini tidak hanya mempertanyakan legitimasi moral Barat, tetapi juga menciptakan keretakan yang lebih dalam dalam hubungan internasional.
Negara-negara Barat, terutama Jerman, telah mengklaim membela hak asasi manusia selama beberapa dekade dan menganggap diri mereka sebagai pembela prinsip-prinsip yang didasarkan pada hak asasi manusia dan supremasi hukum. Meskipun demikian, dalam banyak kasus, bertentangan dengan semua slogan dan klaimnya, mereka tetap diam tentang kejahatan terang-terangan terhadap negara lain atau secara resmi mendukungnya, seperti yang telah mereka lakukan selama berbulan-bulan terkait serangan Israel terhadap warga Palestina yang tinggal di Gaza.
Faktanya, dalam beberapa tahun terakhir, negara-negara Barat menganggap hukum internasional sebagai satu-satunya cara untuk menjamin keadilan dan perdamaian global, sementara sikap mereka dalam perang Gaza kini telah menimbulkan pertanyaan yang sangat serius. Jika hukum-hukum ini bersifat universal, mengapa laporan pelanggaran hak asasi manusia oleh Israel justru diabaikan atau dibungkam oleh banyak kekuatan Barat, dan tren ini terus berlanjut?
Sementara itu, peran Jerman lebih sensitif. Dalam beberapa tahun terakhir, Jerman telah mencoba memainkan peran sebagai pemain yang seimbang, tetapi peningkatan dukungannya terhadap Israel (dari pertahanan politik hingga bantuan militer) telah mendistorsi citra ini di mata banyak orang di dunia, terutama Eropa.
Opini publik di banyak negara Eropa kini dihadapkan pada pertanyaan tentang bagaimana mungkin Barat menuntut kecaman segera dan tindakan internasional atas peristiwa-peristiwa lain di dunia, tetapi memilih diam dan pembenaran untuk Gaza?
Faktanya, saat ini, lebih dari sebelumnya, opini publik dunia mengamati kontradiksi antara klaim hak asasi manusia Barat dan praktik nyata mereka. Sebuah dunia di mana, bagi beberapa negara Barat, hak asasi manusia merupakan konsep selektif yang bergantung pada kepentingan politik. Jika hukum internasional adalah standar keadilan, mengapa penerapan hukum-hukum ini terhadap Israel justru disambut dengan diam, diabaikan, dan bahkan dibenarkan?
Pada akhirnya, apa yang muncul dari sikap Jerman mencerminkan krisis moral negara-negara Barat. Tampaknya sudah saatnya bagi para politisi Barat, alih-alih mengulang-ulang slogan klise, untuk mendengarkan suara hati nurani dunia yang menyerukan keadilan dan kemanusiaan.(sl)