Akankah Akhir Impian Menjadi Anggota NATO Membawa Perdamaian ke Ukraina?
https://parstoday.ir/id/news/world-i182336-akankah_akhir_impian_menjadi_anggota_nato_membawa_perdamaian_ke_ukraina
Pars Today - Presiden Ukraina telah mengumumkan keputusan negaranya untuk meninggalkan keanggotaan NATO dan fokus pada penerimaan jaminan keamanan yang mengikat dari Barat, menandai pergeseran strategis paling signifikan bagi Kiev sejak dimulainya perang 2022.
(last modified 2025-12-16T02:01:21+00:00 )
Des 16, 2025 08:59 Asia/Jakarta
  • Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky
    Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky

Pars Today - Presiden Ukraina telah mengumumkan keputusan negaranya untuk meninggalkan keanggotaan NATO dan fokus pada penerimaan jaminan keamanan yang mengikat dari Barat, menandai pergeseran strategis paling signifikan bagi Kiev sejak dimulainya perang 2022.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengumumkan bahwa negaranya telah meninggalkan keinginan untuk bergabung dengan NATO dan sebagai gantinya akan mencari jaminan keamanan yang mengikat dari Amerika Serikat, Eropa, dan mitra internasional lainnya.

Pernyataan itu menandai pergeseran strategis paling signifikan bagi Kiev sejak invasi Rusia dimulai pada Februari 2022. Sebuah negara yang selama bertahun-tahun melihat keanggotaan NATO sebagai jaminan kelangsungan hidup dan kemerdekaannya kini bersedia meninggalkan tujuan itu dengan harapan menghentikan perang gesekan dan kehancuran.

Perang di Ukraina bukan sekadar sengketa teritorial sejak awal. Itu adalah bentrokan dua interpretasi yang berlawanan tentang tatanan keamanan Eropa. Di satu sisi, Ukraina pasca-Soviet ingin sepenuhnya melepaskan diri dari orbit keamanan Rusia dengan bergabung dengan NATO. Di sisi lain, Rusia melihat perluasan NATO ke perbatasannya sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasionalnya.

Banyak lembaga think tank dan analis Barat terkemuka, dari Council on Foreign Relations hingga Chatham House dan Foreign Affairs, telah memperingatkan bertahun-tahun yang lalu bahwa bersikeras pada keanggotaan Ukraina di NATO dapat menyebabkan respons keras dari Moskow. Serangan Rusia pada Februari 2022 dapat dipahami dalam konteks ini.

Sekarang, setelah hampir empat tahun perang, ratusan ribu orang mati dan luka-luka, dan hilangnya sekitar 20 persen wilayah Ukraina, Zelensky telah mencapai titik di mana ia menerima tuntutan utama Rusia, yaitu tidak menjadi anggota NATO, sebagai bagian dari kompromi.

Pergeseran ini bukan karena keinginan, tetapi hasil dari tekanan realitas di lapangan. Ukraina saat ini tidak memiliki kapasitas militer untuk sepenuhnya merebut kembali wilayahnya. Sementara itu, konsensus politik di dalam NATO untuk menerima keanggotaan Ukraina belum ada. Bahkan para pendukung utama Kiev di Washington dan ibu kota Eropa sangat menyadari bahwa keanggotaan Ukraina di NATO dapat menyeretnya langsung ke dalam perang dengan Rusia, sebuah skenario yang tidak siap diterima oleh kekuatan Barat mana pun.

Ide alternatif, "jaminan keamanan serupa dengan Pasal V NATO", adalah upaya untuk menemukan jalan tengah antara kedua kebuntuan itu.

Beberapa lembaga think tank, seperti Council on Foreign Relations, percaya bahwa model ini dapat memberikan Ukraina tingkat pencegahan minimum tanpa secara formal memperluas NATO. Jaminan timbal balik dengan Amerika Serikat, komitmen keamanan dari negara-negara Eropa, dan keterlibatan aktor seperti Kanada dan Jepang, menurut Zelensky, merupakan cara untuk mencegah serangan Rusia yang berulang.

Namun, keraguan itu serius. Pasal V NATO bukan hanya klausul hukum. Pasal ini didukung oleh kemauan politik kolektif, struktur komando terpadu, dan sejarah panjang pencegahan yang kredibel. Jaminan keamanan di luar NATO, meskipun mengikat, belum tentu memiliki efek yang sama.

Pengalaman pahit dari jaminan Perjanjian Budapest pada tahun 1990-an belum terhapus dari ingatan politik Ukraina. Jaminan yang gagal mencegah invasi Rusia. Karena alasan ini, banyak analis meragukan efektivitas model ini, menganggapnya lebih sebagai kompromi politik yang rapuh daripada payung keamanan yang nyata.

Namun, keputusan Zelensky lebih merupakan tanda kelemahan daripada penerimaan realisme keras dalam politik internasional. Impian NATO bukan hanya tidak membawa keamanan bagi Ukraina, tetapi juga mengubahnya menjadi salah satu faktor yang mempercepat perang.

Sekarang, presiden Ukraina mencoba membuka jalan bagi berakhirnya perang dengan meninggalkan tuntutan simbolis ini. Perang yang kelanjutannya, alih-alih mengubah keseimbangan kekuatan, hanya akan menyebabkan erosi lebih lanjut bagi Ukraina.

Dari perspektif Rusia, penarikan ini dapat dianggap sebagai kemenangan politik, tetapi jaminan keamanan Barat yang luas untuk Ukraina, bahkan di luar NATO, masih dapat membuat kekhawatiran Moskow tetap hidup. Mungkin perbedaan utama bukan lagi tentang nama NATO, tetapi tentang isi sebenarnya dari kehadiran dan pengaruh Barat di Ukraina.

Pada akhirnya, penolakan Zelensky terhadap keanggotaan NATO menandai masuknya perang Ukraina ke fase baru. Suatu kondisi di mana cita-cita maksimalis telah memberi jalan pada kompromi minimal.

Apakah kompromi ini dapat mengakhiri perang berdarah atau hanya memberikan gencatan senjata sementara adalah pertanyaan yang jawabannya akan menentukan tidak hanya nasib Ukraina tetapi juga masa depan tatanan keamanan Eropa.(sl)