Rekor baru untuk Kejahatan dan Diskriminasi anti-Muslim di Eropa
https://parstoday.ir/id/news/world-i182964-rekor_baru_untuk_kejahatan_dan_diskriminasi_anti_muslim_di_eropa
Pars Today – Tahun 2025 bagi umat Muslim di Eropa disertai dengan gelombang Islamofobia yang belum pernah terjadi sebelumnya; mulai dari lonjakan tajam kejahatan berbasis kebencian dan ancaman di jalanan hingga diskriminasi struktural dalam pekerjaan, pendidikan, dan kehidupan sehari-hari, yang semakin mempertanyakan klaim Barat mengenai pembelaan hak asasi manusia dan kebebasan sipil.
(last modified 2025-12-25T07:25:56+00:00 )
Des 25, 2025 14:23 Asia/Jakarta
  • Rekor baru untuk Kejahatan dan Diskriminasi anti-Muslim di Eropa

Pars Today – Tahun 2025 bagi umat Muslim di Eropa disertai dengan gelombang Islamofobia yang belum pernah terjadi sebelumnya; mulai dari lonjakan tajam kejahatan berbasis kebencian dan ancaman di jalanan hingga diskriminasi struktural dalam pekerjaan, pendidikan, dan kehidupan sehari-hari, yang semakin mempertanyakan klaim Barat mengenai pembelaan hak asasi manusia dan kebebasan sipil.

Laporan European Union Agency for Fundamental Rights (FRA) tahun 2025 menunjukkan bahwa jumlah dokumentasi terkait tindak kriminal, ujaran kebencian, dan diskriminasi terhadap Muslim mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Fenomena ini tidak lagi terbatas pada serangan fisik, melainkan direproduksi setiap hari dalam mekanisme administratif, pasar kerja, dan ruang sosial.

 

Menurut laporan Pars Today, perempuan Muslim di Eropa, karena pakaian dan identitas keagamaan yang mudah dikenali, lebih rentan dibanding kelompok lain terhadap penghinaan, pelecehan di jalan, penghapusan dari peluang kerja, serta tekanan sosial. Survei resmi Uni Eropa juga mengungkapkan meningkatnya rasa diskriminasi di kalangan Muslim; sementara banyak korban enggan melapor karena ketidakpercayaan terhadap lembaga atau takut akan konsekuensi.

 

Di Inggris, kejahatan anti-Islam pada tahun 2025 mencapai puncaknya dan meluas dari ruang digital serta jalanan ke sekolah, tempat kerja, dan layanan publik. Lembaga pengawas kejahatan kebencian melaporkan rekor baru jumlah pengaduan; namun perdebatan mengenai definisi resmi Islamofobia di parlemen masih berlanjut dan menghambat kebijakan yang konsisten.

 

Di Prancis, pembunuhan seorang jamaah di masjid serta ancaman berulang terhadap tempat ibadah menimbulkan gelombang kekhawatiran. Laporan akademik juga menunjukkan meluasnya diskriminasi dalam kehidupan sehari-hari Muslim serta dampak langsung wacana politik dan media dalam memperburuk ketegangan.

 

Di Jerman, Kementerian Dalam Negeri mencatat ratusan kasus kejahatan bermotif Islamofobia, tetapi organisasi masyarakat sipil menekankan bahwa angka sebenarnya jauh lebih besar karena banyak kasus tidak dilaporkan.

Komisi Eropa memang menindaklanjuti isu kebencian anti-Islam dalam kerangka kebijakan anti-rasisme, namun para pengkritik menilai jarak antara retorika resmi dan realitas lapangan masih sangat lebar, dan beberapa kebijakan keamanan secara tidak langsung justru memperkuat diskriminasi terhadap Muslim.

 

Tahun 2025 menunjukkan bahwa Islamofobia di Eropa memiliki dua wajah sekaligus: kekerasan terang-terangan dan diskriminasi struktural yang senyap. Kontradiksi antara slogan hak asasi manusia Barat dan pengalaman nyata minoritas Muslim, menjelang tahun 2026, tetap menjadi salah satu tantangan utama yang belum terselesaikan di Eropa. (MF)