Peneliti Mesir: Amerika Bertindak Menurut Hukum Rimba
https://parstoday.ir/id/news/world-i183742-peneliti_mesir_amerika_bertindak_menurut_hukum_rimba
Pars Today – Seorang penulis dan peneliti asal Mesir menyamakan perilaku Amerika Serikat di tingkat internasional dengan “hukum rimba”, dan menegaskan bahwa penculikan presiden sebuah negara berdaulat merupakan pelanggaran nyata terhadap Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
(last modified 2026-01-07T16:40:58+00:00 )
Jan 06, 2026 21:12 Asia/Jakarta
  • Peneliti Mesir: Amerika Bertindak Menurut Hukum Rimba

Pars Today – Seorang penulis dan peneliti asal Mesir menyamakan perilaku Amerika Serikat di tingkat internasional dengan “hukum rimba”, dan menegaskan bahwa penculikan presiden sebuah negara berdaulat merupakan pelanggaran nyata terhadap Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Zahra Abou Shaban, penulis dan peneliti Mesir, dalam sebuah wawancara televisi menyoroti agresi militer AS terhadap Venezuela. Ia menekankan bahwa apa yang terjadi pada Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, dilakukan tanpa izin PBB dan merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap Piagam PBB serta hukum internasional.

 

Abou Shaban menambahkan bahwa penculikan seorang presiden dari negara berdaulat adalah peristiwa yang sangat jarang terjadi dan melemahkan sistem hukum internasional. Ia menegaskan bahwa tanpa adanya bantuan dan dukungan bagi negara-negara lemah, sistem keamanan kolektif akan terganggu dan memberi peluang bagi negara kuat untuk mendominasi.

 

Lebih lanjut, ia menyebut tindakan AS dalam memblokade Venezuela dan menculik presidennya sebagai praktik yang menyerupai hukum rimba. Ia bahkan memperingatkan bahwa apa yang menimpa Maduro bisa saja terjadi pada Presiden Kolombia.

 

Peneliti Mesir itu juga memperingatkan bahwa Amerika berusaha menundukkan sejumlah negara di bawah kendalinya, dan diperkirakan Amerika Latin akan menjadi target utama sebelum kawasan Arab.

 

Sementara itu, pemerintah Venezuela menyebut tindakan AS sebagai “invasi militer”, mengumumkan keadaan darurat, dan meminta diadakannya sidang darurat Dewan Keamanan PBB.

 

Sejumlah negara, termasuk beberapa sekutu AS, merespons dengan hati-hati dan menekankan pentingnya mematuhi prinsip hukum internasional dan Piagam PBB. Iran, Rusia, dan sejumlah negara lain mengecam tindakan Washington dan memperingatkan dampaknya terhadap stabilitas kawasan serta tatanan internasional. (MF)