Dewan Transisi Selatan Yaman Umumkan Penarikan Pasukannya dari Hadramaut
-
Hadramaut
Pars Today - Dewan Transisi Selatan yang didukung UEA mengumumkan pada hari Selasa (06/01/2026) bahwa pasukannya telah menarik diri dari provinsi Hadramaut yang strategis dan kaya minyak di timur Yaman.
Menurut pernyataan yang dipublikasikan di situs Dewan Transisi Selatan, Sekretariat Jenderal Dewan di Aden, yang dipimpin oleh Wakil Sekretaris Jenderal Nizar Haitham, mengadakan pertemuan rutinnya dan meninjau perkembangan terbaru di lapangan di Yaman selatan.
Pernyataan ini mengklaim bahwa situasi keamanan di Hadramaut menjadi tegang setelah "penarikan paksa pasukan selatan". Pertemuan itu juga merujuk pada upaya Arab Saudi dalam kerangka "solusi politik" dan penyelenggaraan dialog selatan di Riyadh.
Pada hari Sabtu, Arab Saudi menyerukan kepada semua gerakan selatan untuk berpartisipasi dalam pertemuan yang diselenggarakan oleh Riyadh untuk mengembangkan solusi terkait masalah selatan.
Dewan Transisi Selatan melanjutkan pertemuannya dengan menekankan “perlunya menemukan solusi mendesak untuk menjaga keamanan dan stabilitas” dan “mengarahkan perang ke arah tujuan yang menjadi dasar pembentukan koalisi Arab pimpinan Saudi”.
Dewan ini selalu bersikeras pada tuntutan separatisnya.
Sebaliknya, pemerintah Yaman yang memproklamirkan diri belum secara resmi menanggapi klaim Dewan Transisi.
Namun, pada Senin malam, Gubernur Hadramaut Salem Al-Khanbashi mengumumkan selesainya proses penyerahan barak kepada pasukan Dewan Transisi. Sebuah proses yang dimulai setelah keputusan Presiden Dewan Kepemimpinan Presiden Rashad Al-Alimi untuk menunjuknya sebagai komandan pasukan Perisai Tanah Air di Hadramaut.
Setelah pengerahan pasukan Perisai Tanah Air di Hadramaut, gubernur provinsi ini bertemu dengan komandan militer dan keamanan di kota Mukalla pada hari Selasa (06/01) untuk meninjau situasi lapangan terkini dan langkah-langkah terkait stabilisasi keamanan dan kembali ke kondisi normal.
Ia menekankan perlunya koordinasi antara unit militer dan keamanan untuk melaksanakan rencana lapangan.
Perkembangan terbaru ini terjadi ketika Yaman menyaksikan ketegangan yang belum pernah terjadi sebelumnya pada 30 Desember 2025, ketika Arab Saudi menuduh UEA mendukung gerakan militer Dewan Transisi di Hadramaut dan Al-Mahra.
Pada hari yang sama, koalisi Saudi mengumumkan penargetan pengiriman senjata "yang dikirim dari UEA" di Hadramaut, dan Al-Alimi membatalkan perjanjian pertahanan bersama dengan Abu Dhabi.
UEA membantah tuduhan itu, dan mengklaim bahwa pengiriman senjata itu dikirim semata-mata untuk pasukannya di Yaman. Abu Dhabi juga mengumumkan bahwa mereka akan menarik pasukan mereka yang tersisa dari Yaman.
Dewan Transisi Selatan Yaman terus bersikeras pada pemisahan Yaman selatan dari utara, sebuah klaim yang dibantah oleh pemerintah Yaman yang memproklamirkan diri dan bersikeras pada persatuan teritorial negara ini. Yaman mengambil bentuknya saat ini pada 22 Mei 1990, dengan penyatuan utara dan selatan.(sl)