Peringatan Rusia Soal Pemindahan Kedutaan AS ke Baitul Maqdis
Utusan Khusus Presiden Rusia untuk Timur Tengah, Mikhail Bogdanov menolak kemungkinan relokasi Kedutaan Besar Rusia dari Tel Aviv ke Baitul Maqdis di Palestina pendudukan, dan juga memperingatkan tentang implikasi pemindahan Kedutaan Amerika Serikat ke kota itu.
Duta Besar Israel untuk Rusia, Gary Koren dalam pertemuan dengan Bogdanov di Moskow, meminta negara itu untuk memindahkan kedutaannya dari Tel Aviv ke Baitul Maqdis.
Dalam menanggapi permintaan itu, Bogdanov mengatakan pemindahan Kedutaan AS ke Baitul Maqdis akan menjadi sebuah ujian yang sangat berat bagi keamanan dan kesepahaman di Timur Tengah, karena rakyat Palestina bahkan tidak senang jika ada yang menyinggung masalah itu.
Donald Trump dalam kampanye pemilu Presiden AS berjanji akan memindahkan kedutaan negara itu dari Tel Aviv ke Baitul Maqdis, di mana kota tersebut dianggap sebagai daerah pendudukan berdasarkan resolusi PBB yang mengikat.
Dalam pandangan pemerintahan Obama, pelaksanaan keputusan Trump akan berdampak negatif terhadap perundingan kompromi.
Keputusan tersebut akan memicu perlawanan besar-besaran dari rakyat Palestina dan protes luas dari kaum Muslim di negara-negara lain.
Dengan memperhatikan sensitivitas masalah Baitul Maqdis bagi rakyat Palestina dan bagi Dunia Islam secara umum, maka setiap tindakan Amerika untuk mengamini kebijakan ekspansionis Israel di Baitul Maqdis, akan memiliki konsekuensi politik, ekonomi dan keamanan bagi Washington.
Dalam hal ini, Uni Eropa tidak ingin melibatkan diri dalam manuver berbahaya yang dilakukan oleh AS di tanah pendudukan Palestina.
Pada Senin lalu, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Federica Mogherini, menyarankan pemerintahan Trump untuk tidak memindahkan Kedutaan AS dari Tel Aviv ke Baitul Maqdis.
"Uni Eropa akan mempertahankan kedutaan besarnya di Tel Aviv dan terus menghormati resolusi PBB yang menentang pencaplokan Israel atas timur al-Quds," tegasnya dalam konferensi pers di Brussels.
"Saya percaya bahwa sangat penting bagi kita semua untuk menahan diri dari tindakan sepihak, terutama yang memiliki konsekuensi serius di opini publik di sebagian besar dunia," tegas Mogherini.
Pada dasarnya, penolakan usulan rezim Zionis oleh Rusia dan Uni Eropa mengindikasikan bahwa masyarakat internasional cukup mengerti tentang dampak-dampak permintaan Israel.
Penolakan tegas itu menunjukkan bahwa masyarakat internasional menentang ide gila Trump. Negara-negara lain tidak ingin mengamini kebijakan ekspansionis Israel di kawasan.
Palestina tampaknya sedang membangun kontak dengan masyarakat internasional terutama Rusia, untuk mencegah pemindahan Kedutaan AS dari Tel Aviv dari Baitul Maqdis.
Ini juga menjadi peringatan bagi beberapa faksi Palestina agar tidak mengandalkan janji-janji AS untuk menyelesaikan masalah Palestina, karena Washington akan selalu menjadi pendukung setia rezim Zionis. (RM)