Perilaku Kontradiktif Sekjen baru PBB
Sekretaris Jenderal baru PBB melakukan kunjungan resmi ke Arab Saudi dan Qatar setelah melawat Turki.
Kunjungan Antonio Guterres ke Riyadh dan Doha –sebagai dua sumber utama ketidakamanan di kawasan dan dunia– bertentangan dengan kebijakan yang dideklarasikannya ketika ia baru menjabat sebagai Sekjen PBB.
Prioritas kunjungan ke Arab Saudi dan Qatar juga bertentangan dengan kebijakan Guterres yang telah diumumkannya sendiri di hari pertama tugasnya sebagai Sekjen PBB.
Antonio Guterres melakukan kunjungan dua hari ke Turki pada Jumat dan Sabtu (10-11/2/2017) dan membicarakan transformasi regional termasuk krisis Suriah dengan para pejabat tinggi Ankara.
Menurut rencana, Gutteres akan melanjutkan safarinya ke negara-negara Asia Barat dan akan dimulai dari Arab Saudi.
Gutteres di hari pertama menjabat secara resmi sebagai Sekjen PBB mengatakan bahwa prioritas pekerjaannya adalah membantu jutaan orang yang terjebak dalam konflik dan kekerasan di berbagai belahan dunia.
Ia juga menegaskan bahwa kemajuan dan kesejahteraan dunia memerlukan perdamaian dan ketenteraman.
Agenda kunjungan Sekjen baru PBB ke wilayah Asia barat dengan prioritas konsultasi di Arab Saudi tidak sejalan dengan keprihatinannya tentang kondisi dunia, sebab kebijakan Riyadh selama ini telah membahayakan perdamaian dan keamanan di kawasan dan dunia.
Arab Saudi sebagai sebuah negara yang berusaha memperkenalkan dirinya sebagai poros konsultasi memiliki peran nyata dalam eskalasi ketidakamanan di kawasan Timur Tengah, di mana instabilitas ini sekarang merembet hingga ke ibukota negara-negara Eropa.
Arab Saudi dan Qatar, selain memberikan dukungan nyata kepada kelompok-kelompok teroris Takfiri di Suriah, kedua negara itu –dengan bekerjasama dengan Amerika Serikat dan Inggris– memulai agresi militer ke Yaman sejak Maret 2015 dengan sandi "badai mematikan."
Serangan tersebut telah merenggut nyawa lebih dari 11.000 warga Yaman dan memporak-porandakan infrastruktur vital negara ini.
Selama agresi ke Yaman, Arab Saudi telah melakukan pelangaran Hak Asasi Manusia dan kejahatan perang serta kejahatan anti-kemanusiaan, di mana PBB sebagai pelopor perdamaian dan keamanan dunia bertanggung jawab khusus atas kejahatan tersebut.
Misi dan tugas utama PBB adalah untuk menjaga perdamaian dan keamanan dunia, di mana keterlambatan dalam menjalankan misi dan tugas ini di masa Ban Ki-moon menuai kritikan luas dari opini publik dunia. Namun anehnya, Gutteres justru mengikuti jejak pendahulunya dan bergerak bertentangan arah dari posisi yang ia umumkan sendiri.
Pendekatan PBB terhadap transfomasi dunia diambil dari pengaruh politik dan finansial negara-negara yang mereka sendiri menjadi bagian dari persoalan dunia, sehingga pendekatan ini telah menyebabkan dikeluarkannya Arab Saudi dari daftar pelanggar hak anak-anak Yaman di masa Ban menjadi Sekjen PBB.
Dengan demikian, kunjungan Guterres ke Arab Saudi sebagai tujuan pertama safarinya ke negara-negara Asia Barat pasca memikul jabatan sebagai Sekjen PBB merupakan kelanjutan dari jalur yang diambil Ban.
Arab Saudi adalah sumber munculnya terorisme dan pemikiran Wahhabisme adalah penyebar fenomena buruk ini, di mana hari ini, selain di Suriah, Irak dan Afghanistan, para teroris yang didukung Riyadh menampakkan keberadaannya di negara-negara Eropa dengan melancarkan aksi teroris dan pembunuhan.
Serangan Arab Saudi ke Yaman yang didukung AS dan Inggris, dan penggunaan senjata terlarang rezim Al Saud untuk membantai rakyat Yaman akan menyebabkan tanggung jawab yang dipikul Sekjen baru PBB menjadi perhatian opini publik dunia.
Kelanjutan pandangan politik di periode aktivitas Guterres seperti itu akan menyebabkan hilangnya harapan kepada PBB sebagai pelindung kepentingan rakyat dunia, dan dampak dari pendekatan tersebut adalah belanjutnya pembantaian terhadap rakyat tertindas Yaman, meluasnya terorisme dan tindakan memperalat HAM untuk memajukan kepentingan yang telah direncanakan sebelumnya. (RA)