Ancaman Serangan Rudal Taiwan ke Cina
-
tentara Taiwan
Taiwan baru-baru ini melakukan langkah di luar dugaan, untuk pertama kalinya Taiwan mengumumkan kemampuan serangan rudalnya ke Cina dan langkah semacam ini tidak diragukan akan memicu reaksi keras dari Beijing.
Feng Shih-kuan, Menteri Pertahanan pemerintah berkuasa Taiwan, Kamis (16/3) dalam laporannya kepada parlemen mengatakan, militer Taiwan memiliki kemampuan melancarkan serangan rudal ke Cina. Menurutnya, 11,4 milyar dolar akan dianggarkan untuk militer. Jumlah tersebut mengalami peningkatan sebesar satu persen dibandingkan dengan anggaran untuk militer tahun sebelumnya.
Akhir-akhir ini, terutama pasca berkuasanya Partai Progresif Demokratik, DPP di Taiwan, para petinggi Taiwan berusaha menerapkan kebijakan melawan Cina. Selain itu, naiknya Donald Trump menjadi presiden Amerika Serikat memberi peluang yang baik bagi petinggi DPP untuk tetap mempertahankan strategi memisahkan diri dari Cina demi memuaskan publik Taiwan setelah enam dekade.
Tapi tidak seluruh warga Taiwan yang berjumlah 24 juta jiwa itu sepakat dengan kebijakan anti-Cina yang diterapkan Partai Progresif Demokraitk, DPP dan lebih memilih tetap bersama Beijing daripada berkonfrontasi dengan negara itu. Para analis meyakini, hubungan kedua pihak di Semenanjung Taiwan itu selamanya bisa dijalin dengan baik karena alasan geopolitik, ekonomi dan keamanan, serta dapat berpengaruh efektif.
Kemungkinan besar pemerintah Taiwan akan membeli senjata-senjata canggih dari Amerika, atau petinggi Partai Progresif Demokratik akan berdalih, selama Cina masih menempatkan 800 unit rudal balistik di pesisir pantai dekat Taiwan, adalah hal yang logis jika Taipei juga berdiri menghadapi langkah Beijing itu untuk mempertahankan kedaulatan wilayahnya.
Cina delapan tahun lalu menjalin hubungan yang baik dengan Taiwan, karena Partai Kuomintang (KMT) tidak pernah bermaksud mengusik Cina, tapi yang lebih penting dari itu adalah hubungan dua sisi Semenanjung Taiwan tersebut sejak delapan tahun lalu menurun drastis. Saat ini Cina memusatkan perhatiannya untuk menjaga kondisi yang ada di dua sisi Semenanjung Taiwan.
Para pakar strategi mengatakan, kelompok separatis Taiwan tidak memiliki alat dan mekanisme untuk menekan Cina guna mewujudkan cita-cita nasionalisme lama mereka. Karena bukan hanya Amerika saja, tapi 27 negara anggota Uni Eropa kecuali Vatikan, lebih dari setengah negara-negara Amerika Latin dan Asia serta Afrika, mengumumkan komitmennya atas kebijakan "Satu Cina" dengan pusatnya Beijing.
Taiwan selama beberapa tahun ini gagal memperoleh bantuan regional dan kehilangan sebagian besar sekutunya di wilayah Amerika Latin dan Afrika. Selain itu, diplomasi dolar Taiwan juga dinilai tidak ampuh, karena Cina berhasil meraih popularitasnya di kawasan dan dunia setelah memberikan pinjaman dana jangka panjang dengan bunga minim kepada negara-negara terbelakang dan berkembang.
Akan tetapi, Cina terus berusaha menurunkan tensi ketegangan di dua sisi Semenanjung Taiwan dengan menggunakan diplomasi toleransi sehingga memungkinkan negara itu untuk mengontrol situasi dan mengelolanya. Namun kita tidak boleh lupa bahwa Cina juga berulangkali menegaskan, jika kelompok separatis ingin melangkah untuk meraih kemerdekaan resmi dari tanah air asli mereka, maka Beijing tak segan-segan untuk menggunakan cara-cara kekerasan. (HS)