Dibalik Pembelian Rudal S-400 Rusia oleh Turki
-
rudal S-400 Rusia
Menteri Pertahanan Turki mengabarkan rampungya proses pembelian sistem rudal S-400 Rusia oleh negara itu.
Fikri Isik, Menhan Turki, Sabtu (22/4) dalam jumpa persnya mengabarkan rampungya proses pembelian sistem rudal S-400 dari Rusia dan menuturkan, negara-negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara, NATO sampai sekarang tidak pernah memberikan alternatif pengganti yang baik bagi sistem pertahanan rudal Rusia ini.
Turki sebelumnya juga mengabarkan keinginan untuk memperkuat kemampuan militer negara itu dan hal itu disampaikan di saat ketegangan antara Ankara dengan Uni Eropa meningkat akibat masalah keanggotaan Turki di Uni Eropa atau pencabutan visa di antara kedua pihak, juga masalah gelombang pengungsi perang Suriah dari Turki ke Eropa dan penerimaan bantuan langsung Ankara dari Eropa.
Saat itu Turki mengumumkan perubahan kebijakan luar negerinya dan berpaling dari Barat serta mendekat ke Timur dengan memunculkan isu kerja sama militer dengan Cina. Isu pembelian senjata dan peralatan militer dan rudal dari Cina bahkan kerja sama dengan Beijing untuk membangun reaktor nuklir, juga disampaikan Turki kala itu.
Keinginan Turki bekerjasama dengan negara-negara Asia Timur termasuk Cina mendapat sambutan baik dari Beijing dan kedua negara bahkan sampai pada tahap penandatanganan kontrak senilai 3,4 milyar dolar untuk pembuatan sistem pertahanan rudal jarak jauh. Namun bujukan Eropa berhasil membuat Turki membatalkan perjanjiannya dengan Cina tersebut.
Sejak saat itu, hubungan Turki dengan Uni Eropa dan Amerika Serikat berlanjut meski dingin. Namun operasi militer Turki terhadap para pendukung kelompok Gulen yang dituduh terlibat dalam kudeta militer gagal di negara itu dan operasi aparat keamanan Turki menumpas Partai Buruh Kurdistan, PKK memperburuk hubungan kedua pihak. Kondisi yang semakin mendekatkan Turki dan Rusia secara perlahan-lahan. Permintaan maaf Recep Tayyip Erdogan, Presiden Turki kepada Vladimir Putin, sejawatnya dari Rusia di Ankara menambah tekad kedua pihak untuk melanjutkan kerja sama politik dan militer.
Sekarang, di bawah pengaruh transformasi regional dan internasional, kerja sama militer berada dalam agenda kerja Rusia dan Turki. Sepertinya masalah pembelian sistem rudal S-400 merupakan puncak kerja sama ini. Meskipun kalangan politik menilai transaksi penjualan sistem rudal S-400 Rusia oleh Turki semata-mata sebagai permainan kedua negara untuk mempengaruhi perimbangan kekuatan internasional.
Terutama karena secara teknis sistem rudal S-400 atau yang di NATO lebih dikenal dengan SA-21, daya jangkaunya lebih dari daya jangkau MIM-104 Patriot milik NATO, dan karena Rusia menyetujui penjualan sistem rudal S-400 ke Turki dalam kerangka pertemuan komisi bersama.
Realitasnya adalah bahwa Rusia dan Turki masing-masing mengejar tujuan yang berbeda dalam jual beli rudal ini. Rusia jelas menginginkan agar Turki menjauh dari NATO secara bertahap dan lewat penjualan rudal ini, selain bisa memperkuat fondasi ekonomi dan industri senjata serta rudalnya, kerja sama Moskow dengan salah satu sekutu Barat dan NATO itu diharapkan dapat semakin diperluas.
Pembelian rudal S-400 dari Rusia dan kerja sama militer dengan negara itu adalah indikasi bahwa hal tersebut menjadi alat bagi Turki untuk menarik perhatian Barat atas tuntutan-tuntutan politik, ekonomi dan keamanannya. Kenyataannya, banyak penafsiran politik terkait jual beli rudal S-400 Rusia dan Turki. Sekalipun kedua negara juga tidak menampik kemungkinan berlanjutnya kerja sama jika pihak Barat tidak berlaku sesuai keinginan mereka.
Mulai sekarang langkah awal untuk menguji kerja sama strategis dan militer sudah diambil oleh Turki dan Rusia. Strategi yang dapat berdampak langsung pada perimbangan kekuatan regional dan internasional. Walaupun beberapa kalangan politik di Turki sendiri menganggap langkah itu hanya sebagai permainan politik Ankara dan Moskow belaka. (HS)