Cina Peringatkan Amerika Soal Dampak Intervensi Urusan Laut Cina Selatan
Kementerian Luar Negeri Cina menegaskan bahwa masalah Laut Cina Selatan bukan masalah antara Beijing dan Washington dan mewanti-wanti Amerika agar tidak mencampuri urusan Laut Cina Selatan.
Dalam pernyataan yang dikeluarkan Kemenlu Cina yang mereaksi sikap Harry Harris, Komandan Militer Amerika di Asia-Pasifik soal Laut Cina Selatan ditekankan bahwa masalah Laut Cina Selatan adalah masalah regional. Baru-baru ini Harry Harris dalam sebuah pernyataan intervensif mengatakan, Amerika akan tetap melanjutkan patrolinya di laut ini.
Perselisihan Cina dan sebagian negara yang berada di sekitar Laut Cina Selatan seperti Filipina dan Vietnam dijadikan kesempatan oleh Amerika untuk mendukung negara-negara tersebut melawan Cina. Apa yang dilakukan Amerika ini selain mencampuri urusan Laut Cina Selatan, juga untuk menekan pemerintah Beijing. Washington memainkan kartu Cinaphobia di kawasan untuk menghidupkankembali perjanjian keamanan dan menciptakan aturan baru keamanan di kawasan.
Sebelumnya, Amerika menggunakan pengaruhnya dengan mendukung kelompok yang ingin memisahkan diri dari Cina di Taiwan dan mengritik kondisi hak asasi manusia di Cina. Tapi kini masalah lainnya seperti Laut Cina Selatan, uji coba nuklir dan rudal Korea Utara dan defisit perdagangan yang menguntungkan Cina serta krisis Suriah menjadi tema-tema yang digunakan untuk lebih menekan Cina. Dengan mencermati bahwa perselisihan terkait kepemilikan sejumlah kepulauan di Laut Cina Selatan mencakup sejumlah negara dan masalah penting bagi Amerika untuk meraih tujuan dan ekspansinya di timur dan utara Asia.
Cina percaya lebih dari 250 pulau yang berada di Laut Cina Selatan, dimana luasnya secara keseluruhan sekitar 15 ribu kilometer persegi merupakan miliknya. Tapi Malaysia, Filipina, Vietnam, Brunei dan bahkan Taiwan mengklaim sebagian pulau-pulau ini miliknya. Perselisihan ini membuat Amerika ingin menarik garis merah bagi Cina di Laut Cina Selatan. Pada tataran inilah para analis menyebut keinginan Amerika ini memperkeruh hubungan Washington dan Beijing.
Mira Rapp-Hooper, analis Barat soal Laut Cina Selatan meyakini pemerintah Donald Trump telah mulai menarik garis merah di Laut Cina Selatan. Satu hal yang tidak mungkin dapat mereka terapkan. Tapi garis-garis merah ini mungkin mencakup sanksi Laut Cina Selatan yang sangat berperan membuat hubungan dengan Beijing menjadi tidak stabil. Sikap ini juga akan memunculkan krisis dan seluruh dunia akan percaya bahwa Amerika bukan partner yang dapat dipercaya.
Menghadapi kenyataan ini, Cina berusaha menerapkan manajemen krisis di kawasan untuk tetap dapat mengontrol kebijakan agresif Amerika dan mencegah munculnya krisis. Karena terciptanya krisis dapat memberi pengaruh negatif pada proses perubahan ekonomi dan investasi di kawasan. Itulah mengapa Cina menuntut penggantian komandan militer Amerika di Asia-Pasifik agar kebijakan yang lebih netral dapat diterapkan di kawasan.
Namun bagaimanapun juga, risiko munculnya kontak senjata antara Cina dan Amerika di Laut Cina Selatan dapat dikontrol. Pada hakikatnya, kedua negara selama dua tahun belakangan telah saling berhadap-hadapan di Laut Cina Selatan, bahkan persaingan strategi keduanya telah mengalami peningkatan, tapi kedua pihak sepakat untuk mencegah terjadinya kontak senjata di Laut Cina Selatan. Dengan demikian, sekalipun Cina tegas membela kepentingannya di Laut Cina Selatan, tapi berusaha sebisa mungkin tidak terjadi perang di sana. Kebijakan yang dapat dikata berhasil menghadapi upaya agresif Donald Trump terhadap Cina.