Kekhawatiran Armenia Menyaksikan Azerbaijan Membeli Senjata Rusia
Menteri Pertahanan Armenia hari Rabu (28/6) menyampaikan kekhawatirannya atas penjualan senjata Rusia kepada Republik Azerbaijan.
Vigen Sargsyan, Menteri Pertahanan Armeni mengingatkan, Republik Azerbaijan sebuah negara yang tidak dapat diprediksi dikarenakan tidak memiliki mekanisme demokrasi. Oleh karenanya, tidak ada bedanya negara mana yang memberi senjata ke negara ini, baik itu Rusia, Israel atau Turki. Dari manapun juga senjata itu bakal meningkatkan kemungkinan bahaya.
Azerbaijan pada 24 Juni lalu menerima sejumlah senjata militer baru dari Rusia. Senjata ini rencananya akan dikirim ke garis terdepan medan perang menghadapi Armenia.
Menurut Menteri Pertahanan Azerbaijan, Zakir Hasanov, senjata yang baru diterima akan dipergunakan untuk memperkuat kemampuan perang dan manuver pasukan militer negara ini untuk menghancurkan kendaraan militer, persenjataan yang diperkuat, target udara dengan kecepatan rendah, pasukan berjalan kaki dan seluruh persenjataan musuh.
Tampaknya Rusia mulai menerapkan kebijakan yang fleksibel terkait kerjasama militernya dengan negara-negara kawasan Kaukasus selatan.
Pada tahun 2016, para pejabat Azerbaijan dan Rusia telah mencapai kesepakatan untuk memperluas kerjasama militer, khususnya di bidang pelatihan. Dalam kesepakatan ini juga ditekankan soal kerjasama keamanan dalam jaminan keamanan kawasan Laut Kaspia.
Kerjasama ini dilakukan dalam kondisi dimana Azerbaijan satu-satunya negara persemakmuran (Commonwealth of Nations) independen yang tidak menjadi anggota lembaga internasional manapun seperti NATO, Pakta Pertahanan Kolektif (CSTO), Organisasi Kerjasama Shanghai (SCO) atau Komunitas Ekonomi Eurasia (EAEU). Di sisi lain, Armenia sangat bergantung pada kerjasama militer dengan Rusia. Negara ini juga anggota EAEU yang dipimpin oleh Rusia dan berkali-kali menegaskan tidak akan menjadi anggota NATO.
Pendekatan yang dilakukan Rusia kepada dua negara di kawasan yang sering terlibat konflik perbatasan dan menciptakan perjanjian keamanan dengan kedua negara ini menunjukkan Rusia ingin memperluas hubungannya dengan kawasan Kaukasus selatan. Rusia berharap dapat mengatur dua pihak yang terlibat konflik ini untuk mencegah masuknya pengaruh pemain dari transk-regional ke kawasan.
Sekalipun Azerbaijan bukan anggota resmi NATO, tapi memiliki kerjasama dengan organisasi ini dan dapat berpotensi mengancam kepentingan Rusia. Azerbaijan berpotensi dipasang sistem instalasi anti rudal NATO dan mempermudah kehadiran pasukan asing di Laut Kaspia. Dengan mencermati semakin dekatnya hubungan Rusia dan Armenia, hubungan Rusia dengan Azerbaijan dapat mengurangi ketegangan kedua negara, sekaligus membantu pengelolaan konflik perbatasan.
Samuel Ramani, pakar politik luar negeri Rusia di Huffington Post menulis, kerjasama antara Rusia dan Azerbaijan tidak memiliki kapasitas berubah menjadi aliansi, tapi membantu kemajuan kerjasama di bidang militer dan ekonomi. Dengan demikian, Armenia juga dapat memanfaatkan kapasitas ini untuk mengontrol ketegangannya dengan Azerbaijan.