Pemantik Perang Dagang Uni Eropa dan AS
Menteri ekonomi Jerman, Brigitte Zypries menilai perusahaan-perusahaan negara ini akan terimbas sanksi baru yang dijatuhkan AS terhadap Rusia, dan mengingatkan potensi ancaman perang dagang Jerman dengan AS.
Zypries juga menyuarakan kesiapan Uni Eropa menghadapi keputusan terbaru yang diambil AS berdasarkan ketentuan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
Menteri ekonomi Jerman berharap sanksi ekonomi yang dilancarkan AS terhadap Rusia tidak menyasar Uni Eropa. Pejabat tinggi Jerman ini menegaskan bahwa ketetapan terbaru Kongres AS terhadap Rusia menyebabkan Washington memisahkan diri dari jalan besar yang ditempuh bersama dengan Uni Eropa sebelumnya.
Masalahnya, implementasi paket sanksi baru AS yang lebih ketat terhadap Rusia mencakup sejumlah perusahaan Eropa terutama Jerman, dan isu ini menjadi pemantik friksi baru antara Uni Eropa dan AS.
Di permukaan, sanksi baru terhadap Rusia yang disahkan DPR AS dan diratifikasi Senat negara ini bertumpu pada masalah pemisahan Crimea dari Ukraina yang bergabung dengan Federasi Rusia, krisis Suriah dan klaim intervensi Moskow dalam urusan pilpres AS di tahun 2016. Tapi di luar itu, AS berupaya menekan perekonomian Rusia dengan menargetkan pelemahan infrastruktur negara ini, terutama di bidang produksi minyak dan gas.
Masalah tersebut memicu reaksi keras dari para pemimpin Uni Eropa dan pejabat tinggi negara-negara Eropa, terutama Jerman. Negara-negara Eropa mengkhawatirkan dampak sanksi tersebut terhadap perusahaan-perusahaan selain AS.
Para analis ekonomi dan pejabat tinggi Eropa menilai sanksi baru AS terhadap Rusia tidak hanya mengincar kepentingan ekonominya di Eropa, tapi juga bertujuan untuk melemahkan ruang gerak perusahaan-perusahaan Eropa, lebih khusus yang bergerak di bidang energi.
Terkait hal ini, Gernot Erler, Koordinator urusan Rusia di pemerintahan Jerman melancarkan kritik keras terhadap AS, dan memandang ekspor sumber energi sebagai prioritas target AS dari sanksi Rusia, dan Washington berupaya membuka lapangan kerja di negaranya dari sanksi tersebut.
Sikap Jerman menentang AS tidak sendirian di Uni Eropa. Perancis juga mengkhawatirkan sanksi baru AS terhadap Rusia dan dampak buruknya terhadap perekonomian negaranya. Bahkan, menteri luar negeri Perancis, Jean-Yves Le Drian dalam statemen terbarunya menyebut sanksi AS terhadap Rusia ilegal dan bertentangan dengan aturan internasional.
Komisi Eropa menyatakan kesiapan pihaknya untuk menghadapi sanksi baru AS terhadap Rusia. Presiden Komisi Eropa, Jean-Claude Juncker mengatakan, Sanksi baru AS bisa memberikan dampak tidak menyenangkan yang akan mempengaruhi kepentingan keamanan energi Uni Eropa. Ditegaskannya, Slogan "Pertama Amerika" tidak bermakna kepentingan Eropa ditempatkan di akhir.
Sejatinya, friksi antara Washington dan Brussel bertumpu pada sikap kedua pihak terhadap Rusia ditinjau dari kepentingannya masing-masing. Di tangan Trump, kebijakan AS mengarah pada pelemahan Eropa yang dahulu menjadi mitra dekatnya. Tentu saja masalah ini akan berpengaruh serius terhadap hubungan kedua pihak.