Makna Pemecatan Steve Bannon
Gedung Putih dalam sebuah pernyataan pada Jumat (18/8/2017), membenarkan pemecatan Steve Bannon dari posisinya sebagai kepala Ahli Strategi Amerika Srikat.
Kabar pemecatan Bannon muncul hanya dua hari setelah mantan Direktur Komunikasi Gedung Putih, Anthony Scaramucci dalam sebuah acara televisi, menuding Bannon sebagai pembocor informasi di Gedung Putih ke media. Ia memperkenalkan Bannon sebagai seorang nasionalis kulit putih.
Surat kabar The New York Times baru-baru ini melaporkan bahwa Presiden Donald Trump sudah satu minggu menolak menerima Bannon di Oval Office Gedung Putih.
Ada banyak orang di Partai Republik yang menentang Bannon. Mark Salter, penasihat Senator John McCain, mengatakan bahwa selama orang ekstrim tersebut masih di Gedung Putih, Trump tidak akan punya kesempatan untuk menunjukkan kinerja yang tepat.
Trump secara bertahap akan memiliki tempat dalam struktur politik AS setelah memecat Bannon. Namun, belum ada kepastian kapan kepribadian Trump akan berubah.
Strategi politik Bannon sebenarnya telah menciptakan jarak antara Trump dan kubu Republik. Ia menekankan ekonomi nasionalisme, anti-globalisasi, diskriminasi internal, dan menarik Amerika dari intervensi militer di luar negeri. Ia juga menekankan kebijakan sanksi, penambahan pajak atas impor, dan perang perdagangan dengan Cina, Eropa, Meksiko, dan Kanada.
Mengenai kebijakan domestik, Bannon juga dikenal sebagai sosok anti-Muslim, anti-kulit hitam dan kulit berwarna, serta setuju untuk penerapan pembatasan yang ketat terhadap imigran.
Posisi Bannon tampaknya melemah drastis setelah John Kelly ditunjuk sebagai Kepala Staf Gedung Putih. Kelly bersama kubu penentang strategi Bannon, telah mencapai tujuan pertamanya yaitu menyingkirkan kubu nasionalis dari pemerintahan Trump.
Para pengamat politik percaya bahwa perang kekuasaan di Amerika telah mencapai puncaknya. Dengan kata lain, perang kekuasaan antara sistem yang berlaku di Amerika dengan Trump, telah memaksa presiden untuk mengorbankan Bannon demi menyelamatkan masa depan kepemimpinannya.
Namun, kubu nasionalis di Amerika tidak senang dengan keputusan Trump. Steve King, salah seorang tokoh konservatif DPR AS dari Iowa mengatakan, "Dengan pemecatan Steve Bannon, apa yang tersisa dari inti konservatif di Gedung Putih? Siapa yang akan melaksanakan agenda Trump?"
Saat ini ada tiga analisa mengenai masa depan pemerintahan Trump. Pertama, dengan pemecatan atau pengunduran diri orang-orang dekat Trump, pada akhirnya ia sendiri juga akan meletakkan jabatannya.
Kedua, Trump akan dimakzulkan dari kekuasaan, dan ketiga, Trump akan melanjutkan kekuasaannya, tapi masa depan Partai Republik dalam pemilu Kongres dan juga pilpres 2020 berada dalam bahaya. (RM)