Pernyataan Simbolis Suu Kyi tentang Genosida Muslim Rohingya
Pengungsi Muslim Rohingya di kamp-kamp pengungsi di Bangladesh menganggap pernyataan terbaru Aung San Suu Kyi, Menteri Luar Negeri Myanmar dan penasehat pemerintah negara itu sebagai menipu.
Suu Kyi pada akhirnya mengakhiri kebungkamannya terhadap genosida Muslim Rohingya oleh pemerintah Myanmar. Ia secara simbolis mengungkapkan kekhawatiran atas pelanggaran terhadap hak-hak Muslim Rohingya dan ia pun mengecam pelanggaran itu.
Para pengungsi Rohingya di Bangladesh menyebut posisi baru pemenang Hadiah Nobel Perdamaian itu sebagai sebuah penipuan publik. Mereka juga menuntut pemerintah Myanmar untuk mengizinkan masyarakat internasional mengunjungi Provinsi Rakhine guna menyusun laporan tentang kejahatan pemerintah negara ini terhadap Muslim Rohingya.
Bersamaan dengan Sidang Majelis Umum PBB, Menlu Myanmar mengungkapkan apa yang ia sebut sebagai "simpati" terkait dengan pembunuhan Muslim Rohingya. Hal itu tentunya bertujuan untuk mengurangi tekanan internasional terhadap pribadinya. Sebab, Suu Kyi yang menganggap dirinya sebagai pembela Hak Asasi Manusia dan kebebasan, selama ini menuai tekanan keras internal, regional dan internasional disebabkan kebungkamanan atas genosida Muslim Rohingya.
Masyarakat internasional menuntut Menlu Myanmar itu untuk mengakhiri kejahatan militer dan ekstremis Budha di negaranya. Menyusul kejahatan terhadap Muslim Rohingya, Suu Kyi yang dahulu dihormati oleh rakyat Myanmar, kini dianggap sebagai pihak yang bekerjasama dengan "para penjahat."
Seperti dikutip ISNA, William Hague, mantan Menlu Inggris mengatakan, "Langkah anti-Muslim Rohingya di Myanmar merupakan salah satu kekerasan yang tidak terbatas terhadap komunitas sipil, namun tidak ada catatan akurat mengenai orang-orang yang terbunuh di Provinsi Rakhine di barat di Myanmar. Di provinsi ini, desa-desa dibakar dan terjadi langkah-langkah otoriter seperti pembunuhan dan pemerkosaan."
Terusirnya penduduk Muslim Rohingya dari rumah dan tempat tinggal mereka membawa dampak tersembunyi yang sangat banyak, seperti hancurnya keluarga, terampasnya pendidikan anak-anak, meluasnya kemiskinan dan kelaparan, meluasnya persoalan kesehatan dan munculnya berbagai penyakit. Jika suatu saat, mereka kembali ke rumah-rumah mereka, mereka juga akan menderita banyak masalah dan ganguan sosial, mental dan psikologis.
Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi seperti dikutip oleh Associated Press mengatakan, "Banyak pengungsi Muslim Rohingya yang terkena penyakit menular dan menderita gizi buruk. Fasilitas medis yang ditempatkan di kamp-kamp perbatasan untuk mengobati para pengungsi tidak memadai. Sebagian dari mereka menderita luka tembak dan memerlukan operasi."
Roble Olhaye, mantan Wakil Tetap Djibouti untuk PBB dan anggota Kelompok Organisasi Kerjasama Islam seperti dilansir Ava Press mengatakan, serangan terhadap Muslim Rohingya merupakan pembersihan etnis, dan para pejabat Myanmar tidak mengambil tindakan yang diperlukan untuk mencerabut kekerasan di negara ini, oleh sebab itu, mereka gagal.
Yang pasti, pernyataan Aung San Suu Kyi tentang kondisi Muslim Rohingya yang dianggap sebagai penipuan publik, akan melemahkan posisinya. Sementara masyarakat dunia menuntut perempuan berpengaruh di Myanmar itu untuk melakukan tindakan praktis guna menghakhiri genosida terbesar dalam sejarah kontemporer ini.
Identifikasi Muslim Rohingya sebagai warga negara Myanmar, kembalinya para pengungsi ke rumah-rumah mereka dan penyusunan laporan independen terkait dengan kejahatan pemerintah dan militer Myanmar di berbagai wilayah Muslim di negara ini, merupakan tuntutan kalangan internasional kepada Aung San Suu Kyi. Jika hal itu dipenuhi, ia kan memiliki peluang untuk membela diri dalam sejarah dan memisahkan diri dari para penjahat. (RA)