Konferensi Donor untuk Suriah
-
Pengungsi di Eropa
Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif berkunjung ke London atas undangan resmi timpalannya dari Inggris Philip Hammond, untuk berpartisipasi dalam Konferensi Internasional Mendukung Suriah dan Kawasan.
Lebih dari 70 kepala negara dunia, termasuk Perdana Menteri Inggris David Cameron dan Kanselir Jerman Angela Merkel, berkumpul di London pada hari Kamis (4/2/2016), untuk memberikan dukungan mereka kepada pengungsi Suriah. Pertemuan itu juga dihadiri oleh sekretaris jenderal PBB, pimpinan organisasi internasional, LSM, dan perwakilan sektor swasta.
Para peserta akan membahas perihal pengumpulan donasi untuk rakyat Suriah, program bantuan jangka panjang kepada pengungsi Suriah baik di dalam negeri maupun di negara-negara tetangga, mekanisme penempatan pengungsi, dan juga masalah pendidikan sekitar 700 ribu anak-anak pengungsi Suriah.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah meminta dana 7,73 miliar dolar untuk membantu rakyat Suriah pada tahun 2016. Sebesar 7 miliar dolar sedianya juga disalurkan untuk rakyat Suriah tahun lalu, tapi menurut sejumlah laporan dana itu hanya terkumpul kurang dari setengahnya.
Selama ini, bantuan yang diprogram untuk pengungsi Suriah bersifat jangka pendek, sementara penyelesaian krisis pengungsi dan pemulangan mereka ke negaranya mungkin membutuhkan waktu bertahun-tahun. Untuk itu, konferensi London mengagendakan pembahasan tentang program pendidikan anak-anak dan penempatan pengungsi Suriah.
Langkah seperti itu dan penyediaan dana merupakan sebuah terobosan penting, namun hal yang lebih penting adalah berupaya memecahkan krisis Suriah serta menghentikan kekerasan yang membuat rakyat Suriah dan Irak mengungsi.
Sayangnya, beberapa kekuatan Barat dan pendukung kelompok-kelompok teroris justru meningkatkan tekanannya terhadap pemerintah Damaskus agar menerima tuntutan-tuntutan pemberontak. Damaskus sekarang menghadapi banyak tekanan. Tekanan itu meningkat setelah militer Suriah berhasil membebaskan sejumlah daerah dari pendudukan teroris lewat dukungan udara Rusia.
Masalah pengungsi sekarang menjadi sebuah perkara serius dan langkah-langkah ketat yang diterapkan oleh sebagian negara Eropa dalam satu bulan terakhir, telah memperburuk masalah tersebut. Sementara itu, Turki juga belum mengambil langkah-langkah signifikan untuk menangani pengungsi meski sudah menerima dukungan dana dari Uni Eropa.
Pemerintah Turki dan Arab Saudi lebih tertarik untuk melanjutkan dukungannya kepada kelompok teroris ISIS. Langkah ini praktis menghalangi kesuksesan perundingan damai Suriah.
Penguasa Saudi mengadopsi kebijakan tebar konflik dan ketegangan dalam kerjasama regional. Turki sebagai penebar konflik juga berusaha merusak peran efektif Rusia dalam menumpas ISIS dengan berbagai alasan dan klaim tak berdasar.
Jadi, pengungsi tidak semestinya dianggap sebagai sebuah masalah, karena penderitaan mereka disebabkan oleh ulah negara tertentu yang ingin menggulingkan pemerintah sah Suriah dan memecah Timur Tengah. Mengungsi bukan pilihan rakyat Suriah dan penderitaan itu telah dipaksakan atas mereka.
Konferensi London – sebagai kelanjutan upaya PBB untuk menyelesaikan krisis Suriah – harus membuat keputusan-keputusan penting dan di samping itu, dunia juga harus segera menghentikan perang dan terorisme di kawasan. (IRIB Indonesia/RM)