Persiapan Turki untuk Menggelar Operasi Militer di Afrin Suriah
-
Militer Turki.
Militer Turki dilaporkan sedang bersiap-siap untuk melancarkan serangan ke distrik Afrin di barat laut Provinsi Aleppo, Suriah. Sebuah sumber keamanan mengatakan, pasukan Turki telah disiapkan untuk menggelar operasi militer di berbagai daerah antara Provinsi Idlib hingga ke kota Afrin di Provinsi Aleppo.
Disebutkan pula bahwa pasukan keamanan Turki telah mengambil langkah-langkah keamanan ketat di distrik Kumlu di provinsi perbatasan, Hatay. Militer Turki juga mendirikan rumah sakit lapangan di sepanjang perbatasan dengan Suriah sebagai mukhadimah dimulainya operasi serangan ke kota Afrin.
Menyusul pendudukan sebagian wilayah Suriah oleh militer Turki, maka ketegangan dan konflik antara militan Kurdi dan tentara Turki diperkirakan akan meningkat dalam beberapa hari mendatang.
Sebelumnya, miilter Turki menduduki wilayah Suriah dan Irak dengan dalih menumpas kelompok-kelompok teroris seperti Daesh (ISIS), namun pada praktiknya, mereka memerangi milisi Kurdi di kedua negara tersebut.
Turki meluncurkan operasi militer bersandi "Perisai Eufrat (Furat)" pada tanggal 24 Agustus 2016 dan masuk ke distrik Jarabulus, Provinsi Aleppo, dengan dalih membersihkan daerah-daerah perbatasan dari keberadaan teroris. Pemerintah Ankara mengumumkan bahwa operasi ini akan menciptakan zona aman seluas 5.000 kilomter persegi di Suriah utara.
Sebelum itu, Bekir Bozdag, Wakil Perdana Menteri Turki dalam wawancara televisi pada tanggal 30 November 2017 mengatakan, keberhasilan operasi Perisai Furat –untuk membersihkan sejumlah wilayah di Suriah utara termasuk kota al-Bab dan penciptaan berbagai wilayah yang kosong dari bentrokan di Idlib– telah membuat para pejabat Ankara berkesimpulan bahwa kota Afrin juga sangat penting bagi Turki, oleh kerena itu, pemerintah tidak tinggal diam menyaksikan ancaman dari kelompok Kurdi Suriah seperti YPG (Unit Perlindungan Rakyat) di kota tersebut.
Kebijakan Turki itu menuai penentangan serius dari Suriah. Pemerintah Damaskus mengecam keras dan menyebut langkah Ankara tesebut sebagai bukti nyata atas pelanggaran kedaulatan nasional Suriah. Pihak-pihak internal Turki, regional dan internasional juga menentangnya, bahkan masyarakat Turki di dalam dan luar negeri menggelar unjuk rasa luas untuk menentang kebijakan Presiden Recep Tayip Erdogan. Di Parlemen Turki, banyak wakil dari partai-partai oposisi mengkritik keras kebijakan pemerintah Erdogan.
Pelangaran terhadap integritas teritorial Suriah juga menuai reaksi dari sejumlah sekutu Turki. Mark Toner, juru bicara Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat mengatakan, Washington sangat prihatin atas tidak adanya koordinasi Turki dalam menyerang posisi sekutu AS (Kurdi) di wilayah Suriah dan Irak.
Sementara itu, sejumlah politisi Turki mereaksi dukungan AS kepada Kurdi Suriah. Terkait hal itu, Hasan Bitmez, Wakil Ketua Partai Saadet Turki (Felicity Party) mengatakan, AS memperkuat pasukan Kurdi di Suriah utara dengan cara mengirim senjata-senjata canggih kepada pasukan anti-Turki itu.

Sebenarnya, sejumlah partai aktif Turki khawatir atas dipersenjatainya pasukan Kurdi Suriah oleh AS. Mereka menganggap langkah tersebut sebagai kebijakan merusak baru yang dilakukan pemerintah Washington di kawasan. Di sisi lain, kebijakan keliru pemerintah Ankara terutama terkait dengan negara-negara tetangga Turki juga akan memunculkan persoalan di dalam negeri ini dan juga akan menjadi masalah bagi pemerintah dan rakyat Turki di masa mendatang.
Pemimpin partai-partai oposisi Turki telah sering kali menuding pemerintah Erdogan menjadi alat asing untuk melaksanakan proyek-proyek Barat di kawasan. Kebijakan-kebijakan keliru pemerintah Ankara di kawasan terkadang juga menuai kritikan serius dari internal Turki dan sejumlah pemerintah regional. Oleh karena itu, para pejabat Ankara harus mencurahkan lebih banyak waktu untuk mengambil keputusan strategis dan taktis mereka. (RA)