Mencermati Goncangan Politik di Australia
-
Malcolm Turnbull, Perdana Menteri Australia
Menyusul pengunduran diri sepuluh menteri di kabinet Malcolm Turnbull, Perdana Menteri Australia, pemerintah negara ini berada dalam kondisi yang sangat rapuh.
Pengunduran diri terjadi dalam pemilihan untuk menentukan ketua partai Liberal, dimana Turnbul meraih 48 suara dan berhasil mengalahkan Peter Dutton, Menteri Dalam Negeri dan saingannya hanya berhasil meraup 35 suara. Turnbull hanya menerima pengunduran diri Peter Dutton dan Concetta Fierravanti-Wells, Menteri Pembangunan Internasional.
Ketegangan dan perselisihan pendapat di dalam tubuh partai berkuasa Liberal semakin menguak ketika M. Turnbull, Perdana Menteri Australia melihat partainya enggan mendukung rencananya untuk mengurangi gas rumah kaca. Apa lagi sebagian menteri di kabinetnya menyatakan kami akan menyerahkan surat pengunduran diri kepada perdana menteri. Banyak yang melihat transformasi politik Australia sebagai kudeta partai terhadap perdana menteri. Karena kondisi yang membuat pemerintahannya menyaksikan kondisi paling tidak stabil sejak 11 tahun sebelumnya.
Editor televisi ABC Australia menyampaikan analisanya terkait kondisi pemerintah Turnbull dan berkeyakinan, goncangan politik di kabinet Turnbull semakin bertambah dan sejumlah menteri yang lain menyatakan akan segera bergabung dengan antrian mereka yang mengundurkan diri, dimana kondisi ini membuat kabinetnya sangat rapuh. Kenyataan ini membuat Turnbull akan bermasalah ketika bersaing dengan Bill Shorten, Ketua Partai Buruh dalam pemilu mendatang.
Meskipun Turnbull telah berhasil tetap menjadi pemimpin partai Liberal dalam pemilu internal, namun ia menghadapi oposisi yang meluas dari pejabat partai senior. Sementara Dutton mengancam akan melanjutkan usahanya untuk menyingkirkan Malcolm Turnbull dari kursi ketua partai Liberal dan Perdana Menteri Australia. Meskipun Turnbull mengklaim untuk terus memegang urusan partai dan pemerintah serta dapat mengatasi masalah, tetapi mengingat fakta bahwa partai Liberal sedang mempersiapkan diri untuk pemilihan 2019, munculnya perselisihan dalam partai ini dapat membuat saingannya, khususnya partai Buruh berharap dapat memenangkan pemilu yang akan datang.
Tampaknya, titik perubahan di kabinet Turnbull ketika Dutton mengundurkan diri. Ia dikenal sebagai pribadi yang keras dan rasis lewat kebijakannya yang anti imigran gelap. Dutton bahkan lebih konservatif dari Turnbull. Ia mengendalikan kementerian yang besar mencakup polisi, imigrasi dan intelijen.
Dutton menindak para imigran gelap dengan perlakuan yang sangat buruk. Sebuah kebijakan yang sangat tidak manusiawi, sehingga berkali-kali diprotes dan dikecam dunia. Selain itu, ia memerintahkan para imigran gelap yang ditangkap untuk dikirim ke tempat penampungan yang sangat buruk kondisinya dan tidak manusiawi.
Allison Bettison, pakar masalah internasional mengatakan, kebijakan pemerintah Australia bertentangan dengan aturan internasional dan tidak manusiawi. Di tengah masyarakat modern, langkah-langkah seperti ini tidak dapat diterima. Australia sebagai negara penandatangan konvensi pencari suaka berkomitmen untuk memberi tempat bagi para pencari suaka. Sikap pemerintah Australia menolak pencari suaka merupakan pelanggaran hak imigran gelap dan sangat memalukan.
Namun beberapa kalangan di Australia percaya bahwa pengunduran diri Dutton dari kabinet akan memberikan kesempatan kepada Perdana Menteri Australia untuk mengakhiri pelanggaran hukum internasional dengan mengubah dan meninjau kembali undang-undang yang berurusan dengan imigran gelap. Mencermati penentangan rakyat Australia terhadap perlakuan tidak manusiawi terhadap imigran gelap, kelanjutan dari situasi ini dapat berakhir dengan kerugian partai Liberal pada pemilihan mendatang.