Babak baru Perang Dagang AS-Cina
-
AS-China
Presiden Amerika Serikat Donald Trump melalui pendekatan proteksionisme ekonomi dan penerapan tarif produk impor secara praktis telah memasuki perang dagang dengan kekuatan ekonomi besar dunia.
Pertama-tama pemerintah Trump menerapkan tarif 25 persen dan 10 persen terhadap produk impor baja dan aluminium. Sikapnya ini jelas menentang dunia dan menuai protes luas dari mitra dagang Amerika. Di sisi lain, mitra AS juga melakukan langkah balasan dengan menerapkan kebijakan serupa terhadap produk impor dari Amerika.
Di sisi lain, Trump dengan menerapkan tarif baru terhadap perdagangan Cina, salah satu mitra dagang terbesar Washington, telah menabuh genderang perang dagang dengan Beijing yang dimulai sejak 6 Juli 2018. Di fase ini Amerika menerapkan tarif senilai 50 miliar dolar terhadap produk impor dari Cina.
Fase kedua perang dagang dimulai sejak Senin (17/9). Terkait hal ini, Trump pada hari Senin meningkatkan perang dagang terhadap Cina dan menyatakan, Amerika akan menerapkan tarif 10 persen terhadap 200 miliar dolar produk impor dari Cina. Trump juga mengecualikan sejumlah produk Cina dari tarif tersebut.
Trump mengancam, Jika Cina menerapkan langkah serupa terhadap petani atau industri Amerika sebagai aksi balasan, Kami di fase ketiga kebijakan terhadap Cina akan menerapkan tarif terhadap 267 miliar dolar lain terhadap produk impor dari Cina.
Seorang petinggi pemerintah Amerika mengatakan, tarif yang telah ditentukan akan diberlakukan mulai 24 September dan volumenya hingga akhir tahun akan mencapai 25 persen. Peningkatan bertahap tarif dilakukan dengan alasan bahwa perusahaan AS memiliki waktu yang cukup untuk mencari negara pengganti guna memenuhi kebutuhannya.
Pemerintah Amerika mengklaim bahwa tujuan dari penerapan tarif baru terhadap produk Cina adalah menekan Beijing untuk mengubah kebijakan mendasarnya terkait perdagangan, transfer teknologi dan alokasi subsidi terhadap industri teknologi di tingkat tinggi.
Meski demikian perang tarif AS dengan Cina cenderung menimbulkan reaksi balasan Beijing ketimbang berhasil menundukkan negara ini untuk mengikuti tuntutan Washington.
Cina dalam responnya, pertama-tama menerapkan langkah serupa terhadap produk Amerika. Trump sejak berkuasa senantiasa menyebut perdagangan bebas sebagai faktor utama instabilitas ekonomi negaranya dan mengancam akan membendung perdagangan bebas, padahal pandangan pemimpin negara besar khususnya kekuatan ekonomi baru seperti Cina dan negara yang bertumpu pada ekspor seperti Jerman serta Dana Moneter Internasional (IMF), kebijakan proteksionisme dan anti perdagangan bebas bukan saja menimbulkan dampak merusak bagi perekonomian global, bahkan merugikan negara yang menerapkan kebijakan seperti ini.
Sepertinya perang dagang Trump dengan Cina akan menelan biaya besar dan sangat merusak dari yang diprediksikan sebelumnya. Perang ini akan menimbulkan dampak merusak bagi lapangan kerja di Amerika dan bila dibanding dengan lapangan kerja yang berhasil dibuka melalui kebijakan ini, peluang kerja lebih besar musnahnya.
Namun mengapa dampak dari masalah ini sangat besar? Theodore H. Moran, pakar ekonomi mengatakan, alasannya adalah perang dagang konvensional tidak melalui penggunaan tarif bea cukai sesuai dengan rantai pasokan global di dunia saat ini.
Bagaimanapun juga kinerja Trump menunjukkan bahwa sikap mundurnya dari tuntutan luar biasa perdagangan sekedar upaya presiden Amerika ini untuk meraih konsesi baru. (MF)