Cina dan Aksi Boikot Minyak AS
-
Perang dagang Cina dan AS
Pemerintah Cina menghentikan secara total pembelian minyak dari AS.
Xie Chunlin, Presiden China Merchants Energy Shipping Co (CMES) dalam wawancara dengan Reuters baru-baru ini menyatakan negaranya menghentikan secara total pembelian minyak mentah dari AS sebagai kelanjutan dari friksi yang semakin memanas antara Beijing dengan Washington.
Chunlin juga menyerukan kepada pengusaha dan perusahaan minyak swasta Cina supaya tidak mengimpor minyak mentah dari AS.
Langkah pemutusan total pembelian minyak mentah tersebut melanjutkan keputusan sebelumnya yang telah memangkas pembelian minyak mentah dari AS.
Berdasarkan pelacakan data yang dilakukan Refinitiv Eikon, pengiriman minyak mentah AS ke Cina mengalami penurunan tajam. Dilaporkan, bulan September anjlok menjadi hanya 600.000 perbarel, padahal bulan sebelumnya sebesar 9,7 juta barel.
Perang dagang antara AS dan Cina dimulai sejak AS memberlakukan kenaikan tarif bea masuk impor produk baja dan alumunium dari Cina yang diumumkan Donald Trump pada Maret 2018 lalu.
Pengamat ekonomi Cina, Wang Zhimming mengatakan, aksi AS bertujuan untuk mengintimidasi Beijing di pasar global, tapi langkah tersebut justru menjadi bumerang bagi AS dalam perang dagang dengan Cina.
Program ekonomi Cina menghentikan total pembelian minyak mentah dari AS bisa meningkatkan neraca perdagangan positif bagi Beijing dalam hubungan perdagangan dengan AS.
Apalagi sebelumnya terjadi surplus perdagangan Cina di bulan Agustus sebesar 31 miliar dolar dibandingkan dengan AS. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 18,7 persen.
Berbeda dengan prediksi Trump dan para penasehat ekonominya mengenai reaksi Cina dalam perang dagang dengan AS, langkah cerdas Beijing menghentikan secara total pasokan minyak dari AS menunjukkan kesiapan Cina menghadapi berlanjutnya perang dangan ini.
Sebelumnya, Cina mengambil langkah balasan dengan menaikkan bea masuk sejumlah barang dari AS. Tidak hanya itu, Beijing juga mengadukan AS ke WTO karena menaikkan bea masuk impor baja dan alumunium dari Cina.
Selain memutus total pasokan minyak mentah dari AS, Cina memberlakukan bea masuk impor minyak mentah dari AS sebesar 25 persen bagi perusahaan swasta yang masih mengimpornya.
Langkah Cina ini akan mendorong perusahaan-perusahaan swasta Cina meninggalkan pembelian minyak mentah dari AS dan mengalihkannya ke negara-negara Timur Tengah, termasuk Iran.
Warren Peterson, analis energi internasional mengatakan, "Cina memainkan peran kunci dalam strategi penjualan minyak Iran di pasar Asia. Dengan mempertimbangkan memburuknya hubungan antara AS dan Cina akibat perang dagang kedua negara, besar kemungkinan Beijing tidak akan memperdulikan permintaan Washington,".
Selain memberlakukan bea masuk 25 persen bagi perusahaan swasta Cina yang masih membeli minyak dari AS, pemerintah Cina juga memberikan regulasi pembayaran minyak mentah Iran menggunakan mata uang Yuan. Dua faktor ini menyebabkan perusahaan-perusahaan Cina semakin antusias untuk membeli minyak dari Iran.
Kebijakan Cina menghentikan secara total pembelian minyak dari AS dari pada mengikuti dikte Washington untuk memboikot minyak Iran menunjukkan kegagalan unilateralisme AS. Keputusan negara pembeli terbesar kedua minyak mentah AS ini mengindikasikan kegagalan kebijakan Washington dalam perang dagang dengan Beijing.(PH)