Misi Bisnis AS Di Balik Perang Afghanistan
https://parstoday.ir/id/news/world-i62802-misi_bisnis_as_di_balik_perang_afghanistan
Survei baru Pew Research Center mencatat mayoritas warga Amerika percaya bahwa Amerika Serikat telah gagal di Afghanistan setelah 17 tahun menduduki negara itu.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Okt 08, 2018 14:31 Asia/Jakarta
  • Amerika Serikat menyerang dan menduduki Afghanistan pada tahun 2001.
    Amerika Serikat menyerang dan menduduki Afghanistan pada tahun 2001.

Survei baru Pew Research Center mencatat mayoritas warga Amerika percaya bahwa Amerika Serikat telah gagal di Afghanistan setelah 17 tahun menduduki negara itu.

Menurut survei yang dilakukan baru-baru ini, warga tetap pesimis dengan upaya AS di Afghanistan. Setengah dari responden mengatakan AS telah gagal dalam mencapai tujuannya dan menyerukan penarikan pasukan AS dari negara tersebut.

Kegagalan pasukan AS dan NATO di Afghanistan juga dapat dilihat dari statistik dan laporan yang rutin dirilis mengenai sepak terjang mereka di negara itu.

AS menyerang dan menduduki Afghanistan pada tahun 2001 dengan dalih memerangi terorisme, menciptakan keamanan, dan memperbaiki situasi negara itu. Namun, kematian warga sipil meningkat tajam dalam serangan teroris selama 9 bulan terakhir. PBB menyatakan serangan itu naik 46 persen dibandingkan tahun lalu.

Selama kehadiran pasukan AS dan NATO, produksi opium mencatat peningkatan di Afghanistan dan masyarakat juga sangat tertekan akibat pendudukan pasukan asing. Ini hanya bagian kecil dari penderitaan yang dihadapi rakyat Afghanistan di tengah kehadiran pasukan AS.

Tragisnya lagi, pasukan AS sendiri telah menjadi pemicu kekacauan dan serangan teroris di Afghanistan. Organisasi non-pemerintah, Civilian Protection Advocacy Group (CPAG) dalam sebuah laporan mengatakan pada September 2018 saja, lebih dari 100 warga sipil tewas dalam serangan udara AS dan NATO di 12 distrik Afghanistan.

Pengamat masalah Afghanistan, Abdul Latif Nazari menuturkan, "Strategi militer AS di Afghanistan telah menjadi penyebab utama meluasnya kekacauan dan instabilitas serta meningkatnya aktivitas kelompok teroris. AS mengejar misi yang lebih besar dari sekedar kehadiran militer di Afghanistan dan mereka tidak menginginkan perdamaian di sana."

Meskipun Afghanistan negara miskin dan terjebak perang saudara, namun negara itu memiliki letak geografi yang strategis dan mineral langka yang bernilai antara 1-3 triliun dolar. Oleh karena itu, AS menunggu kesempatan untuk mengeruk sumber daya alam Afghanistan.

"Strategi AS di Afghanistan menuju ke arah kepentingan bisnis. Dengan mengangkat isu eksploitasi mineral Afghanistan, AS akan menemukan alasan yang tepat untuk kehadiran di sana. Ini akan dimanfaatkan oleh sayap kanan Partai Republik untuk mengatakan bahwa kehadiran di Afghanistan menguntungkan dan menutupi kegagalan mereka," kata ahli strategi kebijakan luar negeri, Michael Hughes.

Menurut Hughes, langkah itu adalah taktik politik Presiden Donald Trump untuk menunjukkan bahwa ada alasan kuat bagi AS untuk tetap di Afghanistan.

Alasan lain Trump memilih untuk meningkatkan kehadiran AS di Afghanistan adalah pengaruh yang semakin besar dari kekuatan politik dan ekonomi di Timur. "Dia ingin mengirim pesan ke Cina," kata Hughes.

Selama ini, para komandan AS di Afghanistan bersikeras untuk mempertahankan kehadiran militer.

Ini akan menjadi kabar buruk bagi rakyat Afghanistan bahwa AS bukan hanya tidak memikirkan keamanan negara itu, tetapi malah ingin mengejar kepentingan bisnis dan mengeruk kekayaan rakyat Afghanistan. (RM)