Jejak AS dalam Kudeta Gagal di Turki
-
Presiden AS Donald Trump dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.
Ankara menuduh mantan Duta Besar AS untuk Turki, John Bass terlibat dalam kudeta gagal pada 15 Juli 2016 dan mengambil langkah ilegal dengan mendorong imigran Afghanistan membanjiri Turki.
"John Bass terlibat dalam kudeta gagal di Turki dan ia mendukung aksi itu," ujar Menteri Dalam Negeri Turki Suleyman Soylu.
Percobaan kudeta di Turki pada Juli 2016 menewaskan 249 orang dan menciderai 2.193 lainnya.
Surat kabar Star yang dekat dengan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) pada hari Selasa (20/11/2018) menulis, "John Bass setelah memulai tugasnya sebagai Dubes AS untuk Afghanistan pada Desember 2017, mengirim puluhan ribu imigran ilegal Afghanistan ke Turki sehingga Ankara berada dalam kesulitan."
Badan Keamanan Nasional Turki sebelum ini menyatakan hampir 500 pengungsi Afghanistan masuk secara ilegal ke Turki per hari.
Perseteruan regional antara Turki dan AS telah memasuki babak baru. Dalam beberapa pekan terakhir, Turki meningkatkan tekanan terhadap pasukan Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG) di utara Suriah dan menekankan operasi militer di timur Sungai Eufrat.
Pasukan AS dengan kehadirannya di daerah Manbij, mencoba untuk mencegah potensi serangan Turki terhadap milisi Kurdi Suriah. AS sudah meyakinkan milisi Kurdi bahwa militer Turki tidak akan menyerang mereka.
Namun, serangan Turki terhadap pasukan Kurdi di pinggiran Manbij dan Tal Abyad menunjukkan bahwa Ankara dan Washington terlibat perselisihan serius di utara Suriah.
Statemen Soylu yang muncul dua tahun pasca kudeta tampaknya bertujuan untuk menciptakan tekanan politik pada AS. Dia ingin mengingatkan Washington bahwa Ankara belum melupakan persoalan di masa lalu dan jika AS tetap mendukung milisi Kurdi, Turki mungkin saja akan mengambil jarak dari AS.
Gertakan ini sepertinya efektif untuk membuat AS mundur sejengkal dari sikapnya dan tetap menjaga posisi Turki sebagai salah satu sekutu andalannya.
Namun, pakar kebijakan luar negeri Turki, Semih Idiz percaya bahwa pendekatan AS dalam mengelola konflik dengan Turki bukan hanya gagal menenangkan Ankara terkait situasi di utara Suriah, tetapi justru mendorong kecurigaan Turki terhadap itikad Amerika.
Seperti sikap Menteri Pertahanan Turki Hulusi Akar, yang mencurigai tawaran hadiah oleh AS kepada pihak yang memiliki informasi tentang tiga tokoh senior PKK.
"Langkah AS ini sama sekali tidak bisa diterima ketika mereka mengirimkan senjata untuk YPG," ujarnya.
"Kami juga menegaskan bahwa mengirimkan senjata dan amunisi kepada YPG dengan truk dan pesawat terbang tidak sesuai dengan pemahaman aliansi (Turki-AS)," tegas Akar.
Sebenarnya, AS telah gagal dalam mengelola krisis Suriah dan kehadiran mereka justru memperluas instabilitas di kawasan. Turki sebagai sekutu dekat AS, bahkan menolak petualangan negara itu yang memperkeruh krisis regional. (RM)