Ketika Berlin Menentang Penempatan Rudal Nuklir Amerika Serikat di Jerman
-
Perjanjian Persenjataan Nuklir Jarak Menengah (INF) antara Amerika Serikat dan Rusia
Donald Trump, Presiden Amerika Serikat pada 20 Oktober 2018 mengumumkan bahwa Amerika Serikat akan menarik diri dari Perjanjian Persenjataan Nuklir Jarak Menengah (INF). Alasan utama Amerika Serikat untuk mundur dari pakta strategis dan penting ini adalah pelanggaran ketentuannya oleh Rusia.
Setelah Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo pada tanggal 4 Desember mengumumkan bahwa Washington akan menangguhkan selama 60 hari kepatuhan terhadap Perjanjian Senjata Nuklir Jarak Menengah, sehingga Moskow menunjukkan komitmen praktisnya selama periode ini, bila tidak dilakukan, Washington akan keluar dari penjanjian ini. Jika AS menarik diri dari perjanjian ini, bukan hanya pengembangan dan penyebaran rudal balistik dan rudal jelajah jarak pendek dan menengah akan dilanjutkan kembali, tetapi juga dapat diprediksi bahwa Washington akan menggunakan senjata ini lagi di Eropa, dimana tindakan ini pasti akan membangkitkan reaksi Rusia.
Visi ini telah memicu kekhawatiran Eropa tentang konfrontasi nuklir AS-Rusia di Eropa. Dalam hal ini, Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas menyatakan bahwa negaranya menentang penyebaran rudal nuklir-menengah di Jerman dan di seluruh Eropa.
Menurut Maas, "Jika Perjanjian Senjata Nuklir Jarak Menengah antara Rusia dan Amerika Serikat terkait larangan penggunaan rudal jarak menengah dihapus, maka Jerman akan menolak penyebaran senjata nuklir baru."
Berlin telah menekankan bahwa penempatan rudal nuklir menengah baru di tanah Jerman akan menghadapi perlawanan luas. Menurut pejabat senior Jerman, penyebaran dan proliferasi senjata nuklir, sebagai tanggapan atas pelanggaran perjanjian ini, pada kenyataannya konsisten dengan logika era Perang Dingin.
Sementara itu, kemungkinan penempatan rudal nuklir Amerika Serikat di Eropa telah memicu reaksi tajam Rusia. Presiden Rusia Vladimir Putin memperingatkan, "Jika rudal nuklir baru Amerika Serikat ditempatkan di Eropa, Rusia akan menunjukkan reaksi serupa dan setiap negara Eropa mana pun yang menerima penempatan sistem rudal AS akan menghadapi risiko serangan Rusia."
Ini adalah peringatan langsung ke Eropa, yang pada awalnya beberapa negara seperti Inggris menyambut keputusan Washington, tetapi sekarang negara-negara Eropa ingin berbicara dengan Rusia untuk menyelesaikan masalah ini.
Dari sudut pandang Berlin, Amerika Serikat dan Rusia harus meninjau kembali perjanjian senjata yang sudah ada yang telah dibentuk sejauh ini dan menambahkan senjata baru padanya serta membuat struktur kontrol senjata baru. Meskipun Eropa menuntut revisi Washington dalam keputusannya, tidak ada bukti pemerintahan Trump mundur dari apa yang telah diumumkan. Perjanjian INF telah melarang kedua negara untuk menyebarkan rudal balistik dan rudal jelajah di Eropa.
Meskipun negara-negara Eropa juga sama seperti Amerika Serikat percaya bahwa Rusia telah melanggar Perjanjian Senjata Nuklir Jarak Menengah, solusi untuk masalah ini bukanlah menarik diri dari perjanjian, tetapi bernegosiasi untuk memaksa Moskow mematuhi ketentuan-ketentuannya. Faktanya adalah bahwa kelanjutan perjanjian saat ini bukan keinginan Barat maupun Moskow. Menurut Washington, Cina juga harus bergabung dengan perjanjian ini, karena tengah mengembangkan serius sistem rudal jarak pendek dan menengah. Sementara di mata Rusia, Amerika Serikat juga harus menghentikan pelanggaran perjanjian INF seperti penyebaran sistem anti-rudal di Eropa, serta peremajaan bom-bom nuklir yang ditempatkan di Eropa.