Penekanan Putin untuk Meninjau Kembali Peran Dolar dalam Perdagangan Internasional
-
Xi Jinping dan Vladimir Putin
Pendekatan Amerika Serikat yang menyalahgunakan posisi dolar dalam perdagangan dan moneter internasional untuk meraih tujuan-tujuannya menyebabkan eskaladi permintaan dan langkah-langkah dari banyak negara untuk mengubah situasi ini.
Sekaitan dengan hal ini, Vladimir Putin, Presiden Rusia hari Jumat (07/06) menyebut pemerintah Amerika Serikat menggunakan dolar sebagai alat penekan negara-negara lain dan meminta peninjauan kembali akan peran dolar. Presiden Rusia yang menjadi pembicara di Konferensi Internasional St. Petersburg mengatakan, "Amerika Serikat berusaha untuk memperluas dominasinya atas seluruh dunia."
Sebelumnya, Putin menilai salah langkah pemerintah Amerika Serikat dalam menerapkan sejumlah pembatasan atas perdagangan yang menggunakan dolar dan mengatakan bahwa kebijakan seperti ini akan melemahkan kepercayaan kepada dolar sebagai cadangan devisa.
Beberapa hari sebelumnya, Maxim Oreshkin, Menteri Pembangunan Ekonomi Rusia menjelaskan bahwa secara bertahap dolar akan kehilangan posisinya sebagai referensi mata uang dunia. Ia mengatakan, "Rusia telah memulai penghapusan dolar."
Presiden Cina dan Rusia hari Rabu lalu (05/06) menandatangani kontrak pengurangan dampak negatif sanksi Amerika Serikat yang isinya menghapus dolar dari pertukaran perdagangan dua negara. Kedua negara, sesuai dengan kesepakatan ini, akan menggunakan mata uang nasional; Rubel dan Yuan.
Masalah ini sangat penting mengingat posisi Cina sebagai kekuatan ekonomi kedua di dunia dan Rusia sebagai pesaing utama politik dan militer Amerika Serikat. Dua kekuatan internasional ini menuntut kebijakan multilateralisme diterapkan di kancah internasional dan menentang unilateralisme Amerika Serikat.
Antonio Guterres, Sekjen PBB menggarisbawahi peran yang sangat penting yang dimainkan Rusia dalam mendukung multilarelisme di dunia dan PBB seraya mengatakan, "Rusia pemain vital di kancah internasional."
Langkah dan kebijakan unilateralisme dan kekuatan Amerika Serikat di periode kepresidenan Donald Trump, khususnya dalam menerapkan sanksi terhadap para pesaing dan musuh AS serta ancaman akan sanksi bahkan terhadap para sekutu AS menyebabkan banyak negara-negara, bahkan mitra-mitra Eropanya mengritik Washington yang menyalahgunakan sanksi dan pemanfaatan dolar sebagai alat untuk menekan negara-negara lain.
Pendekatan ini membuat banyak negara sampai pada kesimpulan untuk mencari solusi demi mengurangi kebergantungannya pada sistem keuangan Amerika Serita dan dolar. Itulah mengapa banyak negara, baik itu saingan atau mitra Amerika Serikat menyiapkan langkah-langkah untuk menghapus dolar dan menggunakan mata uang lainnya dalam perdagangan luar negerinya.
Masalah ini menyebabkan berkurangnya saham dolar dalam cadangan devisa internasional dan bertambahnya saham mata uang lainnya, seperti euro. Menurut analis politik Victoria Crwomberg, "Dengan mengacu pada bahaya ekonomi yang berlandaskan pada dolar Amerika Serikat sebagai satu-satunya cadangan devisa, PBB meminta negara-negara untuk berusaha membentuk satu mata uang baru cadangan devisa di dunia."
Amerika Serikat menyalahgunakan kebergantungan pelbagai perusahaan, bank dan sistem keuangan internasional dengan dolar sebagai alat untuk memaksa pihak lain mengikuti keinginannya dan atau mencegah mereka mengikuti kebijakan atau langkah yang tidak diinginkan Washington. Namun yang membuat proses ini bejalan cepat adalah keputusan Trump untuk menghidupkan kembali sanksi nuklir Iran setelah keluar dari kesepakatan JCPOA.
Pemerintah Trump selalu mengancam akan menghukum perusahan, institusi keuangan dan bank yang memiliki hubungan perdagangan atau keuangan atau ingin melakukannya. Kebijakan Amerika Serikat yang dapat dinamakan kebijakan menakut-nakuti dan menerapkan tekanan kepada negara-negara lain dengan dolar dan pertukaran keuangan menyebabkan gelombang global untuk mengurangi kebergantungan akan dolar dan memanfaatkan mata uang alternatif, dimana hasil akhirnya adalah pengurangan signifikan peran dolar dalam urusan keuangan dan perdagangan global.