Kebingungan Amerika Menghadapi Iran
-
Donald Trump
Tampaknya kebingungan pemerintah Amerika Serikat dalam menghadapi Iran menyusul penembakan jatuh pesawat nirawak mata-mata negara itu oleh rudal Korps Garda Revolusi Islam Iran, IRGC, semakin memuncak.
Presiden Amerika, Donald Trump beberapa hari lalu mengeluarkan beberapa keputusan kontroversial terkait Iran. Mulai dari rencana serangan militer ke Iran hingga keinginan mencabut sanksi atas Tehran.
Bersamaan dengan pengumuman kesiapan untuk melakukan perundingan tanpa syarat dengan Iran, Trump juga mengeluarkan keputusan menjatuhkan paket sanksi baru terhadap Tehran pada hari Senin (24/6/2019) besok.
Pernyataan kontroversial dan tampak saling bertolak belakang yang dirilis Gedung Putih terhadap Iran, khususnya sehubungan dengan bagaimana cara membalas penembakan jatuh drone Amerika oleh Iran, menjadi bukti kebingungan Trump menghadapi sepak terjang Tehran.
Dalam beberapa bulan terakhir seiring dengan penerapan kembali sanksi Amerika terhadap Iran, tekanan terhadap Republik Islam juga semakin kencang, dan Washington mengira Tehran akan menyerah dan mau menuruti keinginannya untuk berunding.
Akan tetapi ketika pesan yang dititipkan Trump kepada Perdana Menteri Jepang ditolak mentah-mentah oleh Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, plot yang sudah dirancang sedemikian rupa oleh para pejabat Gedung Putih akhirnya rusak total.
Pemerintah Amerika terutama pribadi Trump membayangkan penerapan kebijakan tekanan maksimal selama beberapa bulan atas Iran dengan cara menekan eskpor minyak Iran hingga ke level nol, pada akhirnya akan memaksa Tehran menerima perundingan baru seputar kesepakatan nuklir dan masalah-masalah lain yang tidak terkait nuklir.
Tapi, bukan saja menolak dan menantang dikte Amerika itu, Iran bahkan dengan gagah berani menembak jatuh drone mata-mata Amerika yang melanggar wilayahnya, dan memaksa Washington berdiri di persimpangan jalan, memilih perang atau melanjutkan kebijakan lama.
Awalnya Trump memberikan isyarat akan melancarkan serangan militer ke Iran, bahkan sejumlah media mengumumkan pesawat-pesawat tempur Amerika sudah siap untuk menyerang Iran.
Namun, kekhawatiran mendalam atas serangan balasan mematikan Iran yang diduga akan menciptakan perang luas di kawasan, membuat Trump akhirnya mengurungkan niatnya menyerang Iran.
Lebih dari itu Presiden Amerika malah berterimakasih kepada rakyat Iran karena tidak menembak jatuh pesawat mata-mata Amerika, P-8 Poseidon yang terbang berdampingan dengan RQ-4 Global Hawk, dan membawa sekitar 30 awak. Trump berusaha menunjukkan citra diri sebagai orang yang ingin berdamai dengan Iran.
Tapi tetap saja kekuatan-kekuatan anti-Iran dan haus perang di dalam maupun di luar Amerika, memaksa Trump untuk memperbaiki citra Amerika yang terlanjur rusak dengan kembali mempersiapkan opsi militer atas Iran.
Pemerintah Gedung Putih tidak bisa menyangkal bahwa opsi militer terhadap Iran sangat mahal dan berbahaya, sehingga memaksanya menggunakan sanksi sebagai salah satu senjata yang selama ini digunakan untuk melumpuhkan perekonomian Iran.
Meski Amerika akan menambah sanksi baru atas Iran, kenyataannya negara itu sudah menyerang hampir seluruh sektor ekonomi Iran dengan menerapkan sanksi atas minyak dan perbankan, maka dari itu paket sanksi baru tidak akan mengubah kondisi yang ada.
Karenanya, keputusan Trump menerapkan sanksi baru atas Iran, sebenarnya bisa dibaca oleh Tehran sebagai indikasi bahwa Trump sedang berusaha menenangkan orang-orang haus perang di tubuh pemerintahan Amerika dan sekutunya yang masih tercengang dan marah atas penembakan jatuh drone mata-mata negara itu oleh IRGC.
Dengan alasan yang sama, salah satu legislator Amerika, Tulsi Gabbard kepada Trump berkata, strategi anda terkait Iran, mentah dan tidak berpandangan jauh, maka dari itu segeralah ubah metode anda, kembalilah ke kesepakatan nuklir Iran sebelum semuanya terlambat. (HS)