Langkah Baru AS untuk Gulingkan Pemerintah Venezuela
-
Presiden Nicolas Maduro (kiri) dan Presiden Donald Trump (kanan).
Pemerintah Venezuela mengecam upaya Amerika Serikat untuk menghidupkan kembali perjanjian pertahanan regional era-Perang Dingin. Menteri Luar Negeri Venezuela Jorge Arreaza, menyebut langkah provokatif ini bertujuan untuk membuka jalan bagi intervensi militer.
Washington sedang berusaha untuk menghidupkan kembali traktat pertahanan regional atau Perjanjian Bantuan Timbal Balik Antar-Amerika (TIAR).
Menlu Venezuela menyebut TIAR sebagai warisan memalukan neo-kolonialisme di Amerika Latin, dan mengatakan bahwa TIAR dirancang untuk melegitimasi intervensi militer di Amerika Latin karena alasan ideologis selama Perang Dingin.
Prinsip utama TIAR, yang mulai berlaku pada 1948, adalah bahwa serangan terhadap salah satu negara anggota harus dianggap sebagai serangan terhadap semua. Negara-negara anggota TIAR adalah Argentina, Brasil, Chile, Kolombia, dan Kosta Rika.
"Sangat menyakitkan bahwa negara-negara yang diserang oleh pasukan AS dan desa-desanya dijarah melalui penerapan TIAR, sekarang mendukung kejahatan yang sama terhadap sebuah negara sahabat," tambah Arreaza.
Menlu AS Mike Pompeo dalam sebuah statemen Rabu lalu mengklaim bahwa Presiden Venezuela Nicolas Maduro tidak hanya menjadi ancaman bagi rakyatnya, tetapi tindakannya juga telah mengancam keamanan dan perdamaian negara-negara tetangga. Ia meminta pembicaraan tingkat tinggi dengan sekutu AS di kawasan termasuk Kolombia.
"AS meminta negara-negara anggota TIAR untuk meningkatkan tekanan terhadap pemerintahan Maduro," tegasnya.
Hubungan antara Kolombia dan Venezuela sudah lama tidak harmonis, dan AS ingin memanfaatkan celah ini untuk mencapai tujuannya yaitu menggulingkan pemerintahan Maduro.
AS telah meningkatkan pengiriman bantuan kepada oposisi Venezuela melalui perbatasan Kolombia, membangun beberapa pangkalan militer di wilayah negara itu untuk mempersenjatai oposisi, dan mengizinkan pembukaan misi perwakilan urusan Venezuela di Kolombia.
Kemarahan pemerintah Caracas terhadap negara tetangganya itu meningkat setelah Bogota memberikan pelatihan militer kepada oposisi Venezuela. Maduro menuding Kolombia sedang membentuk sebuah kelompok milisi untuk melawan pemerintah Venezuela, dan mengancam akan membawa kasus ini ke Dewan Keamanan PBB.
Menyikapi perkembangan ini, Presiden Maduro menggelar latihan militer untuk melindungi perbatasan Venezuela dengan Kolombia dan juga menempatkan sistem pertahanan udara di perbatasan.
"Pemerintah dan militer Venezuela sepenuhnya siap untuk melindungi rakyatnya. Latihan militer di perbatasan bertujuan melindungi wilayah Venezuela dan bukan ancaman bagi negara-negara lain," tegasnya.
Namun, AS menganggap latihan ini sebagai ancaman dan mengangkat wacana untuk menghidupkan kembali TIAR. Pakta ini dapat membuka jalan untuk intervensi asing di Venezuela dan membantah klaim-klaim Presiden Donald Trump, yang mengaku tidak berniat menyerang Venezuela.
Setelah gagal dalam kebijakan sanksi dan kudeta, pemerintahan Trump sekarang meningkatkan tekanan terhadap negara-negara kawasan agar mendukung rencana mereka untuk Venezuela.
Namun, Maduro berulang kali menegaskan bahwa Venezuela tidak takut terhadap ancaman AS dan rakyat kami berdiri menghadapi mereka dengan seluruh kekuatannya. (RM)