Menelisik Intervensi Baru AS di Afghanistan
Kedutaan Besar AS di Afghanistan baru-baru ini mengeluarkan sebuah pernyataan yang menunjukkan intervensi langsung negara ini dalam urusan dalam negeri Afghanistan.
Mereka mengklaim menerima banyak laporan tentang rendahnya keamanan, dan besarnya potensi kecurangan dalam pemilu presiden Afghanistan yang sangat memprihatinkan.
Tidak hanya itu, Kedutaan Besar AS juga mendesak otoritas keamanan Afghanistan untuk mengupayakan pemilu yang transparan dan aman bagi calon presiden sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi.
Meskipun intervensi AS dalam pemilihan Afghanistan bukanlah isu baru, dan Washington telah berulangkali melakukannya dengan alasan yang tidak jelas. Tapi, pernyataan terbaru Kedutaan Besar AS di Afghanistan semakin memmperkuat fakta bahwa Washington terus-menerus mencampuri urusan negara lain. Gejolak politik menjelang pemilu di Afghanistan semakin keruh dengan gencarnya intervensi Gedung Putih tersebut.
Keterlibatan jelas AS dalam pemilihan umum Afghanistan telah menjadi ancaman besar bagi dinamika politik yang dihadapi negara Asia Selatan itu. Oleh karena itu, banyak tokoh politik dan masyarakat terkemuka Afghanistan menyampaikan keprihatinan mendalam menyikapi berlanjutnya pendekatan intervensionis Gedung Putih.
Habibullah Shinwari, seorang pejabat dari lembaga Pemantau Pemilu dan Transparansi Afghanistan (ETWA), sebelumnya telah memperingatkan campur tangan AS dalam urusan pemilu negara itu. Bahkan, mantan Presiden Afghanistan Hamid Karzai mengatakan bahwa proses pemilu presiden Afghanistan berada di bawah kendali AS dan rakyat negara ini tidak memiliki pengaruh signifikan dalam proses demokrasi tersebut.
Dalam kondisi Afghanistan saat ini, apa sebenarnya tujuan AS mencampuri pemilu, termasuk dengan menyampaikan klaim minimnya keamanan atau kecurangan pemilu? Tampaknya, jawaban untuk pertanyaan ini terletak pada kinerja AS dalam beberapa bulan terakhir.
Pemerintahan Donald Trump telah menunjukkan sikapnya selama beberapa bulan terakhir yang tampak tidak memprioritaskan pemilu di Afghanistan, dan lebih mengedepankan bernegosiasi dengan Taliban.
Meskipun pembicaraan damai antara AS dan Taliban masih macet, tapi Washington masih menunggu pembicaraan lanjutan. Oleh karena itu Gedung Putih berusaha untuk mendiskreditkan pemilu presiden Afghanistan dengan berbagai alasan.
Pada saat yang sama, beberapa kandidat presiden Afghanistan dan tokoh-tokoh terkemuka negara ini juga telah membuat pernyataan tentang penundaan penyelenggaraan pemilu presiden Afghanistan. Tetapi pemerintah Kabul sejauh ini sudah mengambil sikap tegas terhadap pernyataan tersebut dan bersikeras menggelar pemilu presiden tepat waktu.
Tampaknya, beberapa hari menjelang penyelenggaraan pemilu presiden Afghanistan, pernyataan campur tangan Kedutaan Besar AS tentang pilpres negara yang sedang dirundung konflik politik ini diperkirakan akan menghadapi reaksi keras dari pemerintah dan rakyat Afghanistan.(PH)