Mencermati Upaya Rusia Mempengaruhi Transformasi Utara Suriah
Rusia sebagai salah satu pemain utama di Suriah telah mengambil sikap tekait invasi Turki ke wilayah utara Suriah dan melalui kesepakatan dengan Turki, Moskow selain ingin merealisasikan keamanan juga mempersiapkan kedaulatan kembali pemerintah Suriah di wilayah tersebut.
Sekaitan dengan ini, di akhir perundingan hari Selasa (22/10) antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan sejawatnya dari Turki, Recep Tayyip Erdogan di kota Sochi yang berlangsung lebih dari enam jam, berhasil diraih nota kesepahaman (MoU) terkait kondisi di wilayah timur laut Suriah.
Berdasarkan kesepakatan ini, Rusia dan Turki akan memulai patroli bersama dan hal ini harus berakhir dengan keluarnya milisi Kurdi dan peralatan militer mereka dari kawasan ini sejauh 30 km dari perbatasan bersama Turki-Suriah. Pasukan penjaga perbatasan Suriah adalah pihak yang bertanggung jawab untuk menjamin keamanan perbatasan.
Menurut pandangan Moskow, kesepakatan yang diraih antara presiden Rusia dan Turki di Sochi berhasil mengakhiri agresi militer Turki ke utara Suriah dan memperkuat integritas wilayah negara ini. Kesepakatan ini juga memaksa Kurdi menjauh dari perbatasan Turki dan pada akhirnya mengadopsi kepentingan kedua pihak.
Moskow merupakan sekutu utama pemerintah sah Suriah dan senantiasa menekankan penarikan pasukan asing yang bercokol di Suriah secara ilegal. Rusia juga menekankan kedaulatan dan integritas wilayah Suriah. Putin seraya mengisyaratkan bahwa pemerintah Suriah tidak mengundang Turki untuk masuk ke wilayahnya menegaskan, Suriah harus bebas dari keberadaan pasukan asing yang secara ilegal menduduki wilayah negara ini.
Putin meyakini bahwa membela perdamaian dan stabilitas di perbatasan Turki dan Suriah harus dilakukan secara kolektif dan hal ini tidak mungkin dilakukan tanpa kerja sama yang dilandasi rasa saling menghormati antara kedua negara.
Rusia seraya menekankan bahwa Moskow memahami kekhawatiran keamanan Turki, juga menekankan pentingnya menjaga kedaulatan dan integritas wilayah Suriah serta kekuasaan pemerintah pusat Suriah terhadap seluruh wilayahnya. Moskow berusaha memainkan peran mediator antara Ankara dan Damaskus sehingga bukan saja tensi di antara kedua negara ini meredam, bahkan akan terbuka peluang untuk menemukan solusi berdasarkan penghormatan terhadap integritas wilayah dan kedaulatan Suriah.
Kini dengan tercapainya kesepakatan antara Putin dan Erdogan, maka terbuka peluang bagi terealisasinya kembali kedaulatan pemerintah sah Suriah terhadap wilayah timur laut negara ini.
Sementara itu, petinggi Rusia di statemen mereka berulang kali menekankan perang negatif Amerika atas munculnya kondisi ricuh di utara Suriah. Juru bicara kantor presiden Rusia, Dmitry Peskov seraya mengisyaratkan statemen James Jeffrey, utusan khusus AS untuk Suriah yang meragukan bahwa Kurdi Suriah akan meninggalkan wilayah yang dicantumkan dalam MoU Rusia dan Turki, mengingatkan bahwa AS selama tahun-tahun terakhir merupakan sekutu terdekat Kurdi, tapi kini Washington meninggalkan sekutunya tersebut sehingga Kurdi terpaksa berperang dengan militer Turki.
Jubir Kremlin ini seraya mengisyaratkan bahwa AS meninggalkan sekutu terdekatnya di Suriah yakni Kurdi, dan sejatinya telah mengkhianati mereka, mengatakan, milisi Kurdi yang tidak keluar dari wilayah perbatasan akan dikepung oleh militer Turki.
Kini Rusia memulai peran aktifnya untuk mencegah berlanjutnya bentrokan antara Turki dan milisi Kurdi. Pasukan Rusia dan pemerintah Suriah dilaporkan telah memulai operasi gabungan mereka di wilayah di luar zona operasi militer Turki serta akan membantu penarikan pasukan milisi Kurdi beserta peralatan mereka dari wilayah ini.
Sekaitan dengan ini, pasukan Rusia mulai melakukan patroli di sepanjang pos-pos pasukan pemerintah Suriah di wilayah timur laut kota Manbij yang baru ditinggalkan pasukan AS dan direbut militer Suriah.
Menurut Menlu Rusia, Sergei Lavrov, "Solusi masalah Kurdi di Suriah tidak mungkin diraih tanpa kontrol pasukan pemerintah Suriah terhadap perbatasan bersama negara ini dengan Turki."
Moskow meyakini bahwa koalisi internasional yang dipimpin Amerika secara ilegal menduduki wilayah Suriah dan penting bagi pasukan ini secepatnya meninggalkan wilayah Damaskus serta proses stabilitasi kedaulatan pemerintah Suriah terhadap berbagai wilayah negara ini dipercepat.
Pastinya inisiatif Putin untuk meraih kesepakatan dengan Erdogan tidak dikehendaki Amerika Serikat dan menurut perspektif Washington, hal ini sama halnya dengan perluasan pengaruh Rusia di kawasan. (MF)