Konflik dalam Hubungan Rusia-NATO
Hubungan Rusia dan NATO diwarnai banyak ketegangan dalam beberapa tahun terakhir khususnya pasca krisis Ukraina pada 2014. Konflik ini kian memanas setiap tahun dan mengundang peringatan dari para pejabat militer Moskow.
Menteri Pertahanan Rusia, Sergei Shoigu dalam sebuah pernyataan hari Senin (9/12/2019) mengatakan Rusia siap bekerja sama dengan NATO, tetapi hubungan kami dengan mereka terus memburuk setiap tahun.
"Hubungan Rusia dan NATO memburuk dan kerja sama kedua pihak telah terhenti dan terus menurun setiap tahun. Kami memiliki kerja sama yang cukup aktif dengan Brussel di tahun-tahun sebelumnya dan Rusia memiliki perwakilan di NATO, tetapi sekarang Aliansi ini bersama AS telah keluar dari banyak perjanjian dan ruang keamanan semakin sempit," tambahnya.
Statemen menhan Rusia ini disampaikan hanya beberapa hari setelah para pemimpin NATO berkumpul London untuk merayakan ulang tahun ke-70 organisasi itu.
Presiden Rusia Vladimir Putin sebelum ini juga mengumumkan kesiapan negaranya untuk bekerjasama dengan NATO di tengah ketegangan yang dihadapi oleh kedua pihak.
"Meskipun NATO memiliki perilaku yang tidak tepat dengan Rusia, tetapi kami berulang kali menekankan tekad dan kesiapan kami untuk bekerjasama dengan NATO demi melawan ancaman-ancaman nyata, seperti terorisme internasional," tegasnya.
Sejak pecahnya krisis Ukraina, NATO mulai meningkatkan jumlah pasukannya di wilayah Laut Baltik dan Laut Hitam. Dalam dua dekade terakhir, NATO melakukan ekspansi besar-besaran ke arah timur dan menawarkan keanggotaan kepada negara-negara di Eropa Tengah dan Timur serta para tetangga Rusia, seperti Ukraina dan Georgia.
Rusia menganggap ekspansi NATO ke arah timur sebagai sebuah ancaman terhadap keamanan nasionalnya dan menilai perekrutan anggota baru sebagai penyebab ketegangan.
Misi utama ekspansi ini adalah untuk melawan dan memperlemah pengaruh Rusia serta meningkatkan tekanan politik dan militer terhadap negara itu. Persoalan baru juga terus bermunculan dan membuat konfrontasi Rusia-NATO semakin panas.
NATO mengeluarkan deklarasi anti-Rusia pada penutupan KTT di London dan hal ini telah meningkatkan kekhawatiran Moskow tentang tindakan konfrontatif aliansi militer Barat itu di masa depan.
Deklarasi London secara terbuka menyebut tindakan agresif Rusia sebagai ancaman terhadap keamanan Eropa dan Amerika Utara. Untuk itu, NATO akan menempatkan rudal jarak menengah di Eropa untuk melawan ancaman itu.
Namun, Presiden Prancis Emmanuel Macron di akun Twitter-nya menulis, "Rusia bukan lagi musuh, meskipun tetap sebuah ancaman, negara itu masih menjadi sekutu dalam beberapa masalah. Musuh kita hari ini adalah terorisme internasional."
Meski demikian, NATO – dalam menjustifikasi sejarah keberadaannya – selalu menganggap Rusia sebagai musuhnya dan dengan alasan ini, mereka melakukan banyak manuver di Eropa Timur. (RM)