AS Tinjauan dari Dalam 6 Juni 2020
https://parstoday.ir/id/news/world-i82042-as_tinjauan_dari_dalam_6_juni_2020
Dinamika di Amerika Serikat selama sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting di antaranya aksi demo anti rasis dan protes pembunuhan George Floyd terus berlanjut.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jun 06, 2020 12:55 Asia/Jakarta
  • Demonstrasi di Amerika
    Demonstrasi di Amerika

Dinamika di Amerika Serikat selama sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting di antaranya aksi demo anti rasis dan protes pembunuhan George Floyd terus berlanjut.

Selain itu, instruksi Presiden Donald Trump menumpas pada demonstran serta kritikan tajam atas perintah tersebut. Angka positif Corona yang terus meningkat dan berbagai isu lainnya.

Kepanikan Trump Tangani Gelombang Protes di AS

Gelombang unjuk rasa di berbagai kota dan negara bagian AS sebagai protes atas pembunuhan brutal yang dilakukan polisi kulit putih terhadap warga Amerika kulit hitam George Floyd menyulut reaksi keras dari Donald Trump.

Donald Trump

Trump yang panik menggunakan otoritas hukumnya untuk mengakhiri kerusuhan nasional dengan mengancam akan mengerahkan pasukan garda nasional AS. Ia mengatakan, "Jika gubernur negara bagian menolak untuk menegakkan aturan hukum ini, saya akan segera mengerahkan pasukan di negara-negara bagian. Kekerasan dalam protes baru-baru ini bukan protes damai, tetapi terorisme domestik,".

Meskipun Trump berupaya menunjukkan dirinya mendukung protes damai, tapi presiden AS ini menyebut para pelaku kerusuhan terbaru sebagai teroris domestik dan bersumpah untuk menumpasnya.

Tampaknya, Trump berusaha untuk membenarkan tindakan kekerasan yang akan diambilnya terhadap pengunjuk rasa dengan melabeli mereka sebagai terorisme domestik. Ia mencoba menggunakan kekuatan untuk memberangus protes yang belum pernah terjadi sebelumnya di Amerika Serikat.

Trump telah mengambil langkah awal untuk mewujudkan ancamannya ini di Washington DC, ibu kota Amerika Serikat. Dia mengatakan ribuan orang pasukan keamanan yang dipersenjatai dengan senjata berat telah dikirim ke ibu kota pada Senin malam dan jam malam telah diberlakukan di Washington secara ketat. Presiden AS juga mengancam akan mengambil tindakan hukum tegas terhadap mereka yang mengabaikan peraturan tersebut.

Trump dalam pertemuan video dengan para gubernur negara bagian mengatakan, "Kalian harus menunjukkan kekuatan di hadapan mereka. Jika tidak, kalian membuang-buang waktu. Apabila kalian tidak menunjukkan kekuatan, maka para demonstran akan menyerang dan kalian akan menjadi seperti sekelompok orang idiot. Oleh karena itu, kalian harus menunjukkan otoritas yang kuat. "

Presiden AS paling kontroversial ini, pandangan dan pendekatannya disambut secara fundamental oleh kaum nasionalis garis keras dan sayap kanan ekstrem dengan pandangan rasisnya yang mendorong mereka menyebarkan aksi kekerasan terhadap orang-orang kulit berwarna.

Gelombang protes terbaru dipicu oleh diskriminasi dan kekerasan yang tidak terkendali terhadap orang kulit hitam, tapi ironisnya Trump justru mencoba mengintimidasi pemrotes dan membungkam mereka dengan mengambil sikap otoriter.

Tentu saja, pendekatan represif Trump ini tidak akan menyelesaikan masalah. Pasalnya, tanpa perubahan besar dalam lembaga peradilan dan kepolisian, juga pendekatan AS saat ini terhadap warga kulit hitam, maka api protes akan terus menyala dalam waktu dekat, bahkan jika dipadamkan secara paksa. Masalah ini diakui sendiri oleh politisi senior Amerika. Mantan Presiden AS, Barack Obama pernah menekankan urgensi reformasi sistem peradilan AS, dengan mengatakan, "Orang-orang yang mencari perubahan harus berdiri menentang presiden dan pejabat federal lainnya yang berperan besar dalam penyebaran rasisme di tengah masyarakat AS,".

Gubernur Illinois: Tanpa Izin Saya Trump tak Bisa Kerahkan Pasukan

Sejumlah gubernur negara bagian paling padat penduduk di Amerika Serikat, dari Partai Demokrat, termasuk negara bagian Illinois, Senin (1/6/2020) menolak rencana Presiden Donald Trump untuk mengirim pasukan ke wilayahnya.

Fars News (2/6) mengutip situs Time melaporkan, Gubernur negara bagian Illinois, Jay Robert Pritzker mengatakan bahwa dirinya tidak percaya jika pemerintah pusat Gedung Putih dapat mengirim pasukan ke Illinois. 

Gubernur Illinois ini menuduh Presiden Amerika sengaja menciptakan "momen provokasi" dengan mengancam akan menggunakan langkah militer dalam mengendalikan demonstrasi.

Hari Senin (1/6) Trump mengancam para gubernur negara bagian Amerika, akan mengerahkan pasukan jika mereka masih juga tidak bisa mengendalikan kerusuhan di wilayahnya.

Pritzker adalah gubernur negara bagian Amerika pertama yang mereaksi ancaman Trump, setelah presiden Amerika itu menyebut para gubernur negara bagian lemah.

Trump bahkan memerintahkan para gubernur negara bagian untuk mengambil langkah lebih keras dalam mengatasi kerusuhan di wilayah yang mereka pimpin.

Mattis: Trump Ancaman bagi Konstitusi

Mantan menteri pertahanan Amerika Serikat di sebuah statemennya menyebut Presiden Donald Trump ancaman bagi konstitusi negara ini.

Seperti dilaporkan IRNA, James Mattis Kamis (04/06/2020) dini hari di sebuah statemennya mengkritik kinerja Trump menangani kasus pembunuhan George Floyd, warga kulit hitam AS dan instabilitas pasca pembunuhan ini serta menyebut presiden Amerika ini ancaman bagi konstitusi negara ini.

James Mattis

Lebih lanjut seraya mengisyaratkan slogan “Semua Sama dihadapan Hukum” yang dipahat di gedung Mahkamah Agung AS, Mattis mengatakan, “Selama seminggu terakhir, saya telah menyaksikan perkembangan di negara itu setelah pembunuhan Floyd dengan 'kemarahan dan ketakutan', dan slogan ini adalah satu-satunya hal yang diinginkan oleh para pemrotes."

Mantan pemimpin Pentagon ini juga mengkritik keras pengerahan militer untuk menumpas demonstran di Washington D.C. dan mengatakan segala bentuk pemikiran untuk mengubah kota-kota Amerika menjadi medan pertempuran dan militerasi respon terhadap demonstrasi warga sepenuhnya harus ditolak.

Berbagai kota di Amerika khususnya Minneapolis di negara bagian Minnesota selama beberapa hari terakhir menjadi ajang demonstrasi warga atas perilaku rasis polisi negara ini.

Seorang perwira polisi kulit putih Senin (25/05/2020) membunuh secara sadis Georga Floyd, warga kulit hitam kota Minneapolis.

Kejahatan ini membangkitkan kemarahan rakyat Amerika. Polisi dan aparat keamanan negara ini atas instruksi Donald Trump menumpas para demonstran.

Selama aksi protes beberapa hari terakhir di Amerika, ribuan orang termasuk sejumlah wartawan terluka dan ditangkap.

Angka Kematian COVID-19 di AS Lampaui 107 ribu Orang

Seiring dengan kematian baru 996 pasien Corona selama 24 jam lalu, total korban tewas akibat wabah ini di Amerika melampaui 107 ribu orang.

Seperti dilaporkan FNA, data ini menunjukkan bahwa selama 24 jam lalu ditemukan 19.699 kasus COVID-19 baru sehingga total penderita wabah ini di Amerika mencapai 1.851.520 orang.

Di sisi lain, laman Worldmeters mencatat kasus positif Corona di AS mencapai 1.901.783 orang dan total angka kematian akibat wabah ini mencapai 109.142 orang.

Negara bagian New York dengan 382.837 orang dan kasus kematian sebanyak 30.164 kasus masih berada di posisi pertama di Amerika.

Menurut data Universitas Johns Hopkins, sampai saat ini sedikitnya 6.430.705 orang di seluruh dunia terinfeksi Corona dan di antara jumlah tersebut 385.947 prang meninggal dan 2.804.982 orang berhasil disembuhkan.

Amerika Serikat masih berada di posisi pertama dunia dari sisi jumlah pasien Corona dan kasus kematian akibat COVID-19.

Dewan Kota Minneapolis akan Bubarkan Kepolisian

Otoritas kota Minneapolis, negara bagian Minnesota, Amerika Serikat, yang merupakan sumber kerusuhan luas pasca pembunuhan warga kulit hitam oleh polisi negara ini, berencana mengubah sistem keamanan publik di kota itu.

Fars News (5/6/2020) melaporkan, merespon berlanjutnya demonstrasi memprotes kekerasan dan rasisme polisi Amerika terhadap warga kulit berwarna di kota-kota negara itu, bahkan merembet ke sejumlah negara Eropa, para pejabat dewan kota Minneapolis, berpikir untuk mengubah sistem keamanan publik di kota itu.

Kantor berita Tass mengabarkan, salah satu anggota dewan kota Minneapolis, Jeremiah Ellison di akun Twitternya menulis, departemen kepolisian kota Minneapolis akan dibubarkan.

Ketua Dewan Kota Minneapolis, Lisa Bender membenarkan hal ini dan mengatakan, departemen kepolisian akan diganti dengan sebuah model baru keamanan publik yang transformatif.

Menurut Bender, pada departemen yang baru, fungsi polisi akan dilakukan oleh pekerja sosial dan petugas medis, pemungutan suara tahap pertama terkait reformasi kepolisian ini dilakukan hari ini, Jumat (5/6).

Ketua DPR AS Berada di Tengah Demonstran

Ketua DPR Amerika Serikat dan salah satu kritikus keras Presiden Donald Trump dilaporkan terlihat di tengah-tengah demonstran anti diskriminasi di Washington.

Nancy Pelosi seraya hadir di tengah sejumlah demonstran yang memprotes pembunuhan terhadap George Floyd, warga kulit hitam Amerika di depan gedung Kongres di Washington, seraya menyalami para demonstran mengungkapkan solidaritasnya terhadap aksi ini.

Pelosi sebelumnya mengatakan Trump tengah mengobarkan api protes dalam negeri ketimbang mempersatukan negara.

Statemen Trump selama beberapa hari terakhir menuai kritikan luas dan banyak kalangan menuding presiden memprovokasi para demonstran dan mengancam mereka.

Berbagai kota Amerika Serikat khususnya kota Minneapolis di negara bagian Minnesota selama beberapa hari terakhir menjadi ajang demonstrasi warga menentang perilaku rasis polisi negara ini.

Seorang perwira polisi Amerika Senin 25 Mei 2020 secara sadis membunuh George Floyd, warga kulit hitam di kota Minneapolis.

Kejahatan ini membangkitka kemarahan warga Amerika. Polisi dan aparat keamanan Amerika atas instruksi Donald Trump menumpas aksi demo warga.

Selama aksi protes beberapa hari terakhir di Amerika, ribuan orang terluka dan ditangkap.