Bahaya Besar Perlombaan Senjata Nuklir Global
https://parstoday.ir/id/news/world-i85933-bahaya_besar_perlombaan_senjata_nuklir_global
Peningkatan perlombaan senjata nuklir antarkekuatan dunia membahayakan keamanan global yang memicu kekhawatiran serius dari berbagai kalangan termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Okt 05, 2020 08:19 Asia/Jakarta

Peningkatan perlombaan senjata nuklir antarkekuatan dunia membahayakan keamanan global yang memicu kekhawatiran serius dari berbagai kalangan termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada pertemuan memperingati "Hari Dunia Tanpa Senjata Nuklir" yang dihadiri para pejabat tinggi organisasi internasional ini mengatakan bahwa kehidupan dunia saat ini berada dalam bayang-bayang bencana nuklir yang dipicu oleh meningkatnya ketidakpercayaan dan ketegangan antarkekuatan nuklir. Ditegaskannya, kemajuan untuk menghentikan perlombaan senjata dunia telah surut, dan ketegangan antara negara-negara pemilik senjata nuklir telah meningkatkan risiko bahaya nuklir global.

Merujuk pada perjanjian perlucutan senjata nuklir antara AS dan Rusia yang dikenal dengan New START, Guterres menekankan perlunya kedua negara memperpanjang perjanjian ini tanpa penundaan setidaknya lima tahun. Tanpa kesepakatan semacam itu, ada potensi berbahaya kembalinya persaingan nuklir strategis tanpa batas.

Peringatan keras yang dikeluarkan Sekretaris Jenderal PBB mengenai perlombaaan negara-negara nuklir untuk memperluas persenjataan nuklir mereka bertentangan dengan Traktat Non-Proliferasi Senjata Nuklir (NPT), yang menunjukkan tingginya kekhawatiran global tentang bahaya senjata nuklir.

Pada saat yang sama, eskalasi ketegangan antara kekuatan-kekuatan nuklir ini meningkatkan kemungkinan penggunaan senjata nuklir dalam potensi konflik di antara mereka. Sejak diberlakukannya traktat NPT, isu perlucutan senjata nuklir telah menjadi agenda Perserikatan Bangsa-Bangsa.

 

Sekjen PBB, Antonio Guterres

 

Kini, kehidupan dunia dibayangi mimpi buruk perang nuklir selama lebih dari tujuh puluh lima tahun. Kekuatan nuklir utama masih berusaha untuk memodernisasi senjata nuklirnya. Dalam hal ini, lima negara yang telah diakui sebagai negara nuklir, yaitu: Amerika Serikat, Rusia, Cina, Prancis, dan Inggris, serta negara-negara yang tergabung dalam klub nuklir melakukan berbagai cara selama beberapa dekade terakhir untuk mengembangkan senjata nuklirnya masing-masing.

Sementara itu, Amerika Serikat telah merebut kepemimpinan dari kekuatan nuklir lainnya selama pemerintahan Donald Trump dalam kerangka doktrin nuklirnya yang baru dengan memodernisasi dan melengkapi persenjataan nuklirnya. Trump terus mengadopsi strategi “serangan nuklir pertama” yang ditekankan sebagai opsi utama. Tentu saja langkah ini akan direaksi oleh kekuatan nuklir lain seperti Rusia dan Cina yang berupaya mengimbanginya. Pada akhirnya akan mengarah pada perlombaan senjata nuklir yang terus memanas.

Sementara itu, pemerintahan Trump telah menerapkan penarikan dari traktat Angkatan Nuklir Jangka Menengah (INF), dan sekarang berupaya untuk tidak memperbarui Perjanjian New START yang akan berakhir pada Februari 2021.

William Potter, seorang ahli urusan strategis melihat prospek untuk memperpanjang perjanjian New START masih belum jelas karena keengganan Amerika Serikat untuk memperbaharuinya.(PH)