Menggoyah Kepemimpinan Putin Lewat Revolusi Warna
https://parstoday.ir/id/news/world-i86990-menggoyah_kepemimpinan_putin_lewat_revolusi_warna
Rusia selalu direcoki oleh pendekatan intervensionis Barat dalam urusan internalnya setelah berakhirnya era Perang Dingin. Intervensi ini semakin gencar sejak meletusnya krisis Ukraina pada 2014 dan meningkatnya konfrontasi Rusia-NATO di Eropa Timur serta penerapan berbagai sanksi terhadap Moskow oleh Amerika Serikat dan Eropa.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Nov 07, 2020 13:37 Asia/Jakarta
  • Presiden Vladimir Putin.
    Presiden Vladimir Putin.

Rusia selalu direcoki oleh pendekatan intervensionis Barat dalam urusan internalnya setelah berakhirnya era Perang Dingin. Intervensi ini semakin gencar sejak meletusnya krisis Ukraina pada 2014 dan meningkatnya konfrontasi Rusia-NATO di Eropa Timur serta penerapan berbagai sanksi terhadap Moskow oleh Amerika Serikat dan Eropa.

Pemerintah Moskow mengaku prihatin dengan upaya Barat untuk mendestabilisasi Rusia. Direktur Badan Intelijen Luar Negeri Rusia, Sergei Naryshkin pada hari Jumat (6/11/2020) mengatakan Barat sedang menguji teknik destabilisasi di Belarusia sebelum menggunakannya untuk melawan Rusia.

“Sangat jelas bahwa oposisi kami di Barat sedang berusaha mengulangi situasi Belarusia di Rusia,” katanya.

Naryshkin menekankan bahwa dalam kasus Belarusia, negara-negara Barat menggunakan teknik populer yang sama, “revolusi warna” yang telah digunakan di banyak negara selama dua atau tiga dekade terakhir.

Peringatan pejabat senior keamanan Moskow ini dikeluarkan karena adanya upaya konstan Barat, terutama Amerika dan kemudian Uni Eropa untuk meluncurkan revolusi warna di negara-negara sekitar Rusia dan pada akhirnya di Rusia sendiri.

Teknik itu sudah dilakukan di Georgia, Ukraina, dan Kirgistan. Dalam kerusuhan politik baru-baru ini di Belarusia, Barat juga mencoba menerapkan model serupa di negara Eropa Timur ini, yang merupakan salah satu sekutu utama Rusia.

Moskow mengkhawatirkan bahwa ketidakstabilan yang meningkat di Belarusia yang bertetangga dengan Rusia, akan menyebabkan runtuhnya sistem yang berlaku saat ini dan munculnya pemerintahan pro-Barat.

Jika ini terjadi, jelas ia akan menyebabkan perubahan substansial dalam perimbangan kekuatan saat ini di Eropa dan meningkatnya tekanan Barat terhadap Rusia setelah negara itu dikepung oleh negara-negara pro-Barat.

Dari sudut pandang Moskow, tren ekspansi NATO ke timur yang terus berkembang dan terjadinya revolusi warna di negara-negara tetangga yaitu Georgia dan kemudian Ukraina, merupakan bagian dari master plan Barat untuk menghapus sistem politik yang tidak sejalan dengan mereka di negara-negara penyangga antara Eropa dan Rusia, dan pada akhirnya mengepung Moskow.

Kremlin percaya bahwa Barat terutama Uni Eropa dan Amerika, sedang menjalankan skenario serupa di Belarusia dengan meningkatkan tekanan politik, mendukung para pengunjuk rasa, dan menjatuhkan sanksi yang ekstensif terhadap para pejabat senior Minsk.

Di Rusia, AS telah meningkatkan bantuan dana kepada oposisi, mendukung penuh media-media oposisi, dan membangun citra negatif tentang Rusia. Setelah tokoh oposisi Rusia, Alexei Navalny gagal memimpin protes melawan pemerintah, Washington mulai menerapkan sanksi baru terhadap Moskow yang bertujuan untuk meningkatkan tekanan dan memprovokasi ketidakpuasan warga Rusia terhadap pemerintah.

Menurut analis politik Rusia, Alexey Mukhin, para perancang sanksi baru anti-Rusia di Amerika telah membuat kesalahan besar.

Presiden Vladimir Putin percaya bahwa AS menginginkan tokoh pro-Barat seperti Alexei Navalny untuk berkuasa di Rusia. Menurutnya, Barat berada di balik aksi-aksi protes di Rusia untuk menyulut sebuah revolusi warna dan berkuasanya pemerintahan pro-Barat di negara ini. (RM)