Biden dan Berbagai Opsi untuk Afghanistan
-
Pasukan AS di Afghanistan
Mullah Baradar, kepala tim perunding Taliban menekankan bahwa Amerika Serikat berkomitmen pada perjanjian dengan kelompok itu terkait penarikan pasukannya dari Afghanistan, dan memperingatkan bahwa Taliban tidak akan menolerir intervensi asing di negara itu.
Selain pejabat Taliban ini, Juru Bicara Taliban Zabihullah Mujahid juga secara implisit memperingatkan pemerintahan Biden tentang kemungkinan pelanggaran oleh Washington. Menurutnya, "Jika Amerika Serikat mematuhi perjanjian itu, kami akan mematuhinya, jika tidak, kami siap berkorban untuk kemerdekaan kami."
Meningkatnya peringatan para pejabat Taliban terjadi ketika sesuai dengan kesepakatan antara AS dan Taliban, para pejabat Washington memiliki waktu sekitar dua bulan untuk memutuskan apakah akan menarik pasukannya dari Afghanistan atau tidak. Penghitungan mundur untuk pejabat AS telah dimulai, di mana menurut beberapa ahli mengatakan, selama AS tidak memenuhi komtimennya kepada Taliban, pasukan Barat akan menghadapi serangan Taliban.
"Jika Washington menarik diri dari perjanjian AS-Taliban, kelompok Taliban tidak akan menunggu AS kembali ke perjanjian tersebut dan akan melanjutkan serangan terhadap pasukan AS dan NATO," kata Nazar Mohammad Mutmaeen, seorang pakar urusan Taliban.
Namun, sejalan dengan peringatan para pejabat Taliban, Penasihat Keamanan Nasional AS Jack Sullivan mengatakan bahwa Joe Biden sedang mempertimbangkan perjanjian Qatar dalam konsultasi dengan negara-negara anggota NATO dan para komandan militer AS. Menurut Penasihat Keamanan Nasional AS, pemerintahan Biden akan memutuskan dalam beberapa hari atau minggu mendatang apakah akan menarik pasukan dari Afghanistan.
Tentu saja, pernyataan ini tidak terbatas pada Sullivan saja, tapi Menteri Pertahanan AS telah mengumumkan bahwa AS akan berkonsultasi dengan sekutunya mengenai revisi perjanjian Qatar dan pasukan AS tidak akan meninggalkan Afghanistan dengan terburu-buru. Sekalipun demikian, penekanan dari Penasihat Keamanan Nasional AS dan pejabat AS lainnya pada keputusan Biden di Afghanistan datang pada saat pertemuan para menteri pertahanan NATO baru-baru ini yang berakhir tanpa keputusan apakah akan melanjutkan atau menarik pasukan dari Afghanistan.
Upaya para pejabat AS untuk mengumumkan kebijakan baru Washington terhadap Afghanistan telah meningkat. Sementara sesuai dengan kesepakatan Qatar antara Amerika Serikat dan Taliban tahun lalu, Washington berjanji semua pasukan asing untuk mematuhi serangkaian komitmen keamanan untuk meninggalkan tanah Afghanistan hingga akhir April 2021.
Sekalipun demikian, Joe Biden semakin mendekati tenggat waktu yang tersisa bagi pasukan AS untuk meninggalkan Afghanistan, dan para penasihat militer serta intelijennya hanya memiliki tiga opsi di depannya. Menurut Washington Post, opsi pertama adalah menarik pasukan sesuai waktu yang ditentukan pada 1 Mei. Memilih opsi ini berarti jatuhnya pemerintah Afghanistan dan negara ini ke dalam perang saudara. Opsi kedua adalah memperpanjang kehadiran pasukan asing untuk waktu terbatas yang harus dinegosiasikan dengan Taliban. Sementara opsi ketiga dan terakhir adalah terus hadir untuk waktu yang tidak terbatas.
Bagaimanapun juga, sementara pemerintah Biden sedang mempertimbangkan kesepakatan dengan Taliban, AS ternyata belum berkonsultasi dengan pemerintah Afghanistan mengenai kesepakatan tersebut. Menurut Rahmatullah Andar, kesepakatan tersebut gagal membantu untuk mewujudkan perdamaian, mengakhiri perang, menghentikan pertumpahan darah, dan memperbaiki situasi rakyat Afghanistan. Isyarat Rahmatullah Andar merujuk pada kebuntuan dalam pembicaraan damai Afghanistan di Doha. Karena tim perunding Afghanistan dan Taliban belum bertemu lagi sejak sebulan lalu.
Secara keseluruhan, menurut indikasi dari pemerintahan Joe Biden, Presiden baru AS, Biden bermaksud untuk mempertimbangkan kembali keputusan Trump untuk menarik pasukannya dari Afghanistan.
Menurut kesepakatan yang dicapai antara Taliban dan Amerika Serikat pada 29 Februari 2020, semua pasukan asing harus meninggalkan Afghanistan pada Mei tahun ini. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, Amerika Serikat telah menekankan bahwa penarikan diri dari Afghanistan tergantung pada kondisi dan pemenuhan komitmen Taliban.
Pemerintah Biden tampaknya berusaha mengganti kesepakatan Doha, dan sedang memikirkan perjanjian strategis dan pakta keamanan AS dengan pemerintah Afghanistan. Itulah mengapa pemerintahan Biden mencari jalan keluar bertahap sambil melindungi kepentingan AS di Afghanistan. Menurut Biden, Cina dan Rusia tetap menjadi ancaman strategis bagi Amerika Serikat, oleh karena itu keberadaan AS di Afghanistan sangat penting. (SL)