Balas AS, Rusia Resmi Keluar dari Traktat Ruang Terbuka
Jun 08, 2021 16:51 Asia/Jakarta
-
Majelis Rendah Rusia, Duma
Presiden Rusia hari Senin 7 Juni 2021 menandatangani undang-undang keluarnya negara ini dari Traktat Ruang Terbuka atau Open Skies Treaty, setelah pemerintah Amerika Serikat menolak bergabung kembali dengan perjanjian ini.
Pemerintah Rusia mengumumkan, keputusan Amerika Serikat menolak bergabung kembali dengan perjanjian Open Skies Treaty adalah sebuah kesalahan politik.
Traktat Ruang Terbuka yang ditandatangani 34 negara dunia ini membuka kesempatan dilakukannya penerbangan pengintaian udara tak bersenjata di seluruh negara anggota.
Perjanjian ini pertama kali ditantangani pada 24 Maret 1992 di Helsinki, Finlandia dan mulai dilaksanakan pada 2002. Perjanjian ini dianggap sebagai bagian dari upaya internasional untuk membangun kepercayaan di era usai Perang Dingin.
AS secara resmi keluar dari Traktat Ruang Terbuka pada 22 November 2020, di sisi lain Rusia awalnya mengumumkan akan mempertahankan konvensi-konvensi kontrol senjata, setelah itu memutuskan untuk melanjutkan Traktat Ruang Terbuka dan mencegahnya agar tidak runtuh.
Rusia memberikan sejumlah usulan ilmiah kepada anggota Traktat Ruang Terbuka yang tergabung dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara, NATO, sekutu AS, tapi justru menghadapi ketidakpedulian dan tuduhan-tuduhan dari mereka.
Moskow berulangkali menegaskan bahwa keluarnya AS dari Traktat Ruang Terbuka dengan alasan tak berdasar telah merusak kepentingan negara-negara anggota, dan menyebabkan kinerja perjanjian ini diragukan, sehingga ia tidak bisa lagi dipakai sebagai mekanisme untuk meningkatkan keamanan dan alat membangun kepercayaan di antara anggota.
Kekhawatiran serius Rusia adalah AS tanpa bergabung dengan Traktat Ruang Terbuka akan memanfaatkan negara-negara anggota perjanjian ini yang juga anggota NATO untuk memperoleh informasi seputar Rusia, dengan begitu keseimbangan informasi di bidang fasilitas militer dan peralatan tempur Rusia-AS akan rusak.
Dengan memperhatikan hal ini, Rusia pertama pada 15 Januari 2021 mengumumkan akan keluar dari Traktat Ruang Terbuka, dan Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan proses penarikan keluar negara ini dari Traktat Ruang Terbuka sudah dimulai.
Moskow menegaskan setelah AS keluar dari Traktat Ruang Terbuka maka tidak ada lagi kepentingan baginya untuk tetap bertahan di perjanjian ini. Langkah Rusia dilakukan setelah beberapa kali memperingatkan akan keluar dari Traktat Ruang Terbuka jika anggota-anggotanya tidak menghentikan pertukaran informasi dengan AS.
Oleh karena itu alasan keluarnya Rusia dari Traktat Ruang Terbuka adalah penolakan AS untuk kembali bergabung dengan perjanjian ini.
Departemen Luar Negeri AS di akhir Mei 2021 mengumumkan, mengingat Rusia tidak melakukan langkah apa pun dalam kerangka implementasi perjanjian ini, maka pemerintah AS menyampaikan kepada Moskow bahwa Washington tidak akan kembali ke Traktat Ruang Terbuka.
Richard Weitz, Direktur Pusat Analisis Politik-Militer di Institut Hudson mengatakan, "Masalah keluar dari Traktat Ruang Terbuka sudah ramai dibicarakan sejak beberapa waktu lalu di AS, dan banyak alasan yang mendasarinya, termasuk bahwa AS telah menemukan satelit dan peralatan ampuh untuk melakukan mata-mata akurat terhadap berbagai wilayah di dunia yang biayanya lebih rendah dari implementasi Traktat Ruang Terbuka, selain itu modernisasi armada spionase AS membutuhkan dana lebih dari 100 juta dolar, di sisi lain AS percaya Rusia tidak melaksanakan isi perjanjian ini dengan benar."
Pemerintah AS di bawah Joe Biden terbukti melanggar janji-janjinya dan sedang berjalan di jalur yang dilalui Donald Trump. Saat kampanye presiden, Joe Biden memprotes keputusan Trump keluar dari Traktat Ruang Terbuka dan menyebutnya berpikiran pendek, karena menurutnya langkah ini akan meningkatkan ketegangan Barat dan Rusia, dan bisa meningkatkan kesalahpahaman atau potensi konfrontasi militer.
Namun kenyataannya sekarang pemerintah Biden menolak bergabung kembali dengan Traktat Ruang Terbuka, sehingga memperkuat dugaan bahwa AS menginginkan keleluasaan lebih besar untuk mengembangkan nafsu militernya tanpa batas dan pengawasan di dunia ini. (HS)
Tags