Hari Teknologi Nuklir Nasional Iran
https://parstoday.ir/id/radio/iran-i35748-hari_teknologi_nuklir_nasional_iran
Republik Islam Iran memperingati Hari Teknologi Nuklir Nasional setiap tanggal 20 Farvardin. Pada tanggal yang bertepatan dengan 9 April 2007, Iran memasang fase kedua sentrifugal baru di pusat tenaga nuklir Natanz di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Program tersebut telah mengantarkan Iran mencapai prestasi gemilang di bidang teknologi nuklir yang selama ini hanya menjadi monopoli segelintir negara besar dunia saja.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Apr 09, 2017 09:34 Asia/Jakarta

Republik Islam Iran memperingati Hari Teknologi Nuklir Nasional setiap tanggal 20 Farvardin. Pada tanggal yang bertepatan dengan 9 April 2007, Iran memasang fase kedua sentrifugal baru di pusat tenaga nuklir Natanz di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Program tersebut telah mengantarkan Iran mencapai prestasi gemilang di bidang teknologi nuklir yang selama ini hanya menjadi monopoli segelintir negara besar dunia saja.

Keberhasilan ini menjadi jalan bagi Iran untuk melanjutkan langkah besarnya di bidang pengembangan sains dan teknologi nuklir. Pada tahun 2009, ilmuwan Iran berhasil memproduksi sendiri bahan bakar nuklir yang dipergunakan demi memenuhi  kebutuhan reaktor untuk memproduksi energi listrik.

Setahun kemudian, Iran secara resmi mengumumkan keberhasilanya mencapai swasembada dalam produksi massal kue kuning. Para ilmuwan Iran terus mengembangkan kemampuannya hingga bisa memproduksi kue kuning dengan tingkat pengayaan mencapai 20 persen.

Pada tahun 2012, Iran meraih enam capaian penting di bidang teknologi nuklir, termasuk produksi uranium dioxide natural sebagai bahan baku reaktor air berat Arak, dan sebuah produk baru radio farmasi. Penggunakan sains dan teknologi nuklir juga menghasilkan beragam produk, termasuk di bidang farmasi dan medis untuk mendeteksi dan pengobatan. Sejumlah penyakit parah berhasil dideteksi dan diobati dengan memanfaatkan sains dan teknologi nuklir.

Tentu saja, tidak mudah bagi Iran untuk menembus lingkaran monopoli sains dan teknologi nuklir yang selama dikuasai oleh segelintir negara tertentu saja. Tidak lama setelah Republik Islam Iran  mengumumkan keberhasilan besarnya di bidang siklus penuh pengayaan uranium, Tehran menghadapi serangan bertubi-tubi  dari pihak musuh yang tidak menghendaki kemajuan tersebut yang muncul dalam berbagai bentuk tekanan dan sanksi.

Padahal berdasarkan traktat NPT, pemanfaatkan teknologi nuklir untuk tujuan damai yang berada dalam pengawasan IAEA merupakan tindakan legal. Republik Islam Iran sebagai anggota IAEA yang menandatangani traktat NPT memiliki hak tersebut.Tapi kekuatan hegemonik global, terus-menerus menghalanginya. Ironisnya, sesuai traktat NPT, negara pemilik teknologi nuklir harus membantu negara lain untuk mengembangkan sains dan teknologi tersebut demi tujuan damai. Tapi faktanya jauh panggang dari api. Negara-negara adidaya yang menguasai sains dan teknologi nuklir justru melancarkan berbagai tekanan dan sanksi untuk menghalangi kemajuan Iran di bidang tersebut.

Negara-negara Barat khususnya Amerika Serikat dengan standar gandanya menuntut Iran untuk menghentikan aktivitas nuklirnya. Di saat yang sama, Barat tidak pernah mempersoalkan rezim Zionis Israel yang tidak tunduk kepada IAEA dan menyimpan ratusan bom nuklir di gudang-gudang senjatanya.

Iran lebih dari tiga dekade melakukan berbagai riset mengenai sains dan teknologi nuklir. Sejak tahun 1958, Iran tercatat sebagai anggota IAEA, dan pada tahun 1968 menandatangani Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT). Republik Islam berkomitmen untuk meraih kemajuan dengan bersandar pada ilmu pengetahuan. Berdasarkan prinsip ini, kemajuan di bidang sains dan teknologi nuklir menjadi prioritas program sains dan teknologi Iran.

Pasca kemenangan Revolusi Islam berbagai penelitian mengenai sains dan teknologi nuklir sipil dilakukan meliputi nuklir medis, produksi energi listrik yang dihasilkan melalui reaktor nuklir, implementasi teknologi nuklir di bidang pertanian dan tambang.

Iran telah memiliki siklus lengkap untuk menghasilkan bahan bakar nuklir. Pencapaian ini merupakan sebuah mimpi buruk bagi Barat sehingga mereka agresif untuk menghentikan pengayaan uranium Iran melalui berbagai resolusi dan sanksi di Dewan Keamanan PBB.

Menyikapi kemajuan Iran di bidang teknologi nuklir, Amerika Serikat mengancam akan meningkatkan tekanan lebih deras terhadap Iran di tingkat dunia, termasuk peningkatan sanksi politik dan ekonomi. Inggris mengklaim kemenangan bangsa Iran di bidang sains dan teknologi nuklir sebagai aksi yang berseberangan dengan seruan masyarakat dunia. Sementara Perancis mengusulkan pengetatan sanksi jika proses itu terus berlanjut.

Di tengah upaya masif Barat tersebut, bangsa Iran membela mati-matian tuntutan legalnya hingga meraih hak pengembangan sains dan teknologi nuklir. Berbagai cara ditempuh musuh untuk menghalangi kemajuan bangsa Iran dan teknologi nuklir damai, seperti: sanksi, perang psikologis dan tekanan politik, ancaman serangan militer, aksi teror terhadap para ilmuan nuklir, dan bahkan tindakan sabotase terhadap instalasi nuklir melalui virus komputer. Akan tetapi, teknologi nuklir saat ini telah menjadi salah satu prestasi besar bangsa Iran di bidang sains. Sekarang, Iran memproduksi sekitar 90-95 persen radio isotop untuk kebutuhan pasien di pusat-pusat riset nuklir medis.

Kekuatan-kekuatan hegemonik membentuk poros yang kuat untuk memonopoli sains dan teknologi. Tidak hanya itu, Barat juga menghalangi negara-negara lain yang melakukan riset di bidang teknologi mutakhir. Selain membentuk blok militer semacam Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), negara-negara arogan juga melancarkan tindakan serupa di bidang sains dan teknologi nuklir.

Menghadapi gelombang tekanan Barat, bangsa Iran dengan tekad bajanya telah menerobos monopoli tersebut. Dengan capaian besar ini, reaktor riset Tehran yang bertumpu pada kemampuan para ilmuannya tidak lagi bergantung kepada negara lain dalam pengayaan uranium.

Sekitar dua tahun lamanya tim juru runding Iran berunding dengan delegasi dari lima negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB ditambah Jerman mencapai kesepakatan nuklir. Berdasarkan kesepakatan yang dicapai Iran dan enam negara besar dunia ini disepakati sejumlah masalah antara lain: mempertahankan kemampuan dan teknologi nuklir Iran, pencabutan sanksi dewan keamanan PBB dan mengeluarkan kasus nuklir Iran dari pasal 7 piagam PBB dan dewan keamanan.

Selain itu, dewan keamanan meratifikasi resolusi baru yang menyatakan bahwa program nuklir Iran, termasuk pengayaan uraniumnya sebagai sebuah aktivitas legal dan diakui PBB. Kini, Iran memiliki legitimasi kuat di tingkat internasional di bidang pengembangan energi nuklir sipil.

Iran saat ini diakui publik dunia sebagai salah satu produsen produk nuklir sipil, terutama untuk dua produk strategisnya yaitu uranium yang diperkaya dan air berat yang bisa memasuki pasar dunia. Kualitas air berat yang diproduksi Iran memiliki tingkat kemurnian 99,95 persen yang telah diuji di berbagai laboratorium terkemuka dunia.

Dari sisi kualitas, air berat produksi Iran berada di posisi tinggi. Saat ini, selain Rusia dan AS, perusahaan besar Eropa melirik pembelian air berat dari Iran. Berdasarkan kesepakatan Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA), Iran bisa menjual kelebihan produksi air beratnya hingga 130 ton ke pasar dunia.

Tahun lalu, kepala Organisasi Energi Atom Iran, Ali Akbar Salehi dalam pertemuan selama tiga hari Asosiasi Nuklir Sedunia yang berlangsung di London, ibu kota Inggris menyampaikan usulan kerja sama dua universitas Iran dengan universitas yang berafiliasi dengan asosiasi nuklir sedunia.

Peran aktif Iran dalam berbagai even internasional, termasuk usulan kerja sama organisasi energi atom Iran dan asosiasi nuklir sedunia menunjukkan posisi sains dan teknologi Iran di tingkat dunia. Iran juga terlibat aktif dalam proyek International Thermonuclear Experimental Reactor (ITER) yang diikuti 27 negara Eropa, AS, Cina, India, Korea Selatan dan Jepang. Berdasarkan proyek ini, 30 hingga 40 tahun mendatang memasuki tahapan komersialisasi dan kini baru di fase investasi.

Iran juga menyampaikan berbagai prakarsa penting di bidang sains dan teknologi nuklir, termasuk di bidang farmasi dan medis dengan memproduksi radio farmasi. Pengalaman penting ini bisa dibagikan kepada negara lain yang membutuhkan.

Tidak hanya itu, Iran juga melakukan pengembangan sanis dan teknologi nuklir media, di antaranya mendirikan pusat kedokteran nuklir paling canggih di kawasan, penggunaan teknologi laser untuk kebutuhan medis. Sebagian contoh ini menunjukkan langkah Iran yang serius mengembangkan sains dan teknologi nuklir medis demi kemaslahatan dan perdamaian.