KTT Walikota Dunia Islam di Mashad
Kota Mashad di timur laut Iran menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Walikota Dunia Islam pada tanggal 25-27 April 2017. Walikota dari 40 negara asing di Asia, Eropa, dan Afrika turut berpartisipasi dalam pertemuan ini. Para walikota dari 19 kota metropolitan Iran juga hadir dalam konferensi internasional itu. KTT ini bertujuan untuk menemukan cara-cara mendasar demi meningkatkan interaksi antara kota-kota metropolitan di Dunia Islam.
Konferensi juga membahas tema-tema lain seperti, diplomasi kota, persahabatan antar warga kota Muslim, jaringan kerjasama antar-kota, dan pengaruhnya bagi kehidupan masyarakat Muslim. Para walikota juga mendiskusikan masalah hubungan antar kota-kota Islam di era globalisasi, perkembangan industri pariwisata dengan penekanan pada wisata syariah, serta interaksi antar kota dengan tujuan berbagi pengalaman.
Kota Mashad dinobatkan sebagai ibukota budaya Islam pada tahun 2017 untuk regional Asia oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Islam (ISESCO). Pada tahun 2006, kota Isfahan di Iran juga terpilih sebagai salah satu dari tiga ibukota budaya Dunia Islam. Pemerintah Iran kemudian mengambil langkah-langkah untuk memperkenalkan budaya Iran-Islami kepada Dunia Islam.
Konferensi Islam Ketiga Menteri Kebudayaan pada Desember 2001 mengeluarkan sebuah resolusi, yang mengadopsi program ibukota kebudayaan Islam yang diajukan oleh ISESCO. Resolusi meminta negara-negara anggota OKI untuk mengajukan nama kota kepada ISESCO untuk dipilih sebagai ibukota budaya Dunia Islam. ISESCO menetapkan Makkah al-Mukarramah sebagai ibukota pertama kebudayaan Islam pada tahun 2005.
Program ISESCO ini tertuang dalam pemilihan tiga kota Islam pada setiap tahunnya dari masing-masing tiga wilayah Islam yang mencakup; Dunia Arab, Afrika dan Asia, serta memilih ibukota yang akan menjadi tuan rumah konferensi Islam untuk para menteri kebudayaan, yang diadakan setiap dua tahun sekali.
Setelah Mashad ditetapkan sebagai ibukota budaya Islam pada tahun 2017, pemerintah Iran menyusun program-program untuk mengembangkan hubungan antara kota-kota Islami dan memperkenalkan budaya Iran-Islami. Kota Mashhad menjadi pusat perhatian jutaan pecinta Rasulullah Saw dan Ahlul Bait as di seluruh dunia karena keberadaan makam suci Imam Ali bin Musa ar-Ridha as.
Status Mashad sebagai ibukota budaya Dunia Islam telah menyediakan peluang yang tepat untuk menghidupkan peradaban Iran-Islami di era modern, dengan cara membangun interaksi dengan Dunia Islam dan memanfaatkan kapasitas para intelektual dan masyarakat setempat.
Perlu dicatat bahwa Dunia Islam menyimpan potensi dan kapasitas yang sangat besar. Sebagian besar penduduk dari lebih dari 50 negara dunia adalah Muslim dan 40 negara secara resmi dikenal sebagai negara Muslim. Warga Muslim membentuk lebih dari 93 persen populasi di Timur Tengah dan Afrika Utara, dan kurang dari tiga persen adalah warga Kristen dan sekitar tiga persen sisanya menganut aliran kepercayaan yang berbeda. Dunia Islam memiliki situs-situs yang paling suci seperti, Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid al-Aqsa, serta tempat-tempat suci lainnya.
Negara-negara Muslim menjadi incaran kekuatan-kekuatan imperialis karena memiliki letak geografi yang strategis, iklim yang beragam, dan sumber daya alam yang melimpah. Dari satu sisi, negara-negara Muslim menjadi titik pertemuan tiga benua penting; Asia, Afrika, dan Eropa. Dari sisi lain, mereka memiliki posisi yang strategis untuk perdagangan internasional dan menyimpan cadangan bahan baku yang melimpah. Jelas bahwa interaksi lebih dekat dan persatuan di antara negara-negara Muslim, akan mempermudah jalan untuk memanfaatkan sumber daya yang luar biasa itu.
Untuk tujuan tersebut, kota Mashad menjamu 40 walikota dari negara-negara di Asia, Eropa, dan Afrika untuk mengikuti KTT Walikota Dunia Islam. Selama konferensi, para walikota mengutarakan berbagai isu penting dan menyampaikan pandangan seputar arsitektur Islam. Pesona Mashad telah menyita perhatian para walikota Dunia Islam, karena kota religius ini mengawinkan seni arsitektur Iran-Islam dengan teknologi modern.
Mengingat identitas kota-kota Islam mulai tergerus dan mengalami perubahan bentuk, maka para walikota Dunia Islam berkomitmen untuk meningkatkan fokus pada arsitektur Islam. Mereka juga menekankan tekadnya untuk mengembangkan pariwisata syariah. Pada KTT Walikota Dunia Islam, perwakilan kota Abidjan di Pantai Gading, mengusulkan pembentukan jaringan global kota-kota Islam demi menciptakan interaksi dan transfer pengalaman.
Ia mengatakan, "Saya berharap pertemuan ini akan membuka cakrawala baru untuk memahami persoalan yang dihadapi negara-negara Muslim. Jaringan global kota-kota Islam harus diluncurkan sehingga mereka dapat membangun hubungan serta dapat berbagi pengalaman dan prestasi kepada sesama dan mendorong kekuatan Islam."
Walikota Kota Ghobeiry, Lebanon, Moen Munir Khalil juga mengatakan, "Kita harus berusaha mengembangkan pariwisata gratis di kota-kota Islam. Pemerintah kota Mashad punya pengalaman yang baik di bidang manajemen kota dan oleh karena itu, mereka mampu menyelesaikan banyak masalah yang ada di kota ini dan mencapai kemajuan yang signifikan."
Dalam pertemuan itu, dosen Universitas Syahid Beheshti Tehran, Mohammad Sarraf menuturkan, "Sebuah jaringan strategis perlu dibentuk seiring dengan proses globalisasi, karena globalisasi telah menghadirkan banyak peluang dan juga krisis. Oleh sebab itu, jika kita ingin melawan dampak-dampak negatif globalisasi, kita perlu membentuk sebuah jaringan di kota-kota Islam untuk melawan fenomena tersebut."
"Saat ini perusakan lingkungan hidup dilakukan secara besar-besaran pada tingkat global dan sumber-sumber alam dieksploitasi secara masif. Selain itu, kesenjangan sosial terus meningkat dan ketimpangan ekonomi juga semakin melebar. Semua ini merupakan dampak dari globalisasi, begitu juga dengan masyarakat yang termarjinalkan," tambahnya.
Dosen Universitas Syahid Beheshti Tehran ini berpendapat bahwa kita membutuhkan persatuan sehingga suara kita didengar oleh dunia. Jika kita mengamati warisan budaya dan cara kita memperlakukan alam, kita akan mengerti bahwa kita memperlakukan mereka dengan penuh cinta di masa lalu. Nilai-nilai itu harus dihadirkan kembali untuk membantu jaringan negara-negara Islam dan nilai-nilai Islami.
Walikota Mashad, Sayid Sowlat Mortazavi dalam pidatonya pada KTT Walikota Dunia Islam mengatakan, "Kita tidak punya jalan lain kecuali berusaha untuk mencapai kemajuan, karena ajaran Islam mengajarkan kita bahwa barang siapa yang hari ini sama dengah hari kemarin, ia telah merugi." Ia menambahkan, kita harus berupaya untuk memajukan kota-kota kita dan kita harus bekerjasama demi memajukan kota-kota Islam. "Kita harus berusaha menemukan konsep baru dengan memanfaatkan ajaran agama yaitu; mengamalkan ayat-ayat al-Quran dan hadis Rasulullah Saw," ujarnya.
Sayid Mortazavi lebih lanjut menuturkan, "Langkah pertama, kasih sayang, persaudaraan, dan persatuan harus menjadi keteladanan perilaku kita. Kemudian mengandalkan sumber daya internal termasuk cadangan minyak, bahan tambang dan lain-lain, sebab persoalan Dunia Islam hari ini bukan karena kemiskinan akut. Dunia Islam menyimpan bahan tambang dan cadangan minyak yang berlimpah, dan keterbelakangan kita disebabkan oleh buruknya manajemen dalam memanfaatkan sumber daya dan ketergantungan kepada kekuatan arogan."
Di sela-sela konferensi, para walikota Dunia Islam telah mengunjungi berbagai tempat penting di kota Mashad termasuk Mashhad Botanical Garden. Ia adalah kebun raya terbesar di wilayah timur laut Iran. Para peserta kemudian menanam pohon di kebun tersebut sebagai simbol perdamaian dan persahabatan.
Sementara itu, Walikota Putrajaya Malaysia, Datuk Hasim Ismail saat mengunjungi Makam Ferdowsi, mengatakan bahwa konvergensi dan peningkatan pengetahuan di negara-negara Islam diperlukan, dan solidaritas di antara mereka harus semakin diperkuat. Ia menyebut KTT Mashad sebagai titik balik dalam hubungan bilateral kota-kota Islam, dan mendesak penggunaan teknologi modern untuk memfasilitasi berbagi informasi di negara-negara Muslim.