Upaya Amerika Melemahkan Iran dari Dalam
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar dalam pidatonya di kota Mashhad di hadapan para peziarah Makam Suci Imam Ridha as di awal tahun baru Iran, 1396 Hs (21 Maret 2017) menganggap salah satu tujuan strategis musuh bangsa Iran dengan meningkatkan tekanan ekonomi atas negara ini adalah untuk mengecilkan hati rakyat Iran dan membuat mereka putus asa atas pemerintahan Islam.
Ayatullah Sayid Ali Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar dalam pidato tahun barunya di hadapan para peziarah Makam Suci Imam Ridha as di Mashhad menyinggung beberapa poin penting. Menurut Rahbar, rakyat Iran hingga sekarang berhasil melewati berbagai tantangan dan ancaman. Sebagian dari tantangan dan ancaman itu dilancarkan untuk menghancurkan rakyat Iran. Saat ini, ancaman-ancaman tersebut tetap ada dan tujuan finalnya adalah melemahkan pemerintahan Islam.
Kekuatan imperialis dunia menekan sejumlah pemerintahan independen dunia dengan metode ini dan menyerang negara-negara yang berdiri melawan kekuatan dominatif, dengan melancarkan perang ekonomi dan moneter. Dengan menggunakan tuas ini, mereka berupaya mencegah kemajuan dan pembangunan negara-negara independen. Manuver semacam ini juga dilakukan terhadap Republik Islam Iran.
Langkah pertama Barat adalah menjatuhkan sanksi atas Iran di masa Perdana Menteri Dr. Mohammad Mosadeq dan aksi kudeta yang dikomandoi Amerika Serikat dan Inggris pada tahun 1953 di Iran. Target Amerika dan Inggris saat itu adalah mencegah nasionalisasi industri minyak Iran.
Nasionalisasi minyak Iran, memicu kekhawatiran kedua negara Barat itu karena pengaruh dan intervensinya di Iran akan dibatasi, pasalnya hal itu bertentangan dengan tujuan penjajahan mereka di Iran. Oleh karena itu Amerika dan Inggris melancarkan sebuah konspirasi bersama dengan menggunakan alat sanksi dan tekanan ekonomi terhadap Iran yang saat itu pendapatan negaranya hanya bertumpu pada minyak. Aksi tersebut dilakukan agar upaya nasionalisasi industri minyak Iran gagal.
Pengalaman sejumlah banyak negara termasuk Venezuela, Chile, bahkan negara-negara seperti Jepang yang saat ini berhasil meraih kemajuan besar, menunjukkan bahwa gangguan pada perekonomian sebuah negara bisa menyebabkan jatuhnya pemerintahan berkuasa di negara itu.
Penggunaan ekonomi sebagai salah satu bentuk sanksi dengan motif politik, terkadang bisa lebih efektif dari langkah-langkah militer langsung. Sebagai contoh, krisis minyak pada tahun 1973 dan lonjakan harga minyak di masa itu, bahkan menyebabkan munculnya stagflasi dalam perekonomian Amerika dan negara-negara Barat.
Para ekonom berusaha menemukan formula untuk menyelesaikan jenis guncangan semacam ini dengan menyodorkan berbagai pandangan yang berbeda di bidang ekonomi makro. Salah satunya yang terpenting adalah program yang diterapkan di era Ronald Reagen, Presiden Amerika atau yang dikenal sebagai Reagenisme atau "ekonomi aliran sisi penawaran".
Program tersebut disampaikan oleh Arthur Laffer, seorang ekonom kawakan, kepada para politisi Amerika dan tujuannya adalah untuk menyelamatkan perekonomian Amerika dari stagflasi yang diakibatkan oleh guncangan harga minyak di luar negeri. Dalam kerangka kebijakan ini, tingkat pajak dikurangi sehingga para investor terdorong untuk berinvestasi di sektor produksi, penawaran barang dan jasa.
Penerapan kebijakan yang dibarengi dengan penurunan tingkat pajak dan peningkatan pendapatan masyarakat ini, juga menyebabkan naiknya konsumsi dan permintaan barang, yang pada akhirnya mampu menyelamatkan Amerika dari stagflasi di era tahun 1980.
Pada kenyataannya, kebijakan ini berlandaskan pada model strategi ekonomi perlawanan dan terhitung sudah sejak lama digunakan, terutama dalam beberapa abad terakhir di sejumlah negara dunia.
Kebijakan tersebut berhasil mengatasi guncangan-guncangan keras ekonomi negara-negara dunia mulai dari Asia Barat sampai Eropa dan negara-negara kapitalis bahkan Amerika sendiri. Dengan kata lain, ekonomi perlawanan bagi sejumlah banyak negara telah berubah menjadi sebuah kebutuhan mendesak.
Ekonomi perlawanan yang di setiap negara dapat dilandaskan pada perubahan pola konsumsi, peningkatan lapangan pekerjaan dan penguatan budaya bersandar pada produksi dalam negeri, dan mendukung budaya kerja serta investasi, memiliki kinerja yang berbeda-beda.
Poin pentingnya adalah, mekanisme eksekusi di dalam negeri dan di arena diplomasi dalam menghadapi sanksi ekonomi. Dari sini kita dapat memahami pernyataan Rahbar terkait pentingnya memanfaatkan pengalaman dan pelajaran masa lalu dalam proses pengambilan keputusan.
Dengan menyampaikan poin-poin penting dalam kebijakan ekonomi perlawanan kepada pejabat pemerintah, Rahbar menilai kebijakan tersebut sebagai infrastruktur pemikiran dan intelektual untuk mewujudkan epik ekonomi. Untuk mewujudkan target-target ekonomi perlawanan diperlukan strategi asasi jangka menengah dan panjang.
Pidato Rahbar di awal tahun baru Iran realitasnya bersumber dari identifikasi akurat atas konsep keamanan ekonomi dan perhatian atas konsep tersebut. Maka dari itu, penegasan Rahbar terletak pada berlanjutnya upaya ini, dan hasil nyata dari upaya tersebut di segala bidang.
Jelas bahwa upaya ini harus melewati jalan yang sulit dan berat, namun di tengah semua kesulitan itu, banyak pekerjaan besar yang sudah dilakukan dalam beberapa tahun terakhir. Akan tetapi sampai sekarang masih terdapat jarak yang cukup jauh untuk sampai pada kondisi ideal.
Iran dalam tiga dekade terakhir berhasil melewati serangkaian tantangan mulai dari agresi militer musuh, blokade ekonomi dan sanksi. Iran juga berhasil mengubah seluruh tantangan itu menjadi peluang dan pengalaman untuk memperkuat fondasi pemerintahan.
Sekarang, dengan bersandar kepada pengalaman-pengalaman ini, strategi Iran adalah bergerak di jalur ekonomi perlawanan. Republik Islam Iran selama beberapa tahun terakhir menerapkan sejumlah kebijakan untuk melawan langkah musuh dan memprediksikan langkah-langkah berikutnya.
Berdasarkan hal ini, Iran dalam program-programnya untuk mengatasi masalah-masalah ekonomi, menempatkan ekonomi perlawanan sebagai prioritas. Ekonomi perlawanan merupakan salah satu metode yang dapat menjaga fondasi ekonomi sebuah negara dari guncangan-guncangan ekonomi dan fluktuasi di luar negeri, dengan memusatkan perhatian pada kapasitas dalam negeri di tengah situasi krisis yang mengancam stabilitas dan kondisi negara.
Pentingnya metode ini akan semakin tampak ketika kita memperhatikan tujuan musuh rakyat Iran yang sebenarnya ingin menggulingkan pemerintahan Islam di negara ini. Strategi mereka untuk mencapai tujuan ini adalah menggunakan kelemahan-kelemahan Iran dan menambah hambatan untuk mencegah kemajuan negara ini dengan menggunakan berbagai jenis sanksi dan membenturkan rakyat dengan pemerintah karena masalah-masalah kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, mereka berupaya menjauhkan pemerintah dari langkah-langkah asasi yang dianggapnya sebagai ancaman serius. Sebagaimana beberapa kali diperingatkan dalam pernyataan Rahbar, jika tantangan dan kesulitan-kesulitan masyarakat tidak teratasi dan tidak ditemukan solusinya, maka dampak-dampak dari permasalahan ekonomi bisa sangat destruktif dan jangka panjang.