Pertemuan Rahbar dengan Pelantun Syair Islami
https://parstoday.ir/id/radio/iran-i78776-pertemuan_rahbar_dengan_pelantun_syair_islami
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei dalam acara peringatan hari kelahiran Sayidah Fatimah Zahra Sabtu (15/2/2020) bertemu dengan para pelantun syair islami, Maddah dan menyampaikan berbagai masalah penting di tingkat nasional dan internasional.
(last modified 2026-03-03T12:22:08+00:00 )
Feb 19, 2020 12:31 Asia/Jakarta
  • Ayatullah Khamenei
    Ayatullah Khamenei

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei dalam acara peringatan hari kelahiran Sayidah Fatimah Zahra Sabtu (15/2/2020) bertemu dengan para pelantun syair islami, Maddah dan menyampaikan berbagai masalah penting di tingkat nasional dan internasional.

Pada hari peringatan kelahiran Putri Nabi Muhamamd Saw, Sayidah Fatimah Zahra, Rahbar melanjutkan tradisi sebelumnya yang telah berjalan selama bertahun-tahun dengan bertemu para pelantun syair Islami di Husseiniyah Imam Khomeini Tehran. Beberapa dari mereka menyampaikan puisi terbaru di hadapan Pemimpin Besar Revolusi Islam.

Salah satu yang menarik dari pertemuan ini adalah kehadiran para pelantun syair muda yang belum terkenal dan baru pertama kalinya menghadiri pertemuan dengan Rahbar. Kelanjutan dari pertemuan semacam ini menyampaikan banyak pesan. Selain perayaan kelahiran Sayidah Fatimah, juga menunjukkan perhatian khusus dari Pemimpin Besar Revolusi Islam terhadap masalah puisi, madah, dan penyelenggaaan acara-acara keagamaan di negara ini.

 

Pertemuan Rahbar dengan para Maddah

Selama ini para Maddah memainkan peran penting dalam menumbuhkan spirit revolusioner dan religiusitas rakyat Iran dalam berbagai momentum acara keagamaan dan nasional. Pada pertemuan dengan Rahbar, Mehdi Ghorbani, salah seorang Maddah muda melantunkan puisi tentang Putri Nabi, Sayidah Fatimah Zahra.

Duhai permata tunggal, salam

namanya dalam detak jantung, salam

perempuan teladan, ibu cermin panutan, salam 

 

 

Berbagai peristiwa baru disinggung Rahbar dalam pertemuan dengan salah satu elemen rakyat ini. Masalah perjuangan, keprihatinan sosial, politik dan budaya masyarakat dibicarakan sehingga salah satu dari elemen rakyat ini bergerak bersama untuk kemajuan bangsa dan negara juga dunia Islam.

Pemimpin Besar Revolusi Islam memandang para Maddah berperan penting dalam mengarahkan kebahagiaan dan duka masyarakat menuju tujuan mulia. Rahbar berkata, "Pada satu titik ada kecenderungan intelektual di sejumlah kalangan bahwa menangis [dukacita] adalah kelemahan dan sejenisnya. Menangisi syuhada bukanlah perbuatan lemah atau cengeng; tapi sebuah tekad. Berkabung untuk syuhada sebagaimana yang dilakukan saat ini, mengenang pemakaman para syahid, menyelanggarakan majelis duka untuk syuhada, pengulangan nama syuhada adalah duka cita, tetapi mengandung seruan untuk menjaga martabat, kekuatan dan keberanian,".

 

 

Rahbar memandang penyebaran nilai-nilai Ahlul Bait dalam acara-acara keagamaan sebagai khazanah yang tidak akan pernah habis. Puisi epik dan religius inilah yang membentuk kembali karakter manusia.

Ayatullah Khamenei berkata, "Hari ini, Anda perhatikan kondisi negara ini, dan masyarakat yang tegar di bawah berbagai tekanan. Kita membaca, melihat, mendengar tentang ketangguhan bangsa Iran sangat mencengangkan bagi pengamat internasional. Mereka terkejut. Tekanan yang dilancarkan raksasa liar Amerika bagi negara lain mungkin tidak akan mampu menahan seperlimanya, tetapi bangsa Iran tetap tegar berdiri. Lihatlah pawai 22 Bahman dan sebelumnya pada prosesi duka dan pemakaman Jenderal langit. Semua terkejut menyaksikan bangsa yang tegar ini. Ini semua berkah dari ajaran Ahlul Bait. Inilah berkah dari pengajian dan acara keagamaan, itu adalah berkah dari nama dan mengingat Hussein bin Ali dan Fatimah Zahra. "

 

 

Penggunaan kapasitas acara-acara keagamaan untuk mengekspresikan ajaran Islam dan revolusioner dari Ahlul-Bait menjadi salah satu masalah yang ditegaskan Rahbar. Beliau berkata  "Bagian lain dari sikap mulia Sayidah Fatimah adalah membantu orang lain .... Ketika [Anaknya bertanya, "Mengapa engkau mendahulukan berdoa untuk orang lain? Beliau menjawab, pertama tetangga kita, kemudian diri kita sendiri. Ini adalah pelajaran supaya mengingatkan kita tentang tanggung jawab sosial. "

Sayidah Fatimah dan anak-anaknya berpuasa selama tiga hari sesuai dengan nazar mereka. Tapi ketika akan berbuka puasa, datang orang miskin dan yatim ke rumah mereka untuk meminta makanan. Ayatullah Ali Khamenei menjelaskan kedermawaman Sayidah Fatimah dan keluarganya dengan mengatakan, "Di sana, orang-orang mulia ini menahan lapar demi membantu anak yatim, orang miskin, dan tawanan. Ini semua benar-benar terjadi. Ini juga simbolis, karena Sayidah Fatimah Zahra dapat mengatakan kepada mereka pergilah ke Masjid Nabawi, di mana ada pemerintahan Islam. Beberapa orang sekarang mengatakan mengapa Anda melestarikan sikap pengemis, Ini adalah tanggung jawab pemerintahan Islam. Tapi tanggung jawab pemerintah bukan berarti menghilangkan tanggung jawab masyarakat. Manusia dalam masyarakat erkewajiban untuk saling membantu; baik bantuan keuangan, intelektual secara  terhormat, segala macam bantuan, harus dilakukan dalam masyarakat. Ini adalah pelajaran dari sayidah Fatimah, inilah nilai Fatimiyah."

 

 

Masalah lain yang ditegaskan Rahbar dalam pertemuan dengan para Maddah mengenai urgensi menumbuhkembangkan nilai-nilai agama di tengah masyarakat, terutama di kalangan kaum muda. Rahbar mengatakan, "Salah satu kebutuhan dasar negara saat ini adalah melengkapi pemuda dengan senjata perang lunak, termasuk di dalamnya memperkokoh kekuatan mental, intelektual dan spiritual kaum muda dan pemahaman yang tepat tentang ajaran Fatimiyah dan Ahlu Bait,".

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran juga menyinggung plot dan propaganda media Barat untuk membujuk orang-orang Iran supaya bertekuk lutut di hadapan AS. 

"Bangsa Iran hingga kini tetap tegar berkat karunia ilahi, dan akan terus berdiri tegar. Tetapi, semua ini membutuhkan suntikan kekuatan spiritual yang berkelanjutan di tengah masyarakat," ujar Rahbar.

Ayatullah Khamenei dalam pidatonya menjelaskan urgensi doa sebagai kekuatan penting di tengah masyarakat. Rahbar mengatakan, "Doa ini adalaah pelajaran, yaitu sebuah pemikiran yang membangkitkan kesadaran manusia. Menumbuhkan pemikiran baru bagi manusia. Ketika Anda membaca dalam doa,

اَللهمّ اَغنِنی عَن هِبَةِ الوَهّابینَ بِهِبَتِکَ وَ اکفِنی وَحشَةَ القاطِعینَ بِصِلَتِک

Aa artinya itu? Artinya, jika seluruh dunia terputus dengan Anda, Tuhan, tetap terhubung dengan Anda, Jika bergantung kepada Allah swt, maka tidak perlu takut, 

حَتّى لا اَرغَبَ اِلى اَحَدٍ مَعَ بَذلِکَ وَ لا اَستَوحِشَ مِن اَحَدٍ مَعَ فَضلِک

Ini adalah pelajaran.  Ini memberikan  kita pemikiran, ini sebuah memberikan analisis tentang masa depan kehidupan kita yang harus dibuat program, kita tetap bergantung kepada Tuhan dan memutus hubungan ketergantungan dengan yang lain. Jangan takut menghadapi musuh. Semua ini juga terjadi di masa awal Islam datang. Semua ini juga terjadi ketika di awal Revolusi Islam ada orang-orang yang mengatakan, ini masyarakat Islam, Revolusi Islam bisa mencapai peringkat tinggi dalam ilmu pengetahuan, teknologi,  politik, juga pengaruh regional, dan seterusnya; tidak ada yang akan mempercayainya. Tetapi ini terjadi, karena Anda bergantung kepada Tuhan dan terus bekerja. Tentu saja bergantung kepada Tuhan bukan berarti menganggur atau pengangguran,"

 

Rahbar juga menyebut kaum muda sebagai motor penggerak masyarakat dengan menegaskan bahwa, semua kemajuan kita sampai saat ini berkat kehadiran kaum muda. 

Di penghujung pidatonya, Rahbar menyinggung masalah gaya hidup Islami. Dari sudut pandang Pemimpin Besar Revolusi Islam, gaya hidup mengisi semua lini kehidupan manusia. Sebab gaya hidup mempengaruhi berbagai masalah seperti pekerjaan, pernikahan, keluarga, pola konsumsi, liburan, bisnis hingg perilaku individu dan sosial di tengah masyarakat. Ayatullah Khamenei mengatakan, "Jika Anda ingin cara hidup Islami diterapkan, maka Anda harus membudayakannya di tengah masyarakat. Bawalah arus menuju Islam".(PH)