Lintasan Sejarah 27 Mei 2016
Hari ini, Jumat tanggal 27 Mei 2016 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 20 Sya'ban 1437 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 7 Khordad 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.
Ibnu Nadim Wafat
1052 tahun yang lalu, tanggal 20 Sya'ban 385 Hq, Ibnu Nadim, seorang sejarawan Muslim terkemuka, meninggal dunia.
Keterkenalan Ibnu Nadim lebih banyak disebabkan oleh buku karyanya yang berjudul "al-Fihrist". Dalam buku ini, dia menginventarisasi semua ilmu yang berkembang dalam peradaban Islam pada zaman itu dan menerangkan kehidupan para ilmuwan terkemuka saat itu.
Selain itu, dalam al-Fihrist juga dituliskan tentang buku-buku dan makalah dari berbagai bidang ilmu dan catatan lengkap mengenai kehidupan para pengarangnya. Ibnu Nadim juga menulis penjelasan mengenai buku-buku kuno dari berbagai bangsa di dalam al-Fihrist. Ibnu Nadim juga melakukan penelitian dan penulisan mengenai agama-agama dan mazhab-mazhab yang terkenal di zamannya dan melahirkan banyak buku di bidang ini. Karya ibnu Nadim lainnya berjudul "al-Ausaf wa Tasybihaat".
Perjanjian Tafna Ditandatangani
179 tahun yang lalu, tanggal 27 Mei tahun 1837, ditandatanganilah Perjanjian Tafna.
Perjanjian Tafna adalah perjanjian damai antara pemerintah Perancis dengan Amir Abdul Qadir Aljazairi, pemimpin perjuangan kemerdekaan bangsa Aljazair. Amir Abdul Qadir memulai perjuangannya melawan penjajahan Perancis sejak tahun 1832. Perjanjian Tafna berisi penyerahan wilayah barat Aljazair kepada Amir Abdul Qadir. Tujuan Perancis melalui perjanjian ini adalah agar Perancis dapat mengkonsolidasikan kekuatannya dan berkonsentrasi dalam menghadapi perlawanan rakyat di Aljazair timur.
Pada tahun 1840, Abdul Qadir melanggar perjanjian Tafna dan kembali melakukan perlawanan terhadap Perancis. Namun karena kekuatan Perancis yang semakin besar, perjuangan Abdul Qadir terpaksa menelan kekalahan di tahun 1847 dan dengan kekalahan tersebut, Perancis pun berkuasa penuh atas Aljazair.
Mulla Muhammad Kashi Wafat
104 tahun yang lalu, tanggal 20 Sya’ban 1333 Hq, Mulla Muhammad Kashi wafat dalam usia 90 tahun dan dimakamkan di Isfahan.
Akhond Mulla Muhammad Kashani atau Kashi adalah seorang arif Syiah dan guru besar filsafat Sadr al-Mutaallihin. Pada awalnya beliau hidup di kota Kashan dan setelah itu pindah ke Isfahan dan tinggal di madrasah Sadr. Beliau menyempurnakan pendidikan agamanya baik aqli maupun naqli. Sedemikian terkenalnya beliau atas penguasaannya akan ilmu-ilmu keislaman, sehingga sulit dicari bandingannya di masa itu. Mulla Muhammad Kashi mengajar di madrasah Sadr, Isfahan pada tahun 1286. Beliau semasa dengan filsuf besar Jahangir Khan Qashqai.
Kuliah-kuliah yang diberikan oleh Mulla Muhammad Kashi begitu memiliki daya tarik, terutama saat mengajarkan filsafat yang digabungkan dengan irfan membuat banyak peminat filsafat bukan hanya dari pelbagai daerah Iran mendatangi Isfahan dan belajar kepadanya, tapi juga dari negara-negara lain.
Revolusi Rakyat Maroko Kalah
90 tahun yang lalu, tanggal 27 Mei 1926, revolusi rakyat muslim Maroko wilayah Rif dalam melawan penjajah Spanyol dan Perancis, mengalami kekalahan.
Pemimpin revolusi ini adalah Abdul Karim Rifi. Sebelumnya, selama bertahun-tahun Abdul Karim Rifi telah berjuang melawan Spanyol dan berhasil meraih kemenangan. Kemenangan Abdul Karim Rifi melawan Spanyol ini menimbulkan ketakutan di kalangan Perancis sehingga pada tahun 1924, tentara Perancis turun tangan untuk menolong Spanyol. Tujuannya adalah untuk mencegah meluasnya kemenangan Abdul Karim Rifi ke wilayah yang diduduki oleh Perancis.
Akhirnya, perjuangan Abdul Karim Rifi dan pasukannya mengalami kekalahan setelah terbunuhnya para pemimpin pasukan dan ribuan rakyat muslim kawasan Rif.
Pembukaan Periode Pertama Majelis Syura Islam Iran
36 tahun yang lalu, tanggal 7 Khordad 1359 Hs, Majelis Syura Islam atau Parlemen Iran periode pertama secara resmi dibuka dan memulai kegiatannya. Di Iran hari ini diperingati sebagai Hari Undang-Undang.
Pada hari itu untuk pertama kalinya dibukan Majelis Syura Islam Iran dan sejak saat itu di tahun 63, 67, 71, 75, 79 dan tahun 1383 dimulai acara pembukaan hari pertama kerja parlemen Iran periode kedua hingga ketujuh.
Acara pembukaan periode pertama Majelis Syura di Iran merupakan titik tolak penting di negara ini. Tugas Majelis adalah menetapkan undang-undang dan melakukan pengawasan langsung terhadap kinerja presiden dan kabinetnya. Anggota parlemen Iran berjumlah 290 orang yang dipilih secara langsung. Setiap kota, sesuai dengan populasi penduduknya memiliki kursi di parlemen.
Sementara minoritas agama di Iran, kebanyakan dari mereka dari sisi jumlah penduduk tidak memenuhi kuota, yakni 150 ribu orang untuk meraih satu kursi di parlemen, tapi mereka juga memiliki wakil di sana.
Pemilu periode pertama Majelis Syura Islam dilakukan hanya setahun setelah kemenangan Revolusi Islam Iran, tepatnya pada 24 Isfand 1358 Hs. Dalam pemilu legislatif ini diikuti oleh sekitar 11 juta orang.