Lintasan Sejarah 2 Juni 2016
Hari ini, Kamis tanggal 2 Juni 2016 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 26 Sya'ban 1437 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 13 Khordad 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.
Yazid bin Abdul Malik bin Marwan Meninggal Dunia
1332 tahun yang lalu, tanggal 26 Sya’ban 105 Hq, Yazid bin Abdul Malik bin Marwan meninggal dunia.
Pasca meninggalnya Umar bin Abdul Aziz, Yazid bin Abdul Malik bin Marwan menjadi khalifah tahun 101 Hq. Yazib bin Abdul Malik adalah seorang yang suka berfoya-foya dan minum minuman keras. Ia tidak punya perhatian untuk mengelola urusan negara Islam. Terlebih lagi ia memiliki seorang keluarga bernama Hajjaj al-Tsaqafi, seorang haus darah yang mengatur segala urusan.
Yazid bin Abdul Malik bin Marwan di akhir usianya membuktikan tidak dapat melepaskan diri dari hidup berfoya-foya. Tapi tidak beberapa lama orang yang dicintainya meninggal dan kehidupan megahnya berubah menjadi duka. Sang khalifah akhirnya hanya sempat hidup beberapa hari sepeninggal kekasihnya pada 26 Sya'ban 105 Hq.
Ibnu Fasih Wafat
682 tahun yang lalu, tanggal 26 Sya'ban 755 Hijriah, Ibnu Fasih, seorang ahli fiqih, penyair, dan sastrawan Arab, meninggal dunia di kota Damaskus.
Setelah menyelesaikan pendidikan di bidang fiqih dan sastra, ia mulai mempelajari ilmu-ilmu hadis hingga akhirnya mencapai kemampuan yang tinggi di bidang ini. Ibnu Fasih juga menciptakan syair dan menyusun tema-tema fiqih dalam bentuk syair. Ibnu Fasih juga banyak meninggalkan karya-karya penulisan dalam bahasa Arab.
Sri Susuhunan Pakubuwana VI Wafat
167 tahun yang lalu, tanggal 2 Juni 1849 Sri Susuhunan Pakubuwana VI wafat di Ambon pada umur 42 tahun.
Ia adalah raja Kasunanan Surakarta yang memerintah tahun 1823 – 1830. Ia dijuluki pula dengan nama Sinuhun Bangun Tapa, karena kegemarannya melakukan tapa brata. Sunan Pakubuwana VI telah ditetapkan pemerintah Republik Indonesia sebagai pahlawan nasional. Nama aslinya adalah Raden Mas Sapardan, putra Pakubuwana V yang lahir dari istri Raden Ayu Sosrokusumo, keturunan Ki Juru Martani. Ia dilahirkan pada tanggal 26 April 1807.
Pakubuwana VI naik takhta tanggal 15 September 1823, selang sepuluh hari setelah kematian ayahnya. Pakubuwana VI adalah pendukung perjuangan Pangeran Diponegoro, yang memberontak terhadap Kesultanan Yogyakarta dan pemerintah Hindia Belanda sejak tahun 1825. Namun, sebagai seorang raja yang terikat perjanjian dengan Belanda, Pakubuwana VI berusaha menutupi persekutuannya itu. Pangeran Diponegoro juga pernah menyusup ke dalam keraton Surakarta untuk berunding dengan Pakubuwana VI seputar sikap Mangkunegaran dan Madura. Ketika Belanda tiba, mereka pura-pura bertikai dan saling menyerang.
NAZI Jerman Menguasai Libya
74 tahun yang lalu, tanggal 2 Juni tahun 1942, Marshal Erwin Rommel, seorang komandan ahli strategi Operasi Anti Serangan Massal asal Jerman, memulai operasinya di utara Afrika.
Sebelumnya, tentara Inggris telah menyerbu kawasan Libya dan berhasil merampasnya dari tangan pasukan NAZI Jerman. Akan tetapi, lewat operasi yang berlangsung selama sebulan ini, tentara Jerman bukan saja mampu mengambil alih Libya, mereka bahkan mampu menaklukkan kawasan-kawasan lain di sekitar Libya seperti al-‘Ilmain dan Kota Pelabuhan Iskandariah di Mesir.
Kemenangan tentara Jerman ini sangat mengkhawatirkan pasukan sekutu yang diprediksikan bisa menduduki Terusan Suez. Untuk itulah, Inggris mengerahkan segenap kekuatannya ke kawasan tersebut dan akhirnya, pada bulan November tahun itu, tentara Inggris kembali berhasil memukul mundur tentara Jerman.
Pidato Imam Khomeini Sore Hari Asyura di Qom
53 tahun yang lalu, tanggal 13 Khordad 1342 Hs yang bertepatan dengan sore hari Asyura, Imam Khomeini ra menyampaikan pidato penting mengritik keras rezim Pahlevi.
Pada awal bulan Muharram 1383 Hq yang bertepatan dengan bulan Khordad 1342 Hs, Qom telah berubah menjadi pusat gerakan anti rezim Shah Pahlevi. Pada sore hari Asyura tahun itu yang bertepatan dengan tanggal 13 Khordad 1342 Hs, Imam Khomeini ra hadir di Madrasah Feizieh, Qom untuk menyampaikan pidato penting mengritik keras rezim Pahlevi dan mengungkap kejahatan rezim taghut dan tuannya Amerika dan Israel.
Rakyat yang hadir untuk mendengar pidato Imam sedemikian banyaknya, sehingga memenuhi seluruh halaman Madrasah Feizieh, komplek makam suci Hazrate Fatimah Maksumah as dan jalan-jalan di sekitarnya.
Menyusul pidato tersebut, pagi dini hari tanggal 15 Khordad 142 Hs, pasukan Shah mendatangi rumah Imam Khomeini ra di Qom secara diam-diam dan menahan beliau lalu dibawa ke penjara Tehran. Namun beberapa jam setelahnya rakyat Qom yang mengetahui peristiwa itu mulai turun ke jalan-jalan melakukan demonstrasi menuntut pembebasan segera Imam Khomeini ra, menentang kediktatoran Shah dan menuntut dibentuknya pemerintahan Islam.
Rezim Shah mereaksi demonstrasi itu dengan penembakan brutal ke arah rakyat yang menyebabkan banyak rakyat yang gugur syahid, tapi kebangkitan ini justru abadi dan tercatat dalam sejarah sebagai Kebangkitan 15 Khordad 1342 Hs.