Lintasan Sejarah 21 Juni 2022
Hari ini Selasa, 21 Juni 2022 bertepatan dengan 21 Dzulqadah 1443 Hijriah atau menurut kalender nasional Iran tanggal 31 Khordad 1401 Hijriah Syamsiah. Berikut kami hadirkan beberapa peristiwa bersejarah yang terjadi hari ini.
Wafatnya Alauddin Ali bin Nafis, Dokter Muslim Suriah
756 tahun yang lalu, tanggal 21 Dzulqadah 687 HQ, Ibnu Nafis, dokter muslim meninggal dunia.
Alauddin Ali bin Nafis, ilmuwan dan dokter muslim terlahir di Damaskus, Suriah. Ia belajar ilmu-ilmu keislaman di tempat kelahirannya.
Ilmu kedokteran dipelajarinya pada para ilmuwan terkenal di masanya. Setelah mengkaji dan melakukan penelitian yang mendalam di bidang kedokteran, akhirnya ia memiliki kemampuan luar biasa.
Salah satu buku pertama yang ditulisnya Ibnu Nafis merupakan penjelasan bagian anatomi dari buku al-Qanun, karya Ibnu Sina. Dalam bukunya ini, Ibnu Nafis menjelaskan sirkulasi darah di dalam paru-paru. Penemuan Ibnu Nafis ini dilakukannya tiga abad sebelum ilmuwan Eropa menyatakan telah menemukan sirkulasi darah. Oleh karenanya, berdasarkan pandangan sejumlah peneliti, keberhasilan para ilmuwan Eropa menemukan sirkulasi darah ini mengambil teori yang dibuat oleh Ibnu Nafis.
Buku al-Syamil merupakan karya lain Ibnu Nafis yang menjelaskan teknik pembedahan dan membahasnya secara luas.
Ir. Sukarno Meninggal
52 tahun yang lalu, tanggal 21 Juni tahun 1970, Ir. Ahmad Sukarno, proklamator kemerdekaan dan persiden pertama Republik Indonesia, meninggal dunia.
Ir. Sukarno dilahirkan pada tahun 1901 dan sejak masa muda telah aktif dalam perjuangan politik melawan penjajahan Belanda. Akibat aktivitas politiknya itu, Sukarno berkali-kali dipenjarakan oleh pemerintah Belanda. Pada era Perang Dunia Kedua, Indonesia diduduki oleh Jepang dan pada masa itu, Ir. Sukarno dan para pejuang kemerdekaan lainnya mengadakan berbagai persiapan untuk kemerdekaan Indonesia.
Ketika Perang Dunia Kedua berakhir dengan kekalahan Jepang, para pejuang Indonesia menggunakan kesempatan ini untuk mendeklarasaikan kemerdekaan Indoensia, pada tanggal 17 Agustus 1945. Namun, Belanda tidak menerima kemerdekaan ini dan berusaha kembali menjajah Indonesia dengan cara melakukan agresi militer ke Indonesia.
Selama empat tahun kemudian rakyat Indonesia berjuang mengusir penjajah dan akhirnya pada tahun 1949, Belanda mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia.
Doktor Chamran Gugur Syahid
41 tahun yang lalu, tanggal 31 Khordad 1360 HS, Doktor Mostafa Chamran gugur syahid di daerah Dehlaviyeh.
Doktor Mustafa Chamran, seorang ilmuwan Iran, gugur syahid dalam perang Irak-Iran. Berbeda dengan para ilmuwan umumnya yang melalui umurnya dalam penelitian dan dunia akademis, Doktor Chamran memilih keluar dari laboratoriumnya dan terjun ke medan tempur untuk membela tanah airnya.
Doktor Chamran dilahirkan tahun 1932 di Teheran dan menuntut ilmu di bidang teknik elektro di Universitas Teheran. Ia kemudian meraih beasiswa untuk meneruskan pendidikan ke Universtitas Berkeley, AS dan bahkan sempat diangkat menjadi dosen di Universitas Berkeley.
Namun ia kemudian memilih pergi ke Lebanon untuk bergabung dengan pejuang Lebanon, Musa Sadr dan mendirikan "Gerakan Kaum Tertindas" yang bertujuan membela bangsa Lebanon dan para pengungsi Palestina di sana yang ditindas oleh rezim Zionis.
Ketika Revolusi Islam Iran mencapai kemenangan tahun 1979, Doktor Chamran kembali ke Iran dan diangkat sebagai Menteri Pertahanan Republik Islam Iran. Ketika Irak menginvasi Iran pada tahun 1980, Doktor Chamran bergabung dengan para pejuang Iran untuk melindungi Republik Islam sampai akhirnya gugur syahid.