Aug 17, 2016 16:42 Asia/Jakarta

Hari ini, Rabu tanggal 17 Agustus 2016 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 14 Dzulqadah 1437 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 27 Mordad 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.

Ayatullah Dzun-Nuri Lahir

 

143 tahun yang lalu, tanggal 14 Dzulqadah tahun 1294 Hijriah, Ayatullah Dzun-Nuri, seorang ulama dan cendikiawan muslim terkemuka asal Tabriz, Iran, terlahir ke dunia.

 

Sejak kecil, beliau telah mempelajari ilmu-ilmu agama dan sastra Arab dan kemudian beliau melanjutkan pendidikan ke Najaf, Irak.

 

Setelah meraih derajat mujtahid, beliau kembali ke Iran dan mengabdikan hidupnya di bidang pengajaran dan penulisan buku. Di antara karya-karya yang ditinggalkan oleh Ayatullah Dzun-Nuri adalah buku berjudul “Qadha wa Syahadat” dan “Syarhi bar Urwatul Wutsqa”.

 

Kamalul Mulk Wafat

 

76 tahun yang lalu, tanggal 27 Mordad 1319 Hs, Mohammad Ghaffari yang terkenal dengan nama Kamalul Mulk, pelukis terkemuka Iran, meninggal dunia di kota Neishabour di timur laut Iran.

 

Mohammad Ghaffari belajar di sekolah seni "Darul-Funun" di Teheran dan mencapai kesuksesan besar di bidang seni lukis. Kamalul Mulk selama beberapa waktu bekerja pada Shah Naserudin Qajar dan menghasilkan sekitar 170 karya lukis yang sangat indah dan bernilai  tinggi.

 

Kemudian, untuk menambah penegetahuannya di bidang seni lukis, Kamalul Mulk melakukan perjalanan ke Eropa. Sepulang dari Eropa, dia mengajar seni lukis kepada para seniman Iran. Setelah Reza Khan mencapai kekuasaannya, Kamalul Mulk diasingkan ke Neishabour karena menolak melukis Shah Reza dan anaknya. Kamalul Mulk tinggal di Neishabour hingga meninggal dunia. Dia dikuburkan di pekuburan Athar Neishabouri. Karya-karyanya yang terkenal, antara lain, "Padang Karbala", "Pemburu", dan "Taman dan Kolam Surga".

 

Indonesia Merdeka

 

71 tahun yang lalu, tanggal 17 Agustus tahun 1945, rakyat Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya dari penjajahan Belanda.

 

Namun, karena Belanda tidak mengaku proklamasi ini, terjadilah perang kemerdekaan selama empat tahun. Pada tahun 1947, Belanda melakukan agresi militer pertama dan berhasil kembali menduduki sebagian wilayah Indonesia.

 

Pada bulan Januari tahun 1948, ditandatangani perjanjian gencatan senjata bernama "penjanjian Renville". Namun, bulan Desember tahun itu pula, kembali Belanda melakukan agresi kedua. Kemudian, atas tekanan PBB, di tahun 1949 Belanda bersedia menghentikan agresinya dan menyerahkan kedaulatan kepada bangsa Indonesia.

 

Surat Peringatan Ayatullah Kashani Kepada Mosaddegh

 

63 tahun yang lalu, tanggal 27 Mordad 1332 Hs, Ayatullah Kashani mengirim surat peringatan kepada Doktor Mosaddegh, Perdana Menteri Shah yang menginformasikan akan ada kudeta terhadap dirinya.

 

Doktor Mohammad Mosaddegh, Perdana Menteri Mohammad Reza Pahlevi, sejak beberapa bulan lalu sebelum terjadinya kudeta 28 Mordad 1332 Hs, berusaha menerapkan sebuah strategi untuk menggagalkan sebuah kudeta itu dengan sebuah kudeta sandiwara. Dengan demikian ia berharap bakal dikenang sebagai pahlawan nasional. Sementara itu kekuatan arogansi internasional dengan bantuan anasirnya di dalam negeri benar-benar punya niat untuk mengkudeta Mosaddegh.

 

Melihat hal itu, Ayatullah Kashani yang merasakan bahaya kudeta dengan dukungan pihak asing ini, berusaha keras untuk mencegah terjadinya kudeta agar maslahat negara tidak menjadi korban kepentingan asing. Demi menjalankan misinya ini, Ayatullah Kashani menghadapi berbagai rintangan, sementara para ulama yang dekat dengan beliau ditangkap oleh pemerintah. Anasir dalam negeri dan asing juga melihat Ayatullah Kashani sebagai penghalang tujuan mereka. Untuk itu mereka berusaha menghancurkan pribadi beliau dan boleh dikata upaya busuk ini jarang ditemui tandingannya dalam sejarah Iran. Dan hal itu dengan mudah mereka lakukan lewat Mosaddegh dan kroni-kroninya.

 

Padahal, saat meraih kekuasaan sebagai perdana menteri untuk kedua kalinya, Mosaddegh berutang budi pada dukungan rakyat yang dipimpin oleh Ayatullah Kashani. Ketika Ayatullah Kashani menasihatinya, ia justru menganggap beliau ikut campur dalam urusan politik dan berusaha mencegahnya. Sekalipun demikian, Ayatullah Kashani berusaha menghindar untuk berhadap-hadapan langsung dengan Mosaddegh demi maslahat negara. Untuk itu pada 27 Mordad 1332 Hs, sehari sebelum terjadinya kudeta terhadap Mosaddegh, Ayatullah mengirim surat kepadanya dan menginformasikan akan terjadi kudeta terhadapnya.

 

Tapi Mosaddegh yang menganggap rakyat di belakangnya, hanya memikirkan dirinya sendiri. Menurut Ayatullah Kashani, ia hanya berusaha meraih tujuannya menjadi seorang pahlawan. Mosaddegh pda akhirnya setelah memisahkan diri dari ulama dan rakyat, akibat kudeta 28 Mordad, ia bertanggung jawab atas kegagalan kebangkitan rakyat pada 30 Tir 1331. Sejak saat itu, negara Iran selama 25 tahun berada di tangan kekuasaan asing, khususnya Amerika.