Aug 18, 2016 13:54 Asia/Jakarta

Hari ini, Kamis tanggal 18 Agustus 2016 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 15 Dzulqadah 1437 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 28 Mordad 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.

Perang Ajnadin

 

1363 tahun yang lalu, tanggal 18 Agustus tahun 653, terjadilah perang Ajnadin antara kaum muslimin dan orang-orang Romawi.

 

Perang yang berlangsung di kawasan Ajnadin Palestina ini, dimenangkan oleh kaum muslimin, meskipun jumlah pasukan Romawi beberapa kali lipat dari pasukan muslim.

 

Pasukan Romawi setelah mengalami kekalahan besar, mundur sampai ke Damaskus, sehingga kawasan jajahannya yang sangat luas terpaksa dilepaskan.

 

Jengis Khan Meninggal

 

789 tahun yang lalu, tanggal 18 Agustus 1227, Jenghis Khan, Raja Mongolia meninggal dunia.

 

Jengis Khan dilahirkan sekitar tahun 1162 atau 1167. Ia dilahirkan dengan nama Temujin. Ia berhasil menyatukan bangsa Mongolia dan kemudian mendirikan Kekaisaran Mongolia dengan menaklukkan sebagian besar wilayah di Asia, termasuk utara Tiongkok (Dinasti Jin), Xia Barat, Asia Tengah, Persia, dan Mongolia.

 

Di akhir hidupnya, Jenghis Khan yang sudah berumur tua dipaksa untuk memimpin pasukan untuk menghancurkan kekhalifahan Abbasiah untuk kesekian kalinya. Namun ketidakcakapan para pasukan dan seringnya melakukan mabuk-mabukan memperlemah pasukan militernya.

 

Ia meninggal dalam perjalanan karena terjatuh dari kuda dan dirahasiakan oleh panglima-panglima setianya sampai musuh berhasil ditaklukan. Kuburan Jenghis Khan dirahasiakan agar tidak dirusak oleh orang lain.

 

Franz Josef I Lahir

 

186 tahun yang lalu, tanggal 18 Agustus 1830, Franz Josef I, Kaisah Austria lahir.

 

Franz Josef I merupakan Kaisar Austria dan Raja Bohemia dari tahun 1848 hingga 1916, serta Raja Apostolik Hongaria dari 1867 hingga 1916. Ia berasal dari Dinasti Habsburg.

 

Saat Perang Dunia I pecah, Austria-Hongaria bersekutu dengan Jerman, namun tentara mereka ternyata tidak memiliki persiapan dan peralatan yang memadai. Salah satu penyebabnya adalah sikap Franz Josef yang konservatif. Ia menolak saran agar para tentara mendapatkan persenjataan yang baru.

 

Ia meninggal di Wina pada 21 November 1916 dalam usia 86 tahun.

 

Kelahiran Ayatullah Mirza Hossein Naini

 

161 tahun yang lalu, tanggal 15 Dzulqadah 1276 Hq, Ayatullah Muhammad Hossein Naini, seorang ulama besar islam terlahir ke dunia.

 

Ayatullah Muhammad Hossein Naini yang lebih dikenal dengan Mirza Naini setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, melanjutkan pendidikan ke Najaf, Irak, hingga mencapai derajat mujtahid. Ayatullah Naini menguasai berbagai bidang ilmu, seperti matematika, hikmah, filsafat, irfan, dan fiqih. Keluasan ilmunya membuat Ayatullah Naini memiliki tempat istimewa di kalangan para ilmuwan Najaf saat itu.

 

Mirza Naini meninggalkan karya penulisan. Karya beliau yang terpenting berjudul "Tanbihul Ummah" yang membahas berbagai bentuk pemerintahan despotik dan kewajiban para ulama dalam menghadapi pemerintahan seperti ini. Buku ini meningkatkan perasaan anti-despotisme di tengah rakyat Iran dan amat berperan dalam menggalang revolusi konstitusional Iran pada periode Dinasti Qajar.

 

Ayatullah Naini juga menyusun buku ilmu Ushul Fiqih dengan bahasa yang sederhana dan jauh dari kerumitan.

 

Kudeta Atas Pemerintahan Mosaddegh di Iran

 

63 tahun yang lalu, tanggal 28 Mordad 1332 Hs, terjadi sebuah kudeta terhadap pemerintahan Dr. Mosaddegh di Iran. Dengan digulingkannya Mosaddegh, Shah Muhammd Reza Pahlevi yang tiga hari sebelum kudeta melarikan diri ke Italia, kembali menduduki kekuasaannya di Iran. Kudeta ini didalangi oleh CIA dan bekerja sama dengan Inggris dan memanfaatkan perpecahan yang terjadi di antara para poltikus dan rakyat.

 

Sebelum terjadinya kudeta ini, rakyat muslim Iran berhasil menghentikan penguasaan Inggris atas industri minyak Iran dan menasionalisasi industri minyak tersebut. Namun, kebangkitan rakyat ini menjadi lemah karena terjadinya pertentangan antara para pemimpin politik dan ruhaniwan.

 

Dalam situasi seperti itu, komandan militer Tehran mengumumkan pelarangan segala bentuk demostrasi. Namun, sekelompok preman yang sebelumnya sudah diorganisasi bersama dengan pasukan Shah turun ke jalan dan menyerang pusat-pusat pemerintahan. Kemudian, Zahedi, seorang perwira pro-AS mengumumkan jatuhnya pemerintahan Mosaddegh dan mengangkat dirinya sebagai perdana menteri melalui radio.

 

Setelah kudeta, Shah Reza kembali berkuasa dan menerapkan politik yang amat menekan rakyat dan memberlakukan sensor yang sangat ketat. Hasil lain dari kudeta ini adalah meningkatnya pengaruh AS  di Iran dan mengurangi pengaruh Inggris.