Lintasan Sejarah 19 Agustus 2016
Hari ini, Jumat tanggal 19 Agustus 2016 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 16 Dzulqadah 1437 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 29 Mordad 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.
Rashid Al-Din bin Muhammad Al-Watwat Meninggal Dunia
864 tahun yang lalu, tanggal 16 Dzulqadah 573 Hq, Rashid al-Din al-Watwat meninggal dunia pada usia 93 tahun.
Rashid al-Din bin Muhammad bin al Djalil al-Umari yang lebih dikenal dengan Rashid al-Din al-Watwat lahir pada tahun 480 Hq di kota Balkh. Rashid al-Din masih keturunan dari Khalifah Umar bin Khattab.
Ia memulai pendidikannya di Madrasah Nizhamiah, Balkh dam berguru kepada Abu Saad al-Harawi. Setelah menguasai bahasa Persia dan Arab, Rashid al-Din kemudian pindah ke kota Kharazm. Kharazm waktu itu dipimpin oleh Abu al-Muzhaffar Alaa al-Daulah. Di awal masa pemerintahannya, Rashid al-Din al-Watwat mengabdi padanya hingga akhir hayatnya.
Rashid al-Din al-Watwat menguasai dua bahasa Arab dan Persia dengan sangat baik yang membuat ia disebut sebagai Dzul Lisanain (yang menguasai dua bahasa). Al-Watwat diakui kemampuannya dalam memilih kata dan menyusunnya dengan indah baik dalam bahasa Persia maupun bahasa Arab. Karya-karyanya antara lain, "Diwan Asy'ar Parsi", "Rasail al-Arabi", "Hadaiq al-Sahar fi Daqaiq al-Syi'r", "Mansyaat Farsi" dan lain-lain.
Taiwan Jatuh ke Jepang
121 tahun yang lalu, tanggal 19 Agustus tahun 1895, Cina setelah kalah dalam perang melawan Jepang, terpaksa menyerahkan kepulauan Taiwan kepada Jepang berdasarkan perjanjian Simonoseki.
Namun, ketika akhirnya Jepang kalah dalam Perang Dunia Kedua, Taiwan dikembalikan kepada Cina. Kemudian, di dalam negeri Cina terjadi perang internal antara kaum komunis dibawah pimpinan Mao Tse- Tung dengan pasukan pemerintah di bawah pimpinan Chiang Kai Sek.
Perang ini berakhir dengan kemenangan kaum komunis dan Chiang Kai Sek serta pasukannya dengan perlindungan AS mendirikan pemerintahan di Taiwan. Meskipun hingga kini, AS selalu melindungi Taiwan, namun Cina terus berusaha untuk mengembalikan Taiwan ke dalam wilayah kekuasaannya.
Afganistan Mencapai Kemerdekaan
97 tahun yang lalu, tanggal 19 Augustus 1919, Afganistan mencapai kemerdekaannya.
Pada masa lalu, Afganistan berada dalam kekuasaan berbagai suku dan pemerintahan. Pada tahun 1747, Ahmad Shah Durrani untuk pertama kalinya mendeklarasikan kemerdekaan negara Afganistan. Namun hampir seratus tahun kemudian, Inggris mengintervensi urusan Afganistan demi melestarikan imperialismenya di India.
Intervensi ini berujung pada pecahnya perang pertama antara Afganistan dan Inggris. Dalam perang ini, Inggris menderita kerugian besar dan terpaksa mundur dari negara itu. Meski demikian, Inggris tetap saja menebarkan pengaruhnya ke Afganistan hingga pecahnya perang kedua. Perang ini berakhir dengan penandatanganan pakta imperialis pada 1905.
Pada tahun 1919, Amanullah Khan menjadi pemimpin Afganistan dan membatalkan semua perjanjian dengan Inggris serta mendeklarasikan kemerdekaan negaranya. Namun langkahnya itu memicu kemarahan Inggris dan terjadilah perang ketiga antara Afganistan dan Inggris yang berakhir dengan kemenangan Afganistan. Tetapi konspirasi Inggris berhasil menyingkirkan Amanullah Khan dari kedudukannya.
Afganistan berbatasan dengan Iran di sebelah barat, Pakistan di selatan dan timur, Tajikistan, Turkmenistan, Uzbekistan di utara, dan Republik Rakyat Cina di ujung timur. Afganistan juga berbatasan dengan Kashmir, wilayah yang dipersengketakan oleh India dan Pakistan.
Gencatan Sejata Iran-Irak
28 tahun yang lalu, tanggal 29 Mordad 1367 Hs, diumumkan gencatan sejata antara Iran dan Irak oleh PBB setelah delapan tahun berlangsung perang yang dipaksakan.
Gencatan senjata ini merupakan salah satu poin dari resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 598. Setelah revolusi Islam menang di Iran, kekuatan-kekuatan besar dunia merasa bahwa kepentingannya di Iran terancam. Mereka juga mengkhawatirkan terjadinya kebangkitan rakyat di kawasan Timur Tengah. Oleh karena itu, mereka melakukan berbagai upaya untuk menggulingkan pemerintahan Islam Iran. Akhirnya, Saddam Husain didorong maju oleh Barat, terutama AS, untuk menyerang Iran.
Pada tahun 1980, Irak memulai serangannya terhdap Iran. PBB kemudian mengeluarkan resolusi agar kedua pihak melakukan gencatan senjata. Namun, dalam resolusi itu tidak disebutkan sama sekali kecaman atas agresi Irak dan tuntutan agar pasukan Irak mundur sesegera mungkin dari wilayah Iran. Setelah akhirnya pasukan Iran dengan penuh keimanan dan kekuatan memukul mundur Irak, PBB terpaksa mengeluarkan resolusi nomor 598 tersebut dan gencatan senjata kedua negara resmi diumumkan.