Aug 28, 2016 06:05 Asia/Jakarta

Hari ini, Ahad tanggal 28 Agustus 2016 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 25 Dzulqadah 1437 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 7 Shahrivar 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.

Nabi Muhammad Saw Keluar dari Madinah untuk Melakukan Haji Wada

 

1427 tahun yang lalu, tanggal 25 Dzulqadah 10 Hq, Nabi Muhammad Saw keluar dari Madinah menuju Mekah untuk melakukan Haji Wada.

 

Pada bulan Dzulqadah tahun kesepuluh Hijrah, Nabi Muhammad Saw mengumumkan kepada penduduk Madinah dan kabilah-kabilah yang tinggal di sekitar Madinah bahwa beliau akan melakukan ibadah haji ke Mekah. Mendengar pengumuman itu, umat Islam segera mempersiapkan diri untuk berangkat bersama beliau ke Mekah. Pada tanggal 25 Dzulqadah 10 Hq, Nabi Muhammad Saw bersama para sahabat bergerak dari Madinah ke Mekah.

 

Dalam perjalanan ini, Nabi membawa seluruh isteri dan anaknya Sayidah Fathimah az-Zahra as. Sementara Imam Ali as yang sebelum ini diperintahkan berdakwah ke Yaman juga diminta agar bergabung dengan beliau dalam Haji Wada. Karena haji tahun itu adalah haji terakhir beliau. Itulah mengapa haji terakhir itu disebut Haji Wada yang berarti haji perpisahan.

 

Johann Wolfgang Goethe Lahir

 

267 tahun yang lalu, tanggal 28 Agustus 1749, Johann Wolfgang Goethe, penyair dan penulis terkemuka Jerman, terlahir ke dunia.

 

Di kota kelahirannya, Frankfurt, dia mengenal musik, lukisan, dan berbagai bahasa. Di kota itu pula Goethe menyelesaikan pendidikannya di bidang hukum. Goethe merupakan salah satu penyebar sastra Jerman, namun dia tidak memiliki aliran sastra tertentu. Dia sangat menyukai sastra Iran terutama syair-syair Hafez, seorang penyair terkemuka Iran. Dia juga memiliki ketertarikan yang amat besar terhadap al-Quran dan Islam.

 

Dalam hal ini Goethe menyatakan, "Pada awalnya, karena rasa ragu-ragu, kami menolak al-Quran. Namun kemudian kitab ini menarik perhatian kami. Yang amat mengejutkan kami adalah bahwa kami tunduk pada prinsip dan hukum ilmiah di dalam kitab itu. Saya meyakini bahwa kitab dan ajarannya yang mendalam dan membebaskan manusia ini segera akan mendapat tempat di seluruh dunia dan akan menajdi poros dunia."

 

Di antara karya-karya Goethe yang terkenal adalah "Kumpulan Syair Timur", "Faust", dan "Melodi  Rumi". Sastrawan Jerman ini meninggal pada tahun 1832.

 

Mirza Farahani MeninggalDunia

 

200 tahun yang lalu, tanggal 25 Dzulqadah 1237 Hq, Mirza Isa Ghaem-e Magham-e Awwal, yang terkenal dengan nama Mirza Bozourgh Farahani, seorang politisi dan sastrawan terkenal Iran pada era Qajar, meninggal dunia di kota Tabriz, barat laut Iran.

 

Selama masa hidupnya, Mirza Farahani banyak melakukan usaha untuk memajukan Iran dan melakukan reformasi di negara tersebut. Buku-buku yang ditulis oleh Mirza Farahani di antaranya berjudul "Ahkamul Jihad wa Asbabur-rashad".

 

Leo Tolstoy Lahir

 

188 tahun yang lalu, tanggal 28 Agustus 1828, Leo Tolstoy, penulis dan sastrawan Rusia terlahir ke dunia.

 

Awalnya, Tolstoy bergabung dalam Angkatan Bersenjata Kaukasus dan buku pertamanya yang berjudul "Anak" ditulisnya dalam periode ini. Beberapa lama kemudian, Tolstoy keluar dari militer lalu menghabiskan waktunya untuk melakukan penelitian dan penulisan.

 

Di antara karya-karya Tolstoy yang terpenting adalah "Perang dan Damai", "Orang-Orang Kazak", dan "haji Murad". Penulis Rusia ini meninggal pada tahun 1910.

 

Ayatullah Sayid Mohammad Taqi Khansari Wafat

 

64 tahun yang lalu, tanggal 7 Shahrivar 1331 Hs, Ayatullah Sayyid Muhammad Taqi Khansari, salah seorang ulama besar dan marji taklid  asal Iran, meninggal dunia.

 

Ayatullah Sayyid Muhammad Taqi Khansari dilahirkan pada tahun 1888 di kota Khansar, Iran tengah. Beliau mempelajari ilmu fiqih, ushul fiqih, dan filsafat dari ulama-ulama terkemuka hauzah ilmiah Najaf, Irak.

 

Di Irak, bersama-sama dengan rakyat negeri itu, Ayatullah Khansari ikut berjuang dalam melawan imperialisme Inggris. Akibatnya, beliau ditangkap oleh tentara Inggris dan dibuang ke Singapura. Setelah empat tahun berada di pembuangan, beliau kembali ke Iran dan mengajar di hauzah ilmiah Qom. Beberapa lama kemudian, akhirnya beliau mencapai derajat marjaiyah.

 

Di Iranpun, Ayatulah Khansari meneruskan perjaungannya melawan imperialisme Inggris di Iran dan mendukung gerakan rakyat Iran dalam menasionalisasi minyak Iran.