Sep 07, 2016 07:22 Asia/Jakarta

Hari ini, Rabu tanggal 7 September 2016 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 5 Dzulhijjah 1437 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 17 Shahrivar 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.

Reaumur Meninggal Dunia

 

333 tahun yang lalu, tanggal 7 September 1683, Rene Antoine Ferchault de Reaumur, fisikawan dan matematikawan Perancis, terlahir ke dunia.

 

Pada usianya ke 20, Reaumur telah merilis karya di bidang teknik dan pada usianya ke 25 tahun, dia telah menjadi anggota akademi Perancis. Pada waktu yang relatif bersamaan dengan Fahrenheit, dia melakukan penelitian mengenai suhu udara dan pada tahun 1730, dia berhasil menciptakan sebuah alat pengukur suhu.

 

Reaumur meninggal dunia  pada tahun 1757.

 

Brazil Merdeka

 

194 tahun yang lalu, tanggal 7 September 1822, Brazil meraih kemerdekaannya dari Portugis dan hari ini dijadikan Hari Nasional negara ini.

 

Portugis menjajah Brazil sejak tahun 1494 dan menjadikan rakyat kulit merah negara ini menjadi budak. Portugis bahkan juga mendatangkan jutaan budak kulit hitam dari Afrika untuk dijadikan pekerja di bidang pertanian. Pada awal abad ke 19, setelah Portugis diduduki oleh Napoleon Bonaparte, Kaisar Portugis dan keluarganya melarikan diri ke Brazil dan sejak itu situasi di negara ini semakin tidak tenteram.

 

Setelah kekalahan Napoleon, Kaisar Portugis kembali ke negerinya namun, anak laki-lakinya tetap tinggal dan menjadi raja pengganti di Brazil. 14 tahun kemudian, raja pengganti ini mengumumkan kemerdekaan Brazil dari tangan Portugis dan menjadikan dirinya sebagai kaisar Brazil.

 

Pada tahun 1889, sistem pemerintahan Brazil diubah menjadi republik.

Brazil yang memiliki luas wilayah 8,5 juta kilometer persegi ini merupakan kawasan yang luas di  bagian tengah dan timur Amerika Selatan. Negara ini terletak di tepi samudera Atlantik dan berbatasan dengan Argentina, Paraguay, dan Uruguay.

 

Kelahiran Muhammad Al-Ghazali, Ilmuwan Mesir

 

102 tahun yang lalu, tanggal 5 Dzulhijjah 1335 Hq, Sheikh Muhammad al-Ghazali al-Saqqa dilahirkan di kampung Nakla al-‘Inab, provinsi Buhaira yang bertepatan dengan tanggal 22 September 1917 M.

 

Sheikh Muhammad al-Ghazali dibesarkan dalam kalangan keluarga yang berpegang teguh dengan ajaran agama. Ayahnya Ahmad al-Saqqa seorang pedagang kampung yang sangat mencintai Rasulullah Saw.

 

Setelah menyelesaikan sekolah menengahnya di Iskandariah, Sheikh Muhammad Ghazali melanjutkan pendidikannya di Universitas al-Azhar pada tahun 1937 di bidang dakwah dan bahasa Arab. Ia lulus dari al-Azhar pada tahun 1941 dan kemudian mengajar di sana. Beberapa tahun kemudian ia menerima gelar profesor dari al-Azhar dan sempat dianugerahkan Award Raja Faisal atas sumbangsihnya di bidang akademik dan dakwah.

 

Pemikiran al-Ghazali banyak persamaannya dengan corak pemikiran Sheikh Hasan al-Banna, pengasas gerakan Ikhwan al-Muslimin. Hal ini dikarenakan kedua tokoh ini punya hubungan yang erat.

 

Karya tulis Sheikh Ghazali mencapai 94 buku yang banyak berisikan mengenai penafsirannya terhadap Islam dan al-Quran dalam konteks modern. Tidak dapat dipungkiri Sheikh Ghazali mempunyai kontribusi besar demi kebangkitan iman Islam di Mesir selama dekade terakhir.

 

Jumat Berdarah dan Pembantaian di Bundaran Shohada Tehran

 

38 tahun yang lalu, tanggal 17 Shahrivar 1357 Hs, Jumat pagi Jenderal Gholamali Oveisi, Panglima Militer Tehran mengumumkan kondisi darurat militer kepada warga Tehran dan sekitarnya lewat radio.

 

Masyarakat yang tidak mendapat informasi tentang kondisi darurat militer ini, sejak jam 6 pagi turun ke jalan-jalan untuk melakukan demonstrasi di hari keempat berturut-turut. Tempat berkumpulnya para demonstran adalah Bundaran Zaleh (sekarang bernama Bundaran Shohada).

 

Ketika warga tiba di jalan-jalan yang menuju tempat berkumpul, tiba-tiba mereka menyaksikan tank dan kendaraan lapis baja lainnya disertai tentara yang bersenjatakan senapan otomatis telah menanti mereka. Para demonstran benar-benar tidak siap dengan keadaan ini. Sementara tentara yang ada di sana setelah mengeluarkan beberapa kali peringatan langsung menembaki warga.

 

Jenazah terlihat di mana-mana di sekitar Bundaran Shohada dan darah tergenang di sisi jalan. Pada hari itu, kaki tangan Shah Pahlevi tidak membiarkan para demonstran berhamburan meninggalkan tempat berkumpul, tapi mengejar mereka hingga ke rumah-rumah warga yang berada di sekitar peristiwa pembantaian itu. Rezim Shah mengumumkan bahwa jumlah seluruh syuhada sekitar 58 orang dan aksi demonstrasi ini dikendalikan dari luar negeri. Sekalipun jumlah pasti dari korban pembantaian Jumat Kelabu ini tidak pernah jelas hingga sekarang, tapi dapat dipastikan jumlah korban lebih dari 4 ribu orang.

 

Sejak peristiwa itu, tanggal 17 Shahrivar diperingati sebagai Hari Jumat Berdarah Tehran.